Perlekatan bayi saat menyusui yang tepat adalah mulut bayi masuk hingga mencapai sebagian besar areola atau bagian gelap di sekitar puting. Perlekatan yang salah bisa melukai puting, bayi hanya mendapatkan sedikit ASI, hingga produksi ASI berkurang drastis.
Apa Itu Perlekatan Bayi Saat Menyusui?
Perlekatan menyusui (latch) adalah posisi mulut bayi saat menempel pada payudara untuk mengisap ASI secara efektif. Perlekatan menyusui yang benar penting agar ASI keluar dan bisa dikonsumsi bayi.
Perlekatan yang tepat juga mencegah nyeri dan luka pada puting, memperlancar ASI, serta mencegah penyumbatan saluran ASI yang menimbulkan peradangan.
Kenapa Perlekatan Menyusui yang Benar Sangat Penting?
Ada beberapa alasan perlekatan bayi saat menyusui perlu dilakukan secara tepat, yakni:
1. Membantu Bayi Mendapat ASI Optimal
Perlekatan menyusui yang benar adalah dengan mengisap bagian puting dan areola atau lingkaran di sekitar puting.
Posisi ini mempermudah bayi mengisap ASI secara maksimal. ASI pun bisa keluar secara efektif dari payudara. Dengan begitu, bayi mendapatkan ASI cukup.
2. Mencegah Puting Lecet
Bayi yang hanya mengisap puting tanpa areola membuat puting terjepit lidah dan langit-langit bayi sehingga membuat puting ibu lecet.
Untuk itu, perlekatan harus dilakukan secara mendalam. Mulut bayi harus mengisap puting hingga areola, bukan puting saja.
3. Membantu Produksi ASI Lancar
Perlekatan bayi saat menyusui perlu dilakukan secara dalam hingga ke areola. Hal ini memperkuat daya isap mulut bayi sehingga bayi bisa menghabiskan ASI dari payudara pada saat itu.
Pasokan ASI yang kosong dan daya isap mulut yang semakin kuat ternyata merangsang payudara agar memproduksi ASI lebih banyak.
4. Mengurangi Risiko Payudara Bengkak
Latch memengaruhi transfer ASI. Pasalnya, bayi bisa segera mengosongkan stok ASI dalam sekali sesi menyusui. Hal ini mencegah penyumbatan ASI yang membuat payudara nyeri.
Proses ini bahkan bisa mencegah peradangan di jaringan payudara atau mastitis.
Baca juga: Panduan Cara Pijat Laktasi untuk Melancarkan ASI
Ciri Perlekatan Menyusui yang Benar
Perlekatan yang tepat meningkatkan produksi ASI hingga mencegah berbagai masalah pada payudara. Lantas, bagaimana perlekatan menyusui yang benar?
1. Mulut Bayi Terbuka Lebar
Posisi mulut bayi saat menyusui yang benar adalah mulut bayi terbuka lebar dan bagian bibir atas berada di areola.
Pastikan kepala bayi sedikit ke arah belakang agar bibir atasnya menyentuh puting. Tujuannya, agar bayi membuka mulutnya lebar-lebar.
Pastikan si Kecil tampak seperti sedang menggigit burger besar.
2. Bibir Bayi Melipat Keluar
Biarkan puting sedikit menggelitik bibir atas dan tampak terlipat keluar. Tujuannya, agar bayi membuka mulut lebar-lebar.
Hal ini akan mempermudah si Kecil menyusu lebih dalam.
3. Dagu Menempel Ke Payudara
Perlekatan bayi saat menyusui yang tepat harus dilakukan dengan menggendong bayi mendekat ke Mama. Pastikan hidung bayi sejajar dengan puting dan hidung tetap terbuka.
Pastikan dagu menyentuh payudara terlebih dahulu. Letakkan dagu bayi di atas payudara Mama.
4. Areola Masuk Sebagian Besar
Masukkan puting hingga areola ke mulut bayi. Pastikan sebagian besar area areola terutama yang berada di bawah, masuk ke dalam mulut bayi.
Hal ini penting agar si Kecil bisa mengisap dengan optimal sehingga lidah dan langit-langitnya tidak melukai puting ibu.
5. Bayi Terdengar Menelan ASI
Pastikan terdengar bayi menelan ASI. Pastikan bunyinya terdengar seperti “Kah”. Ini berarti si Kecil mengembuskan napas saat menelan ASI.
