Loading...
    Banner Artikel DBD pada Anak: Penyebab, Gejala, Fase, Obat, dan Cara Mencegahnya
    Kesehatan

    DBD pada Anak: Penyebab, Gejala, Fase, Obat, dan Cara Mencegahnya

    Disusun oleh: Tim Penulis

    Diterbitkan: 31 Maret 2023

    Diperbarui: 02 September 2026


    • Apa Itu Demam Berdarah (DBD) pada Anak?
    • Gejala Demam Berdarah pada Anak Usia 1-5 Tahun
    • Fase Demam Berdarah pada Anak
    • Bagaimana Cara Mengecek DBD pada Anak?
    • Pertolongan Pertama Demam Berdarah pada Anak
    • Apa Obat Demam Berdarah pada Anak?
    • Kapan Anak Harus Segera Dibawa ke Dokter?
    • Apakah DBD pada Anak Berbahaya?
    • Bagaimana Cara Mencegah DBD pada Anak?

     

    Demam berdarah pada anak adalah infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini dapat menyebabkan demam tinggi hingga komplikasi serius bila tidak ditangani dengan tepat. Sebagai pertolongan pertama, pastikan si Kecil harus banyak minum dan istirahat. 

    Apa Itu Demam Berdarah (DBD) pada Anak?

    Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit akibat infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus yang membawa virus tersebut.

    Penyebab DBD pada anak bukan karena kontak langsung dengan penderita. Penularan terjadi ketika nyamuk menggigit orang yang terinfeksi, lalu menggigit orang lain.

    Anak masuk dalam kelompok yang rentan terinfeksi DBD. Hal ini karena sistem imun anak masih berkembang dan mereka suka bermain atau beraktivitas di luar rumah sehingga lebih mudah digigit nyamuk.

    Gejala Demam Berdarah pada Anak Usia 1-5 Tahun

    Gejala demam berdarah pada anak biasanya muncul 4–10 hari setelah gigitan nyamuk pembawa virus dengue. Fase demam umumnya berlangsung 2–7 hari, tetapi masa kritis dapat terjadi ketika demam mulai turun.

    Gejala DBD pada anak 1–5 tahun yang umum muncul pertama kali akan mirip penyakit flu biasa, yaitu demam, nyeri di belakang mata dan di persendian, lemas, sakit pada otot dan/atau tulang, dan sakit kepala.

    Untuk lebih jelasnya, simak tabel gejala awal dan gejala yang perlu diwaspadai berikut.

    Gejala Awal

    Gejala yang Perlu Diwaspadai

    Demam mendadak tinggi hingga 39–40°C

    Muntah terus-menerus

    Nyeri kepala

    Mimisan atau gusi berdarah

    Nyeri otot dan sendi

    Nyeri perut hebat

    Ruam atau bintik merah

    Anak sangat lemas atau mengantuk

    Baca Juga: Cara Mengatasi Flu pada Anak agar Cepat Sembuh & Tanda Bahaya

    Fase Demam Berdarah pada Anak

    Kemunculan gejala penyakit DBD terbagi menjadi tiga fase. Memahami fase demam berdarah pada anak bantu Mama dan Papa mengenali kapan risiko komplikasi paling tinggi.

    Fase

    Hari ke-

    Yang Terjadi

    Demam

    1–3

    Demam tinggi dan gejala awal muncul

    Kritis

    4–6

    Risiko kebocoran plasma dan syok meningkat

    Pemulihan

    7 atau lebih

    Kondisi mulai membaik

    Untuk lebih jelasnya, simak informasi di bawah ini: 

    1. Fase Demam

    Fase demam berlangsung 2–7 hari yang ditandai dengan demam mendadak tinggi, disertai nyeri kepala, nyeri otot, nyeri sendi, dan timbul bintik kemerahan di kulit.

    Fase demam DBD dengan demam biasa memang sulit dibedakan. Oleh karena itu, bawa si Kecil untuk cek darah dan memastikan apakah ada penurunan jumlah sel darah putih dan jumlah trombosit. 

