Loading...
    Banner Artikel Mitos dan Fakta MPASI yang Perlu Orang Tua Tahu
    Nutrisi

    Mitos dan Fakta MPASI yang Perlu Orang Tua Tahu

    Disusun oleh: Tim Penulis

    Diterbitkan: 15 Januari 2020

    Diperbarui: 30 Maret 2026


    • Mengapa Banyak Mitos Beredar Seputar MPASI?
    • Apa Dampak Jika Mitos MPASI Diikuti Tanpa Verifikasi?
    • Mitos dan Fakta MPASI yang Paling Sering Dipercaya
    • Bagaimana Cara Menyikapi Nasehat MPASI yang Berbeda-beda?
    • Prinsip Dasar MPASI yang Perlu Dipegang Orang Tua
    • Kapan Orang Tua Perlu Konsultasi Soal MPASI?

    Mitos dan fakta MPASI bisa saja membingungkan Mama Papa sehingga penting untuk selalu mengecek kebenaran seputar makanan bagi bayi. Cek mitos dan fakta yang banyak dipercayai!

    Mengapa Banyak Mitos Beredar Seputar MPASI?

    Keputusan Mama dalam memberikan MPASI seringkali dipengaruhi oleh norma sosial dan budaya. Misalnya yang bersumber dari saran keluarga, teman, atau lingkungan sekitar.

    Selain itu, Mama juga mungkin memperoleh informasi seputar MPASI dari berbagai media online. 

    Sayangnya, tidak semua informasi tersebut berbasis ilmiah dan relevan dengan kondisi saat ini. Untuk itu, masih banyak mitos dan fakta MPASI yang perlu dicari tahu kebenarannya.

    Apa Dampak Jika Mitos MPASI Diikuti Tanpa Verifikasi?

    Mengikuti mitos MPASI tanpa memastikan kebenarannya bisa membuat bayi berisiko kekurangan nutrisi penting. Terlebih jika Mama banyak membatasi asupan makanannya. 

    Selain itu, saluran cernanya juga bisa bermasalah jika Mama memercayai bahwa MPASI dini adalah yang terbaik. Hal ini bisa berujung pada kesulitan makan atau Gerakan Tutup Mulut.

    Jika sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, pada akhirnya Mama dan Papa akan merasa sangat bersalah karena percaya pada mitos yang belum terverifikasi.

    Mitos dan Fakta MPASI yang Paling Sering Dipercaya

    Berikut beberapa mitos dan fakta MPASI yang paling sering dipercaya. Yuk, cek kebenarannya, Ma!

    1. Mitos: MPASI Harus Dimulai Sebelum 6 Bulan

    Jika bayi menyusu dengan cukup dan sering, pemberian makan sebelum bayi mencapai usia 6 bulan tidaklah diperlukan. Bahkan, bisa berisiko bagi kesehatannya, Ma.

    Memberikan makanan selain ASI sebelum usia 6 bulan dapat meningkatkan risiko diare yang menyebabkan berat badan turun drastis, tubuh lemas, hingga mengancam nyawa.

    Jadi, berikanlah MPASI ketika si Kecil berusia 6 bulan, ketika saluran cerna dan kemampuan makannya sudah lebih siap untuk menerima makanan atau minuman selain ASI. 

    2. Mitos: MPASI Pertama Harus Buah

    MPASI pertama tidak harus buah, karena si Kecil membutuhkan berbagai macam makanan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

    Pastikan juga untuk memberikan MPASI yang mengandung zat besi, karena cadangan zat besi bayi mulai menurun dan ASI saja tidak lagi cukup memenuhi kebutuhan hariannya. 

    Misalnya dengan menambahkan daging sapi, daging kambing, hati ayam, hati sapi, bayam, atau brokoli.

    Baca Juga: 15 Makanan Bayi 6 Bulan untuk Kecerdasan Otak

    3. Mitos: Bayi Tidak Boleh Makan Telur atau Ikan

    Tidak sedikit orang tua yang takut memberikan menu MPASI berupa telur atau ikan, karena bisa menyebabkan alergi. 

    Padahal, bayi yang diperkenalkan dengan lebih banyak variasi makanan alergen sejak dini justru memiliki risiko sensitisasi alergi (IgE) yang lebih rendah pada usia 12 bulan.

    Artinya, telur dan ikan boleh diperkenalkan sejak awal MPASI secara bertahap dan dengan cara yang aman.

    4. Mitos: MPASI Harus Selalu Diblender Halus

    Pada usia sekitar 6 bulan, bayi memang lebih mudah makan makanan bertekstur halus seperti puree untuk menghindari risiko tersedak dan muntah. 

    Namun, seiring kemampuan mengunyah dan motorik mulut berkembang, tekstur perlu ditingkatkan dari halus menjadi makanan yang lebih kental, hingga bertekstur lebih kasar. 

    Pengenalan variasi tekstur membantu bayi belajar mengunyah, mengembangkan keterampilan motorik halus, serta menerima lebih banyak jenis makanan.

