Proses terbentuknya ASI (laktasi) sudah dimulai sejak trimester kedua kehamilan dan dikendalikan oleh hormon prolaktin serta oksitosin. Prolaktin merangsang alveoli di payudara untuk menghasilkan ASI, sedangkan oksitosin membantu mendorong ASI keluar saat bayi menyusu. Setelah persalinan, produksi ASI meningkat tajam karena turunnya kadar progesteron dan estrogen.
Kapan ASI Mulai Terbentuk?
ASI sudah mulai terbentuk sejak trimester kedua atau di sekitar 16–22 minggu kehamilan. Pada fase ini, tubuh mulai memproduksi kolostrum, yaitu ASI pertama yang kaya nutrisi untuk bayi.
Produksi ASI akan optimal 48–96 jam setelah melahirkan, seiring turunnya hormon progesteron dan meningkatnya prolaktin.
Tahapan Produksi ASI:
- Trimester 2 (14–22 minggu): Tubuh mulai menghasilkan kolostrum, tapi belum keluar karena masih tertahan hormon kehamilan.
- Trimester 3: Sebagian ibu mulai mengeluarkan kolostrum dari puting, namun jika belum juga normal.
- 1–3 hari setelah melahirkan: Kolostrum kental keluar sedikit, kaya nutrisi dan antibodi untuk bayi.
- Hari ke-3–5 (ASI mulai lancar): Produksi ASI meningkat (fase transisi) karena hormon prolaktin bekerja lebih aktif.
Tahapan Proses Terbentuknya ASI
ASI yang umumnya Mama lihat setelah melahirkan tidak keluar dengan sendirinya. Ada serangkaian proses panjang yang terjadi sejak masa kehamilan hingga setelah bayi lahir.
Berikut penjelasan setiap tahapnya:
Kolostrum (ASI Pertama)
Jika saat hamil maupun setelah melahirkan Mama melihat ada ASI yang keluar pertama kali dan berwarna kekuningan, maka inilah yang disebut kolostrum atau ASI pertama.
Kolostrum ditandai dengan teksturnya yang kental dan warnanya kuning. Jadi, bila Mama melihat kolostrum keluar, tidak perlu khawatir atau membuangnya, ya.
Cairan ini justru sangat penting untuk diberikan kepada bayi karena mengandung tinggi nutrisi, protein, rendah lemak, dan antibodi yang membantu melindungi tubuhnya di awal kehidupan dan mudah dicerna.
Meskipun jumlahnya sedikit, kolostrum sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi baru lahir.
ASI Transisi
Setelah produksi kolostrum mulai selesai, ASI masuk ke fase transisi sekitar hari ke-3 hingga ke-5 setelah melahirkan.
Warna ASI yang tadinya kekuningan karena kolostrum, kini mulai berubah tidak terlalu kuning dan volumenya pun meningkat lebih banyak.
Tekstur ASI juga cenderung lebih creamy dan mengandung lebih banyak kalori.
Baca Juga: Persiapan Menyusui Bayi Baru Lahir Sebelum Melahirkan
ASI Matang
Masuk ke minggu ke-2 pasca persalinan, proses terbentuknya ASI mulai memasuki fase matang. Saat ini, tekstur ASI jadi lebih encer dan warnanya lebih putih.
Namun, komposisi ASI tetap stabil dan optimal untuk mendukung tumbuh kembang bayi.
Bagaimana Proses Produksi ASI di Dalam Tubuh?