    Penurunan sel darah putih dan trombosit adalah salah satu ciri khas penyakit DBD.

    2. Fase Kritis

    Fase kritis biasanya terjadi pada hari ke-4 hingga ke-6 sejak demam dimulai. Pada fase ini, suhu tubuh justru dapat mulai turun sehingga banyak orang tua mengira anak sudah sembuh.

    Padahal, inilah periode paling berbahaya karena dapat terjadi kebocoran plasma darah yang menyebabkan syok.

    Adapun tanda bahaya demam berdarah pada anak yang harus segera Mama Papa waspadai adalah sebagai berikut:

    • Sering muntah-muntah
    • Nyeri perut hebat
    • Terjadi perdarahan di kulit, gusi, dan hidung alias mimisan
    • Anak tampak sangat lemas
    • Tangan dan kaki terasa dingin
    • Sulit dibangunkan

    3. Fase Pemulihan

    Fase pemulihan berlangsung dalam waktu 48–72 jam setelah demamnya turun atau pada hari 6–7 setelah gejala pertama kali muncul. 

    Fase demam berdarah pada anak ini biasanya ditandai dengan nafsu makan mulai membaik, anak bisa kembali aktif, dan buang air kecil cukup atau lebih banyak. 

    Meski terlihat sehat, dokter biasanya tetap menyarankan pemeriksaan darah ulang untuk memastikan trombosit meningkat dan kondisi anak benar-benar stabil.

    Baca Juga: Cara Menurunkan Panas dan Pusing Anak

    Bagaimana Cara Mengecek DBD pada Anak?

    Cara mengecek DBD pada anak tidak cukup hanya melihat jumlah trombosit. Dokter mungkin akan menanyakan riwayat demam dan melakukan pemeriksaan sebagai berikut:

    • Tes NS1 (Non-Structural Protein 1) untuk mendeteksi infeksi dengue pada hari-hari awal penyakit.
    • Hitung trombosit, karena jumlah trombosit biasanya mulai menurun setelah beberapa hari.
    • Hematokrit, untuk melihat apakah terjadi kebocoran plasma darah.
    • Leukosit, sel darah yang sering kali menurun pada infeksi dengue.

    Ingat, jangan hanya mengandalkan hasil trombosit, Ma. Sebab pada hari pertama hingga kedua demam, jumlah trombosit masih bisa berada dalam batas normal. 

    Karena itu, dokter sering menyarankan pemeriksaan darah ulang bila gejala masih mengarah ke DBD.

    Pertolongan Pertama Demam Berdarah pada Anak

    Agar kondisi tidak semakin parah dan si Kecil bisa kembali ceria, ada beberapa hal yang bisa Mama lakukan sebagai pertolongan pertama demam berdarah pada anak.

    1. Kompres Hangat

    Ketika si Kecil mulai demam, segera tempelkan kompres hangat di dahi, ketiak, lipatan siku, maupun area selangkangannya untuk cepat menurunkan suhu tubuh anak.

    Jangan gunakan air dingin atau kompres es, ya, karena suhu dinginnya akan membuat anak menggigil dan suhu tubuhnya makin naik.

    2. Banyak Minum

    Gejala demam berdarah pada anak berupa diare, demam, dan muntah-muntah dapat meningkatkan risiko anak mengalami dehidrasi. 

    Maka, pastikan si Kecil banyak minum atau berikan makanan berkuah seperti sup kaldu ayam dengan sayuran untuk mengembalikan cairan tubuhnya.

    Berikan juga jus jambu segar sebagai pertolongan pertama DBD pada anak. Jus jambu diklaim dapat meredakan DBD sekaligus meningkatkan trombosit darahnya.

    Mama bisa sajikan pula susu untuk meningkatkan daya tahan tubuh yang terfortifikasi Double Biotics, yaitu kombinasi prebiotik FOS:GOS 1:9 dan DHA EPA. Formula ini terbukti secara klinis bantu perkuat daya tahan tubuh dan kemampuan berpikir si Kecil demi persiapkan anak untuk menang.

