Campak pada bayi bukan penyakit ringan dan dapat menimbulkan komplikasi serius bila tidak ditangani dengan baik. Maka itu, deteksi dini serta perawatan yang tepat sangat penting untuk mencegah risiko komplikasi dan mempercepat pemulihan si Kecil.
Apa Itu Campak?
Campak adalah penyakit infeksi akut mudah menular yang disebabkan oleh virus Morbillivirus. Di Indonesia, campak disebut juga dengan nama lain tampek (tampak), gabagen, dan penyakit sarampa.
Gejalanya biasanya diawali dengan tanda-tanda mirip flu seperti demam, batuk, pilek, serta mata merah, kemudian muncul ruam merah khas yang menyebar ke seluruh tubuh.
Penyakit ini sangat berbahaya, terutama bagi bayi dan anak-anak. Jika terkena, campak bisa menyebabkan sakit yang lebih berat dan menimbulkan berbagai komplikasi pada bayi.
Penyebab Campak pada Bayi
Campak disebabkan oleh Morbillivirus yang termasuk dalam kelompok Paramyxovirus.
Virus ini sangat mudah menular dan menyebar melalui droplet atau percikan air liur saat orang yang sakit campak batuk, bersin, atau berbicara.
Bayi lebih mudah tertular campak karena daya tahan tubuhnya masih lemah. Risiko penularan menjadi lebih tinggi di ruangan tertutup dengan sirkulasi udara buruk, terutama jika bayi berada dekat dengan orang yang terinfeksi.
Virus campak juga dapat menempel pada permukaan benda dan bertahan selama beberapa 2 jam, sehingga meningkatkan risiko penularan pada bayi.
Baca Juga: Jangan Keliru, Ini Perbedaan Campak dan Alergi pada Anak
Ciri-Ciri Campak pada Bayi
Gejala campak biasanya muncul dalam 7-14 hari setelah bayi terinfeksi virus penyebab campak. Berikut ciri-ciri bayi terkena campak:
Gejala Awal Campak
Gejala awal campak biasanya berlangsung selama 2-3 hari setelah paparan pertama. Pada awalnya gejala campak mirip dengan flu, seperti:
- Demam tinggi lebih dari 38°C selama 3 hari atau lebih.
- Batuk.
- Pilek.
- Mata merah dan berair (konjungtivitis).
Gejala Khas Campak
Setelah gejala awal campak muncul, selanjutnya akan muncul gejala khas campak seperti:
- Kemunculan Koplik’s spot, yaitu bercak putih keabuan dengan dasar merah di pipi bagian dalam.
- Ruam merah di sekitar garis rambut wajah bayi, lalu muncul bertahap hingga ke seluruh tubuh di hari ke-3 hingga ke-5.
- Bercak menyebar ke area leher, punggung, dada, perut, lengan, hingga kaki. Mungkin muncul juga bintik kemerahan di atas bercak.
- Demam pada bayi bisa naik hingga 40°Celsius saat ruam muncul.
Apakah Campak pada Bayi Berbahaya?
Penyakit sarampa atau campak memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi apabila terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun dan tidak ditangani dengan baik. Berikut sejumlah komplikasi yang mungkin terjadi:
- Diare berat.
- Gizi buruk.
- Infeksi telinga yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran.
- Masalah pada mata dan kebutaan.
- Komplikasi berat dapat menyebabkan radang paru-paru (pneumonia). Radang paru-paru merupakan penyebab kematian tersering pada bayi dengan campak.
1 dari 1000 anak juga dapat mengalami ensefalitis (radang otak) akibat komplikasi campak.
Oleh karena itu, Mama dan Papa perlu segera membawa si Kecil ke dokter spesialis anak ketika melihat ada gejala campak.
Apakah Campak pada Bayi Bisa Sembuh Sendiri?
Campak pada bayi umumnya berlangsung sekitar 10–14 hari hingga gejala mereda dan ruam menghilang.
Bila tidak disertai komplikasi dan mendapat perawatan yang tepat, campak dapat sembuh sendiri seiring waktu.
Penanganan di rumah seperti mencukupi kebutuhan cairan, istirahat, dan memantau kondisi anak dapat membantu mempercepat pemulihan.
Namun, bila campak terjadi pada bayi dan anak kurang dari 5 tahun, pengawasan sebaiknya lebih ketat karena risiko komplikasi lebih tinggi dibanding anak yang lebih besar.
Baca Juga: 12 Penyebab Bruntusan pada Bayi dan Cara Mengatasinya
Cara Mengobati Campak pada Bayi
Sebenarnya tidak ada pengobatan spesifik atau antivirus khusus untuk penyakit campak. Pengobatan untuk campak sifatnya hanya mengurangi gejala dan mencegah komplikasi.
Lalu, apa yang harus dilakukan ketika bayi terkena campak?
1. Perawatan di Rumah
Lakukan upaya penanganan mandiri di rumah dengan rutin memberikan perawatan berikut selama bayi mengalami campak:
- Cukupi ASI dan cairan.