    5. Mitos: Bayi Gemuk = MPASI Berhasil

    Bayi gemuk merupakan tanda MPASI berhasil tidak sepenuhnya benar lho, Ma. Menurut Kementerian Kesehatan RI, bayi yang tampak gemuk belum tentu sehat.

    Hal ini karena kelebihan berat badan dapat menunjukkan penumpukan lemak dan meningkatkan risiko penyakit di masa depan.

    Penilaian pertumbuhan bayi sebaiknya tidak hanya memantau berat badan, tetapi juga mencakup panjang/tinggi, rasio berat-terhadap-panjang, hingga lingkar kepala.

    Baca Juga: Panduan Lengkap MPASI 6 bulan dan Menu Pertamanya

    Bagaimana Cara Menyikapi Nasehat MPASI yang Berbeda-beda?

    Mama perlu menyaring informasi terkait mitos dan fakta MPASI. Terlebih jika informasi tersebut hanya berbasis pengalaman pribadi orang lain atau “katanya”. Utamakanlah yang memiliki bukti ilmiah.

    Itu sebabnya tidak semua saran MPASI harus diikuti. Mama berhak memilih pendekatan yang paling aman dan sesuai dengan kondisi bayi selama memberikan MPASI.

    Tentu dengan tetap mempertimbangkan rekomendasi tenaga kesehatan profesional seperti dokter anak atau ahli gizi.

    Butuh insight soal MPASI dari ahli di tengah kesibukan Mama? Jangan ragu untuk diskusi langsung dengan Nutriclub Expert Advisor – tim ahli terpercaya di bidang nutrisi, parenting, dan tumbuh kembang anak. Hadir 24/7 untuk bantu Mama, gratis dan tanpa perlu buat janji.

    Prinsip Dasar MPASI yang Perlu Dipegang Orang Tua

    Setelah mengetahui mitos dan fakta MPASI, Mama Papa perlu memegang prinsip dasar MPASI dari Kemenkes RI di bawah ini:

    1. Tepat Waktu

    MPASI sebaiknya diberikan ketika ASI saja sudah tidak cukup memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, yaitu sekitar usia 6 bulan. 

    Pemberian makanan pada waktu yang tepat membantu bayi mendapatkan nutrisi tambahan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan.

    2. Adekuat

    MPASI harus mampu memenuhi kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral bayi. 

    Ini berarti makanan yang diberikan tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga bergizi agar mendukung perkembangan otak, tulang, dan sistem imun.

    3. Aman dan Higienis

    Proses persiapan dan pembuatan MPASI harus dilakukan dengan cara, bahan, dan alat yang aman serta bersih. 

    Kebersihan ini penting untuk mencegah infeksi atau gangguan pencernaan pada bayi.

    4. Diberikan Secara Responsif 

    Orang tua perlu memperhatikan tanda-tanda lapar seperti bayi menunjukkan minat pada makanan, dan tanda kenyang seperti menolak makanan atau menutup mulut. 

    Responsif terhadap sinyal ini membantu bayi belajar mengatur porsi makan sendiri dan membentuk kebiasaan makan sehat.

    Baca Juga: Manfaat Keju untuk MPASI, Jenis yang Aman, dan Ide Resepnya

    Kapan Orang Tua Perlu Konsultasi Soal MPASI?

    Mama dan Papa sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika ragu soal mitos dan fakta MPASI.

    Bila bayi menunjukkan masalah seperti muntah, diare, reaksi alergi, atau pertumbuhan yang lambat hingga BB sulit naik, segera konsultasikan ke dokter. 

    Konsultasi membantu orang tua memahami waktu yang tepat, tekstur, dan jenis makanan, serta mencegah risiko kesehatan akibat pemberian MPASI terlalu awal.

    Pengenalan MPASI pertama bukan sekadar soal menu, tapi soal tepat tekstur, porsi, jadwal, dan respons bayi. Daftar sebagai member Nutriclub sekarang dan dapatkan akses panduan MPASI berbasis ahli, inspirasi menu sesuai usia, serta dukungan nutrisi yang telah expert-verified untuk membantu Mama menjalani fase MPASI dengan lebih percaya diri.