Bila Mama mendengar bunyi berdecak atau seperti “klik”, perlekatan si Kecil terlepas dari puting. Hal ini bisa melukai puting Mama.
6. Ibu Tidak Merasa Nyeri
Perlekatan bayi saat menyusui yang benar seharusnya tidak menimbulkan rasa nyeri. Nyeri terjadi karena perlekatan tidak dalam, sehingga mulut bayi tidak mengisap areola.
Akibatnya, lidah, bibir, dan langit-langit mulut bayi menggesek dan menekan puting dan membuat Mama merasa nyeri.
Baca juga: Penyebab dan Cara Mengatasi Bayi Tidak Mau Menyusu
Ciri Pelekatan Menyusui yang Salah
Pelekatan menyusui yang salah ditandai dengan kondisi-kondisi berikut:
1. Bayi Hanya Mengisap Puting
Mengisap puting saja merupakan kesalahan utama pada perlekatan bayi. Hal ini membuat perlekatan tidak mendalam sehingga bayi kesulitan mengisap ASI.
Posisi ini pun membuat lidah, langit-langit, dan bibir bayi menyakiti, bahkan melukai puting Mama.
2. Bunyi Klik Saat Menyusu
Bunyi “klik” menandakan isapan dari mulut bayi akan terlepas. Kondisi ini terjadi akibat bayi gagal melekat hingga areola.
Bunyi “klik” saat menyusu juga ditandai dengan pipi bayi yang tampak kempot, memiliki lesung pipi, dan payudara terasa nyeri.
3. Puting Lecet atau Nyeri
Puting lecet atau nyeri saat menyusui bukanlah kondisi yang wajar. Ini merupakan tanda perlekatan bayi saat menyusui yang salah.
Kondisi ini terjadi akibat perlekatan tidak mendalam sehingga terjadi gesekan di puting. Dalam kasus yang lebih parah, puting bahkan bisa berdarah.
4. Bayi Sering Lepas Saat Menyusu
Bayi sering lepas saat menyusu berarti perlekatan tidak mendalam. Mulut pun tidak mengisap sebagian besar areola.
Kondisi ini juga disebabkan oleh kepala dan badan yang tak sejajar saat menyusu. Akibatnya, leher terpelintir dan si Kecil sulit melekat dengan dalam.
5. Bayi Cepat Lapar Kembali
Bila bayi mudah rewel dan segera ingin menyusu, artinya ASI yang diisap tidak cukup. Kondisi ini terjadi karena posisi tubuhnya terpelintir atau areolanya tidak masuk ke sebagian besar mulut.
Akibatnya, daya isap ASI rendah dan bayi kesulitan menghabiskan pasokan pada saat itu. Ia pun jadi mudah lapar. Produksi ASI pun ikut berkurang karena stimulasi dari isapannya tidak optimal.
Posisi Tangan dan Tubuh Bayi Saat Menyusui
Selain perlekatan bayi saat menyusui, posisi dan tangan tubuh bayi juga penting agar ia bisa mendapatkan ASI dengan optimal. Bagaimana caranya?
1. Kepala dan Tubuh Sejajar
Pastikan kepala dan tubuh bayi sejajar agar lehernya tidak terpelintir. Leher yang terpelintir membuat si Kecil kesulitan mengisap payuradara Mama.
Pastikan wajah bayi menghadap payudara dan Mama menopang bahu, punggung, dan lehernya. Hal ini penting agar si Kecil mudah mendongakkan kepala agar sejajar dengan tubuh.
2. Perut Bayi Menghadap Ibu
Perlekatan bayi saat menyusui harus diikuti dengan perut bayi yang menempel ke tubuh Mama.
Selain perut, Mama juga bisa memastikan dada bayi menempel pada dada Mama (chest to chest).
Pastikan seluruh badan bayi menghadap ke badan Mama hingga telinga si Kecil segaris lurus dengan lengan dan leher bayi.
3. Tangan Bayi Rileks
Saat perlekatan, pastikan tangan bayi rileks dan tidak mengepal terlalu kuat. Saat si Kecil mengisap ASI dengan mudah, ia tampak tenang dan menikmati aliran ASI.
Pastikan juga lengan si Kecil tidak terjepit di antara tubuh Mama dan tubuhnya. Dengan begitu, posisi tubuhnya tetap dekat dengan Mama.