- Istirahat yang cukup.
- Berikan parasetamol atau ibuprofen dengan dosis sesuai usia si Kecil untuk bantu menurunkan demam.
- Mandikan bayi dengan air hangat untuk membantu meredakan demam, nyeri, dan rasa gatal akibat ruam campak.
- Redupkan cahaya agar bayi merasa lebih nyaman.
2. Lancarkan Pernapasan Bayi
Gejala campak dapat membuat hidung bayi tersumbat. Bantu lancarkan pernapasannya salah satunya menggunakan saline nasal spray atau larutan garam steril untuk melegakan hidung bayi yang tersumbat karena pilek.
Untuk menggunakannya, baringkan si Kecil dengan kepala mendongak ke belakang lalu semprotkan 2-3 tetes pada setiap lubang hidung.
Jika udara kamar terlalu kering, penggunaan humidifier dapat membantu melembapkan udara dan meringankan batuk serta iritasi tenggorokan pada bayi.
Sementara untuk menangani batuk pilek yang dialami bayi saat campak, Mama dapat memberikan obat dengan dosis yang telah diresepkan oleh dokter agar bayi dapat bernapas lebih nyaman.
3. Jaga Asupan Nutrisi & Vitamin
Jika bayi masih menyusu, perbanyak pemberian ASI agar asupan cairannya cukup, sedangkan bayi di atas 6 bulan atau sudah MPASI boleh diberikan air putih.
Pemberian suplemen vitamin A dengan dosis tepat oleh dokter juga dapat membantu mengurangi komplikasi dan kematian akibat campak.
Bagi bayi yang telah berusia 6 bulan ke atas, Mama dapat bantu ringankan gejala si Kecil dengan memberikan MPASI kaya vitamin A.
4. Isolasi Selama Masa Menular
Umumnya, campak akan berangsur pulih setelah satu minggu dengan pengobatan di atas.
Namun, Mama perlu tetap mengisolasi si Kecil hingga seluruh ruam benar-benar berubah jadi warna menjadi tembaga atau kehitaman untuk menurunkan risiko penularan pada orang lain.
Isolasi sebaiknya dilakukan selama kurang lebih 4-5 hari terhitung dari munculnya ruam pada kulit.
Apakah Campak Perlu Diberi Antibiotik?
Pengobatan campak tidak memerlukan antibiotik karena penyebabnya adalah virus, bukan bakteri.
Antibiotik hanya akan diresepkan dokter saat ada tanda-tanda infeksi tambahan akibat bakteri, seperti radang telinga tengah atau pneumonia.
Pasalnya, saat bayi terkena campak, daya tahan tubuhnya bisa melemah sehingga bakteri lebih mudah masuk. Kondisi ini dapat menyebabkan infeksi lain, seperti infeksi telinga, radang paru-paru (pneumonia), atau infeksi sinus.
Kapan Harus ke Dokter?
Jangan tunda untuk periksa ke dokter atau rumah sakit terdekat bila campak pada bayi menimbulkan gejala berikut:
- Demam sangat tinggi.
- Kesulitan bernapas.
- Nyeri dada.
- Sensitivitas terhadap cahaya.
- Kaku leher
- Sakit kepala hebat.
- Kebingungan.
- Muntah atau diare parah.
- Tidak mau minum.
- Kejang atau lemas parah.
Baca Juga: Jadwal Imunisasi Bayi 0-12 Bulan Terbaru IDAI 2024
Cara Mencegah Campak pada Bayi
Risiko campak pada bayi dapat dicegah dengan pemberian imunisasi MR sesuai jadwal dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).
Menurut peraturan IDAI tahun 2024, bayi perlu mendapatkan 3 dosis vaksin MR secara bertahap agar efek perlindungannya maksimal.
Imunisasi MR dosis pertama akan diberikan di usia 9 bulan. Kemudian, imunisasi dosis kedua akan diberikan pada rentang usia 15-18 bulan dan dosis ketiga diberikan saat si Kecil berusia usia 5-7 tahun.
Pastikan Mama terus mendukung kekebalan tubuh si Kecil melalui nutrisi, kebersihan, dan stimulasi yang tepat di 1000 hari pertama kehidupannya. Download Panduan Dukung Daya Tahan Tubuh 1000 Hari Pertama untuk dapatkan tips lengkap dan panduan dari para ahli untuk bantu si Kecil tumbuh kuat dan sehat sejak dini.
Apakah Bayi yang Sudah Kena Campak Masih Perlu Imunisasi?
Bayi yang pernah terinfeksi campak juga sebaiknya tetap mendapatkan imunisasi vaksin MR susulan untuk memperkuat sistem imun tubuh.
Apabila sampai usia 12 bulan si Kecil belum mendapatkan imunisasi MR, ia bisa mendapatkan vaksin MMR.
Semoga artikel ini membantu untuk menjawab pertanyaan Mama dan Papa terkait campak pada bayi!