    Informasi yang Wajib Mama Ketahui

    Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Mama
    1. Harrison, M., Brodribb, W., & Hepworth, J. (2016). A qualitative systematic review of maternal infant feeding practices in transitioning from milk feeds to family foods. Maternal & Child Nutrition, 13(2), e12360. https://doi.org/10.1111/mcn.12360
    2. Scott, A. G., Hunter, S. C., Feo, R., Golley, R. K., Dunn, K., & Johnson, B. J. (2026). Exploring the Social Norms, Their Development, and Influence on Complementary Feeding in High- and Upper-Middle-Income Countries: A Systematic Review. Nutrition Reviews. https://doi.org/10.1093/nutrit/nuaf299
    3. Denniss, E., Lindberg, R., & McNaughton, S. A. (2023). Quality and accuracy of online nutrition-related information: a systematic review of content analysis studies. Public Health Nutrition, 26(7), 1–13. https://doi.org/10.1017/S1368980023000873
    4. World Health Organization. (2023). Complementary feeding. Www.who.int. https://www.who.int/health-topics/complementary-feeding#tab=tab_1
    5. UNICEF. (2024). Feeding your baby: When to start with solid foods. Www.unicef.org. https://www.unicef.org/parenting/food-nutrition/feeding-your-baby-when-to-start-solid-foods
    6. NHS. (2020, December). Your baby’s First Solid Foods. Nhs.uk. https://www.nhs.uk/baby/weaning-and-feeding/babys-first-solid-foods/
    7. CDC. (2024, December 16). Foods and Drinks to Encourage. Infant and Toddler Nutrition. https://www.cdc.gov/infant-toddler-nutrition/foods-and-drinks/foods-and-drinks-to-encourage.html
    8. Van Elswyk, M. E., Murray, R. D., & McNeill, S. H. (2021). Iron-Rich Complementary Foods: Imperative for All Infants. Current Developments in Nutrition, 5(10). https://doi.org/10.1093/cdn/nzab117
    9. Dr. Cut Nurul Hafifah, Sp.A. (2017, July 3). IDAI | Pastikan Bayi Anda Cukup Zat Besi? Www.idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pastikan-bayi-anda-cukup-zat-besi
    10. Hua, M.-C., Yao, T.-C., Chen, C.-C., Tsai, M.-H., Liao, S.-L., Lai, S.-H., Chiu, C.-Y., Su, K.-W., Yeh, K.-W., & Huang, J.-L. (2017). Introduction of various allergenic foods during infancy reduces risk of IgE sensitization at 12 months of age: a birth cohort study. Pediatric Research, 82(5), 733–740. https://doi.org/10.1038/pr.2017.174
    11. CDC. (2025, March 20). Tastes and Textures. Infant and Toddler Nutrition. https://www.cdc.gov/infant-toddler-nutrition/foods-and-drinks/tastes-and-textures.html
    12. CDC. (2025, March 20). Tastes and Textures. Infant and Toddler Nutrition. https://www.cdc.gov/infant-toddler-nutrition/foods-and-drinks/tastes-and-textures.html
    13. Kemenkes. (2017, January 20). Bayi Gendut, Lucu Tapi Belum Tentu Sehat. Kemkes.go.id. https://kemkes.go.id/eng/bayi-gendut-lucu-belum-tentu-sehat
    14. American Academy of Pediatrics. (2022, September 6). Term Infant Growth Tools. Www.aap.org. https://www.aap.org/en/patient-care/newborn-and-infant-nutrition/newborn-and-infant-nutrition-assessment-tools/term-infant-growth-tools/
    15. Spyreli, E., McKinley, M. C., & Dean, M. (2021). Parental considerations during complementary feeding in higher income countries: a systematic review of qualitative evidence. Public Health Nutrition, 24(10), 2834–2847. https://doi.org/10.1017/s1368980021001749
    16. Kemenkes. (2024). Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Kemkes.go.id. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3866/yuk-cermati-mpasi-anak
    17. CDC. (2024, December 16). Frequently Asked Questions (FAQs). Infant and Toddler Nutrition. https://www.cdc.gov/infant-toddler-nutrition/faqs/index.html
    18. CDC. (2024, December 3). When, What, and How to Introduce Solid Foods. Infant and Toddler Nutrition. https://www.cdc.gov/infant-toddler-nutrition/foods-and-drinks/when-what-and-how-to-introduce-solid-foods.html
    19. Chiang, K. V. (2023). Timing of Introduction of Complementary Foods — United States, 2016–2018. MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report, 69. https://doi.org/10.15585/mmwr.mm6953a1
    20. Puspitorini, P., Lestari, P., & Paramashanti, B. A. (2021). The risk of inappropriate timing of complementary foods introduction is increased among first-time mothers and poor households. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 17(3), 96. https://doi.org/10.22146/ijcn.53443
    21. American Academy of Pediatrics. (2022, May 31). Food Allergies and Intolerances in Newborns and Infants. Www.aap.org. https://www.aap.org/en/patient-care/newborn-and-infant-nutrition/food-allergies-and-intolerances-in-newborns-and-infants/
    22. Petre, A. (2021, August 24). Salt for Babies: How Much Is Safe? Healthline; Healthline Media. https://www.healthline.com/nutrition/salt-for-babies#bottom-line
    23. Ayu, E. G., Gemebo, T. D., Nane, D., Kuche, A. D., & Dake, S. K. (2024). Inappropriate complementary feeding practice and associated factors among children aged 6–23 months in Shashemene, Southern Ethiopia: a community-based cross-sectional study. BMC Pediatrics, 24(1). https://doi.org/10.1186/s12887-024-05040-2
    Artikel Terkait