4. Kepala Tidak Dipaksa
Hindari menekan atau mendorong kepala bayi ke arah payudara saat menyusui. Hal ini justru membuat si Kecil susah bergerak dan susah bernapas sehingga mengganggu perlekatan.
Sebaiknya, topang bagian leher, punggung, dan bahu agar lurus dan sejajar. Dengan begitu, tubuhnya tidak terpelintir dan membuatnya sulit melekat.
Cara Perlekatan Menyusui yang Benar
Bila ingin membuat perlekatan saat menyusui yang tepat, lakukanlah cara-cara berikut:
1. Cari Posisi Nyaman untuk Ibu
Pastikan Mama dalam posisi rileks, baik berbaring atau duduk bersandar. Pastikan kaki tidak menggantung saat menyusu.
Posisi yang nyaman akan mempermudah Mama memosisikan bayi ke depan payudara. Dengan begitu, si Kecil bisa melekat dengan tepat.
2. Dekatkan Bayi ke Payudara
Dekatkan bayi ke payudara dengan cara meluruskan badannya agar leher dan badannya tidak terpelintir.
Pastikan tidak ada jarak antara tubuh bayi dan payudara. Pastikan posisi tangan bayi saat menyusui tidak terselip di antara tubuh Mama dan bayi.
Sejajarkan hidung bayi dengan puting Mama dan pastikan lubang hidung si Kecil terbuka, tanpa penghalang apa pun. Hindari mendorong kepala bayi ke arah payudara.
3. Sentuhkan Puting ke Bibir Bayi
Tempelkan dagu si Kecil ke payudara, lalu arahkan puting Mama ke bibir si Kecil. Proses ini merangsang rooting reflex, yaitu insting mencari puting agar segera menyusu.
Mendekatkan bibir ke puting juga merangsang refleks mengisap payudara agar si Kecil mendapatkan ASI.
4. Tunggu Mulut Terbuka Lebar
Jangan buru-buru langsung memasukkan puting ke mulut bayi. Biarkan mulutnya terbuka lebar agar melekat dengan dalam.
Jadi, bukan hanya puting yang masuk ke mulut, tetapi juga mencapai bagian areola. Dengan begitu, isapan bayi akan lebih optimal dan puting Mama tidak terasa nyeri atau lecet.
5. Masukkan Areola, Bukan Hanya Puting
Ingat, perlekatan bayi saat menyusui yang tepat adalah mulut bayi masuk hingga areola. Posisi ini justru membuat payudara nyaman karena bibir, langit-langit, dan lidah bayi tidak membuat puting nyeri.
Bila mulut atas bayi berada di bagian areola, ia akan mengisap dengan kuat tanpa rasa sakit sehingga ASI bisa keluar dengan lancar.
Kebutuhan ASI bayi akan terpenuhi dan perlekatan yang tepat pun merangsang produksi ASI lebih banyak.
Baca Juga: Penyebab ASI Berkurang & Cara Mengatasinya
Dari pelekatan yang tepat hingga menjaga produksi ASI tetap optimal, Mama tidak perlu menjalani fase menyusui sendirian. Bergabung sebagai member Nutriclub dan dapatkan panduan breastfeeding terpercaya serta akses konsultasi dengan ahli. Mama juga bisa akses NutriShop dengan lebih mudah.
Posisi Menyusui yang Membantu Latch Lebih Baik
Agar perlekatan bayi saat menyusui tetap terjaga, ada beberapa posisi menyusui yang bisa dicoba, di antaranya:
1. Cradle Hold
Lakukan posisi menyusui ini di atas sofa dengan sandaran tangan atau bantal guling di lengan Mama. Berikut cara melakukan posisi menyusui cradle hold:
- Baringkan bayi di pangkuan.
- Letakkan kepala bayi di lengan atas, pastikan hidung menghadap puting.
- Posisi lengan harus menopang seluruh tubuhnya.
- Letakkan lengan bawah bayi di bawah lengan Mama.
- Pastikan telinga, bahu, dan pinggul bayi lurus sejajar.
Hati-hati bila Mama melahirkan dengan cara operasi caesar. Posisi ini meletakkan bayi di atas perut sehingga dapat menyenggol luka jahit.