Proses produksi ASI terjadi melalui kerja sama antara isapan bayi dan hormon di dalam tubuh Mama. Semakin sering bayi menyusu, semakin banyak pula produksi ASI. Begini tahapan proses yang terjadi di dalam tubuh Mama setiap kali si Kecil menyusu:
- Isapan bayi merangsang saraf di puting
Saat bayi menyusu, saraf di area puting akan mulai mengirim sinyal ke otak. - Sinyal dikirim ke otak (hipotalamus)
Otak menerima sinyal tersebut, tepatnya di hipotalamus, dan langsung merespons dengan memerintahkan tubuh untuk memproduksi hormon yang dibutuhkan. - Hormon prolaktin memicu produksi ASI
Hormon ini bertugas mengirim sinyal kepada kelenjar susu untuk memproduksi lebih banyak ASI. Semakin sering si Kecil menyusu, semakin tinggi kadar prolaktin dalam tubuh Mama. - Hormon oksitosin memicu pengeluaran ASI
Produksi ASI juga dibantu hormon oksitosin yang bertanggung jawab mendorong ASI mengalir keluar dari otot-otot kecil payudara. Efeknya, Mama akan merasakan sensasi hangat atau kesemutan saat ASI mulai mengalir.
Mekanisme Keluarnya ASI (Let-Down Reflex)
Let-down reflex adalah bentuk refleks alami dari tubuh ibu menyusui yang membuat payudara melepaskan atau mengeluarkan ASI. Proses ini biasanya terjadi saat Mama sedang menyusui bayi.
Saat bayi menyusu dan hormon prolaktin sudah memproduksi ASI, tubuh Mama akan merespons dengan mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon ini memicu kontraksi otot-otot kecil di sekitar kelenjar payudara, sehingga ASI terdorong keluar agar bisa diminum bayi.
Menariknya, let-down reflex sangat dipengaruhi oleh kondisi emosi ibu menyusui. Saat Mama merasa tenang, nyaman, dan rileks, produksi hormon oksitosin meningkat dan refleks pengeluaran ASI biasanya berjalan lebih lancar.
Sebaliknya, saat Mama sedang stres, cemas, atau kelelahan, produksi oksitosin bisa terhambat. Karena itu, penting bagi Ibu untuk menjaga kondisi tubuh dan pikiran tetap nyaman agar ASI bisa keluar dengan optimal.
Faktor yang Mempengaruhi Produksi ASI
Ada beberapa faktor penting yang dapat memengaruhi produksi ASI. Berikut hal-hal yang perlu Mama perhatikan agar ASI tetap optimal:
1. Frekuensi Menyusui
Melansir dari Australian Breastfeeding Association, proses terbentuknya ASI bekerja dengan prinsip supply dan demand. Artinya, semakin sering bayi menyusu, maka semakin banyak ASI yang diproduksi oleh tubuh Mama.
Supaya produksi ASI bisa tetap optimal, sebaiknya jangan tunggu sampai payudara terasa penuh atau si Kecil menangis ingin menyusu.
Coba tawarkan ASI sesering mungkin, terutama di bulan-bulan pertama setelah melahirkan, agar tubuh memahami sinyal bahwa kebutuhan ASI sedang tinggi sehingga produksinya harus ditingkatkan.
2. Perlekatan (Latch)
Pastikan mulut bayi dapat melekat dengan tepat pada puting payudara Mama. Sebab, perlekatan yang tepat saat menyusu sangat menentukan seberapa efektif si Kecil mengosongkan ASI di payudara.
Jika perlekatan mulut bayi kurang pas, maka payudara akan kesulitan terstimulasi dan produksi ASI bisa ikut menurun.
3. Kondisi Psikologis
Stres, kecemasan, dan kelelahan berlebih adalah musuh utama produksi ASI. Kondisi emosi Mama secara langsung mempengaruhi hormon oksitosin dan prolaktin yang berperan dalam produksi dan pengeluaran ASI.
Usahakan produksi ASI tetap lancar dengan membuat tubuh lebih rileks, tenang, atau lakukan pernapasan dalam.
4. Nutrisi Ibu
Tubuh Mama butuh energi dan nutrisi yang cukup untuk memproduksi ASI setiap harinya.
Pastikan Mama makan dengan teratur, perbanyak minum air putih, dan konsumsi makanan bergizi seimbang agar produksi ASI tetap terjaga.