    3. Berikan Parasetamol Bila Diperlukan

    Apabila suhu tubuh mencapai 38,5°C atau anak tampak sangat tidak nyaman, berikan obat pereda nyeri untuk atasi demam, sakit kepala, dan nyeri yang si Kecil alami seperti parasetamol. 

    Namun, pastikan Mama berkonsultasi dengan dokter terlebih dulu sebelum memberikan parasetamol atau obat apa pun sebagai pertolongan pertama pada anak, ya.

    Baca Juga: ISPA pada Anak: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

    4. Pastikan Anak Cukup Istirahat

    Selama sakit, pastikan si Kecil banyak istirahat agar kesehatannya cepat membaik. Bantu jaga suasana kamar tidur si Kecil tetap nyaman dengan memastikan suhu kamar tidak terlalu dingin atau panas. 

    Buat penerangan kamar lebih temaram dan teduh, serta jauhkan benda-benda yang berisik dan mengganggu tidurnya, seperti TV dan gadget.

    Minta juga anggota keluarga lainnya untuk tidak berkegiatan terlalu bising agar tidur si Kecil tidak terganggu.

    5. Pantau Tanda Bahaya

    Selama fase demam hingga fase kritis, kondisi anak dapat berubah dengan cepat. Mama perlu waspada apabila dalam 2–3 hari, gejala yang dialami si Kecil justru semakin memburuk. 

    Misalnya, si Kecil tampak lemas, mengantuk terus, sulit bernapas, sering muntah, terjadi perdarahan di gusi, mulai mengigau, tangan dan kaki mulai dingin dan mimisan. 

    Segera bawa anak ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

    Menjaga kesehatan si Kecil dimulai dari informasi yang tepat dan terpercaya. Bergabunglah dengan Nutriclub untuk mengakses berbagai artikel kesehatan anak yang expert-verified serta panduan praktis yang relevan dengan kebutuhan keluarga modern. 

    Nikmati juga berbagai keuntungan member eksklusif, mulai dari akses ke konten expert-verified, penawaran spesial, hingga kesempatan mengumpulkan poin dan menukarkannya dengan berbagai exclusive rewards dari Nutriclub. Mama juga bisa akses NutriShop dengan lebih mudah.

    Baca Juga: Ciri Demam karena Kecapekan dan Cara Mengatasinya

    Apa Obat Demam Berdarah pada Anak?

    Hingga saat ini belum ada obat khusus yang dapat mengobati virus dengue. Pengobatan DBD berfokus untuk menjaga kondisi sampai infeksi membaik dengan sendirinya seperti sebagai berikut:

    • Memenuhi kebutuhan cairan tubuh
    • Istirahat yang cukup
    • Pemberian parasetamol untuk demam setelah konsultasi dengan dokter
    • Pemantauan trombosit dan hematokrit
    • Rawat inap bila terdapat tanda DBD berat atau dehidrasi

    Beberapa obat tidak dianjurkan untuk pasien DBD karena meningkatkan risiko perdarahan, yaitu aspirin, ibuprofen, dan obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) lainnya. 

    Selalu konsultasikan obat apa pun kepada dokter sebelum diberikan pada si Kecil ya, Ma. 

    Kapan Anak Harus Segera Dibawa ke Dokter?

    Segera bawa anak ke dokter apabila ia mengalami:

    • muntah terus-menerus
    • tidak mau minum
    • mimisan atau gusi berdarah
    • BAB hitam atau muntah darah
    • tangan dan kaki terasa dingin
    • anak mengantuk terus atau sulit dibangunkan
    • napas cepat atau sesak
    • nyeri perut hebat
    • buang air kecil sangat sedikit

    Gejala-gejala tersebut dapat mengarah pada sindrom syok dengue yang butuh penanganan medis segera.