2. Cross-Cradle Hold
Ini adalah posisi menyusu dengan cara duduk tegak, bayi di depan tubuh Mama dan ditopang oleh sisi tangan yang berlawanan dengan sisi payudara yang sedang digunakan untuk menyusui.
Berikut cara melakukan posisi cross-cradle hold:
- Duduk di kursi, sofa, atau kasur yang nyaman.
- Posisikan tubuh bayi menghadap Mama, pastikan perut bayi menempel perut Mama.
- Pastikan pinggul bayi bertumpu di paha Mama, posisikan tubuh bayi sedikit melingkar mengikuti tubuh Mama.
- Tempekan dada bayi ke payudara, arahkan puting sejajar dengan hidung bayi.
- Pilih sisi lengan yang berlawanan dengan sisi payudara yang digunakan untuk menyusui.
- Letakkan telapak tangan di antara pinggung atas bayi.
- Topang kepala bayi menggunakan jari-jari dan telapak tangan.
- Gunakan sisi tangan lainnya untuk menyangga atau mengarahkan payudara ke mulut bayi.
- Saat mulut bayi terbuka, dorong perlahan bayi menggunakan telapak tangan.
- Topang bayi sampai ia berhasil menyusu hingga selesai.
Posisi ini cocok untuk hari-hari pertama menyusui karena mempermudah Mama mengontrol posisi bayi.
3. Football Hold
Posisi menyusui ini cocok untuk Mama yang melahirkan caesar dan untuk bayi kembar yang akan menyusu bersamaan.
Berikut caranya:
- Duduk di kursi dengan bantal di samping Mama atau sandaran lengan.
- Posisikan bayi di samping, tepatnya di bawah lengan Mama. Pastikan pinggul bayi dekat pinggul Mama.
- Sejajarkan hidung bayi dengan puting.
- Topang leher bayi dengan telapak tangan Mama.
- Arahkan bayi perlahan-lahan ke puting.
4. Side-Lying Position
Posisi ini juga cocok untuk bayi yang baru lahir atau ibu yang lahir caesar. Ikutilah langkah-langkahnya berikut:
- Rebahan miring dan cari posisi nyaman.
- Posisikan perut bayi berbaring menghadap perut Mama.
- Pastikan telinga, bahu, dan pinggul bayi lurus sejajar dan tidak terpelintir.
- Letakkan beberapa bantal di belakang punggung untuk penyangga. Jika penggunakan bantal di bawah kepala, pastikan tidak terlalu dekat dengan kepala atau wajah bayi.
- Gulung selimut bayi di belakang bayi untuk menopang si Kecil.
- Selipkan lengan yang ada di sisi bawah tubuh ke bagian bawah kepala atau bantal. Pastikan posisi bayi tetap nyaman dan tidak berubah.
- Gunakan sisi tangan lainnya untuk menopang dan mengarahkan kepala bayi ke payudara agar perlekatan tepat.
Kenapa Bayi Sulit Melekat Saat Menyusu?
Ada beberapa alasan perlekatan bayi saat menyusui selalu gagal, di antaranya:
1. Bayi Prematur
Pada bayi prematur, reflek mencari puting dan mengisap payudara masih belum berkembang dengan optimal. Akibatnya, ia sulit melekat dengan optimal.
Memang, bayi prematur sudah bisa melekat bila lahir di usia kehamilan 28 minggu. Namun, ia tetap perlu beberapa minggu untuk benar-benar belajar melekat dengan baik.
2. Tongue Tie
Tongue tie adalah kelainan tali penghubung atau frenulum di bawah lidah yang terlalu pendek, terlalu kaku, atau terlalu tebal.
Akibatnya, si Kecil kesulitan menggerakkan lidahnya dan membuatnya sulit melekat dengan dalam.
Bila dibiarkan, tongue tie bisa menyebabkan puting lecet, bayi kekurangan ASI, produksi ASI terganggu, hingga mastitis.
3. Puting Datar
Puting yang datar atau masuk bisa mempersulit perlekatan bayi saat menyusui karena mulut bayi kesulitan mencengkeram puting.
Puting biasanya tampak datar saat bayi baru lahir. Namun, insting bayi akan menstimulasi puting dengan jilatan agar puting kembali tegak.
Puting juga cenderung datar apabila payudara penuh dan membengkak.