Baca Juga: Lama ASI Tahan di Suhu Ruang dan Cara Simpan yang Tepat
Kenapa ASI Bisa Sedikit atau Belum Keluar?
Tidak keluarnya ASI saat hamil bukan berarti tidak diproduksi. Hal ini normal karena umumnya ASI baru keluar setelah persalinan. Jangan pula langsung panik jika ASI terasa sedikit atau belum keluar di awal menyusui.
Ada beberapa hal yang bisa jadi penyebab proses terbentuknya ASI terasa kurang optimal, yakni:
- Belum masuk fase transisi
Di awal setelah melahirkan, tubuh masih memproduksi kolostrum dalam jumlah sedikit. Hal ini normal karena produksi ASI biasanya baru akan meningkat di 3-5 hari setelah persalinan. - Jarang menyusui
Banyak atau sedikitnya produksi ASI sesuai kebutuhan bayi (supply and demand). Jika bayi jarang menyusu, tubuh juga akan memproduksi ASI lebih sedikit. - Stres dan kelelahan
Kondisi mental Mama sangat berpengaruh pada produksi ASI. Kondisi emosional seperti stres bisa menghambat hormon yang berperan dalam pengeluaran ASI, sehingga produksinya jadi tidak optimal. - Pelekatan kurang tepat
Bila posisi perlekatan mulut bayi saat menyusu belum benar, isapan jadi kurang maksimal. Hal ini bisa memengaruhi rangsangan produksi ASI.
Cara Memperlancar Produksi ASI Secara Alami
Ada banyak cara alami yang bisa Mama lakukan untuk membantu melancarkan produksi ASI. Berikut tips yang bisa langsung Mama terapkan di rumah:
1. Lebih Sering Menyusui
Cara paling mudah untuk meningkatkan produksi ASI adalah menyusui sesering mungkin, minimal 8–14 kali dalam sehari di bulan-bulan pertama.
Saat bayi menyusu, tubuh akan melepaskan hormon yang memicu produksi ASI sehingga otot-otot di payudara akan berkontraksi dan menggerakkan ASI untuk keluar.
2. Skin-to-Skin
Menurut UNICEF, kontak kulit langsung antara Mama dan si Kecil terbukti membantu meningkatkan produksi hormon oksitosin yang berpengaruh pada pengeluaran ASI.
Mama bisa coba peluk bayi dan letakkan di dada tanpa penghalang. Lakukan sesering mungkin. Momen ini juga sekaligus mempererat bonding Mama dan si Kecil.
3. Cukup Makan dan Minum
Tubuh Mama butuh asupan nutrisi yang untuk memproduksi ASI setiap harinya.
Pastikan Mama makan dengan teratur dan bergizi, serta minum air putih yang cukup setidaknya 8-10 gelas per hari agar produksi ASI tetap terjaga.
4. Istirahat yang Cukup
Jangan biarkan kurang tidur dan kelelahan jadi penyebab produksi ASI menurun. Manfaatkan waktu saat si Kecil tidur untuk ikut beristirahat.
Mama juga bisa meminta bantuan kepada pasangan atau keluarga agar mendapatkan waktu istirahat dengan baik.
Pada intinya, proses terbentuknya ASI merupakan perjalanan panjang yang dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Memaksimalkan frekuensi menyusui, meminimalisir stres, menyesuaikan perlekatan, dan mengoptimalkan asupan nutrisi bisa bantu Mama memberikan ASI yang lancar untuk si Kecil.
Semoga proses menyusui Mama dan si Kecil berjalan dengan baik, tenang, dan menyenangkan!
Mama bisa gabung jadi member Nutriclub untuk dapatkan ratusan expert-verified parenting content yang terkurasi sesuai usia si Kecil, akses ke call center yang terhubung langsung dengan ahli seputar nutrisi dan tumbuh kembang anak, serta beragam exclusive rewards khusus untuk Mama dan si Kecil dari setiap pembelian produk Nutrilon. Daftar gratis, sekarang! Mama juga bisa akses NutriShop dengan lebih mudah.