4. Bayi Terlalu Mengantuk
Perlekatan bayi saat menyusui juga sulit terjadi bila bayi terlalu mengantuk atau lelah. Ia kekurangan energi sehingga sulit fokus membuka mulut hingga mencapai areola.
Di kondisi ini, bayi bahkan sering tiba-tiba tidur meski dihadapkan dengan payudara untuk menyusu.
5. Posisi Menyusui Kurang Tepat
Saat posisi menyusui kurang tepat, bisa jadi bahu, leher, dan pinggul bayi tidak sejajar. Hal ini membuat tubuhnya tampak terpelintir sehingga kesulitan mengisap dengan benar.
Selain itu, posisi yang salah bisa membuat hidung bayi tertutup, telinga terlipat, dan badan bayi menjauh dari badan Mama. Kondisi ini membuat si Kecil tidak nyaman dan tidak fokus menyusu.
Cara Mengatasi Puting Lecet karena Perlekatan Salah
Salah perlekatan bisa membuat puting lecet. Agar proses menyusui lancar kembali, atasi puting lecet dengan cara berikut:
1. Perbaiki Latch
Hal pertama dalam mengatasi puting lecet adalah dengan melihat kembali posisi perlekatan.
Pastikan mulut bayi terbuka lebar hingga menjangkau bagian areola. Pastikan bibir atasnya menyentuh sebagian besar areola.
Bila salah perlekatan terus-menerus, kondisi puting akan selalu lecet. Bahkan, kondisi ini bisa menimbulkan puting infeksi dan bernanah.
2. Oles ASI Setelah Menyusui
Sebelum mencari losion untuk puting, coba oles puting dengan ASI terlebih dahulu.
ASI memiliki senyawa antibodi dan antibakteri alami untuk mencegah infeksi dan merangsang penyembuhan. ASI pun penting untuk melembapkan puting sehingga tidak mudah lecet.
Bila mengoles ASI masih belum menunjukkan hasil, cobalah losion pelembap yang membantu penyembuhan kulit lecet, seperti bahan lanolin.
3. Hindari Sabun Berbahan Keras
Hindari sabun dengan pewangi, busa yang banyak, dan yang membuat kulit kering. Bahan tersebut bisa mengiritasi kulit. Terlebih, kulit puting yang mudah kering akan lebih mudah lecet.
Pilihlah sabun dengan pelembap yang lembut dan bebas bahan-bahan kimia yang memicu iritasi.
4. Ganti Posisi Menyusui
Selain mengecek perlekatan, mengecek posisi menyusui juga bantu percepat penyembuhan puting lecet. Posisi menyusui yang salah bisa mempersulit bayi melekat dengan tepat.
Kondisi ini membuat bayi kesulitan memasukkan sebagian areola ke mulut dan membuat lidah dan langit-langitnya melukai puting.
Kapan Harus Konsultasi ke Konselor Laktasi atau Dokter?
Segera ke dokter atau konselor laktasi apabila Mama dan bayi menunjukkan tanda-tanda berikut:
- Kesulitan mencari posisi yang tepat saat menyusui.
- Berat badan bayi tidak naik atau turun.
- ASI seret.
- Puting berdarah atau bernanah.
- Ada tongue tie atau sumbing.
- Bayi sangat kesulitan melakukan perlekatan.
- Menyusu sangat lama.
Perlekatan bayi saat menyusui penting agar bayi mendapatkan ASI yang cukup, ASI keluar lancar, terhindar dari puting lecet, dan menjaga produksi ASI.
Posisi dan perlekatan merupakan persiapan menyusui bayi baru lahir yang penting agar kebutuhan gizi si Kecil selalu terpenuhi.
Pastikan Mama terus mendukung kekebalan tubuh si Kecil melalui nutrisi, kebersihan, dan stimulasi yang tepat di 1000 hari pertama kehidupannya. Download Panduan Dukung Daya Tahan Tubuh 1000 Hari Pertama untuk dapatkan tips lengkap dan panduan dari para ahli untuk bantu si Kecil tumbuh kuat dan sehat sejak dini.
Gabung jadi member Nutriclub untuk dapatkan ratusan expert-verified parenting content yang terkurasi sesuai usia si Kecil, akses ke call center yang terhubung langsung dengan ahli seputar nutrisi dan tumbuh kembang anak, serta beragam exclusive rewards khusus untuk Mama dan si Kecil dari setiap pembelian produk Nutrilon. Daftar gratis, sekarang!