    Baca Juga: Obat Demam Anak Usia 1-5 Tahun yang Alami dan Ampuh

    Apakah DBD pada Anak Berbahaya?

    Anak yang terinfeksi DBD mungkin akan pulih dalam waktu seminggu atau lebih bila dilakukan perawatan dini yang tepat. 

    Namun, penyakit ini bisa berbahaya dan mengancam jiwa, yang dikenal dengan kondisi sindrom syok dengue. Kondisi ini lebih berisiko terjadi pada anak yang pernah menderita DBD sebelumnya. 

    Demam berdarah parah terjadi ketika pembuluh darah rusak dan bocor, serta jumlah trombosit dalam aliran darah turun drastis. Hal ini bisa menyebabkan syok, perdarahan internal, kegagalan organ, bahkan kematian. 

    Bagaimana Cara Mencegah DBD pada Anak?

    Pencegahan merupakan langkah paling efektif untuk menurunkan risiko demam berdarah. Adapun cara mencegah DBD pada anak adalah sebagai berikut:

    1. Lakukan 3M Plus

    IDAI menjelaskan bahwa cara mencegah DBD yang paling efektif melalui kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus, yakni:

    • Menguras atau membersihkan tempat yang sering menjadi penampungan air, misalnya bak mandi, vas bunga, tempat minum burung, tempat penampungan air dispenser, dan penampung air kulkas. Bersihkan sekurang-kurangnya 7 hari sekali.
    • Menutup rapat tempat penampungan air, seperti toren air, drum, dan lain-lain.
    • Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Jika tidak memungkinkan, buang dengan cara menguburnya.

    Selain itu, lengkapi dengan berbagai upaya tambahan yang bisa dilakukan di rumah sebagai berikut:

    • Memakai kelambu
    • Menggunakan lotion antinyamuk khusus anak
    • Memasang kawat kasa
    • Mengenakan pakaian berlengan panjang
    • Menghindari menggantung pakaian terlalu lama
    • Melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin

    Baca Juga: TBC pada Anak: Gejala Awal & Cara Pencegahannya

    2. Vaksin Dengue

    Menurut CDC, vaksin dengue dapat bantu menurunkan risiko infeksi dengue, rawat inap, dan DBD dengan gejala berat. Namun, vaksin DBD baru bisa diberikan pada usia 6–45 tahun. 

    Pastikan Mama mengikuti rekomendasi dokter, usia yang disetujui, serta ketersediaan jenis vaksin sebelum memberikannya pada si Kecil. 

    3. Hindari Gigitan Nyamuk

    Untuk menghindari gigitan nyamuk, Mama bisa lakukan hal-hal berikut pada si Kecil:

    • memakaikan pakaian tertutup
    • memasang kasa pada ventilasi
    • menghindari genangan air
    • menggunakan lotion antinyamuk sesuai petunjuk usia
    • menjaga kebersihan lingkungan rumah

    Nah, itu dia informasi mengenai demam berdarah pada anak yang penting Mama Papa ketahui. Semoga artikel ini membantu dan si Kecil cepat sembuh, ya!

    Butuh insight dari ahli di tengah kesibukan, Ma? Jangan ragu untuk diskusi langsung dengan Nutriclub Expert Advisor, tim ahli terpercaya kami di bidang nutrisi, parenting, dan tumbuh kembang anak. Hadir 24/7 untuk bantu Mama, gratis dan tanpa perlu buat janji.

    Informasi yang Wajib Mama Ketahui

    Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Mama
    1. Sa’adah, U. L. (2020, April 6). Tips Pencegahan dan Pertolongan Pertama Terhadap Penderita DBD. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga; FKM UNAIR.. https://fkm.unair.ac.id/tips-pencegahan-dan-pertolongan-pertama-terhadap-penderita-dbd
    2. ‌IDAI | MEMAHAMI DEMAM BERDARAH DENGUE (BAGIAN 1). (2019). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/memahami-demam-berdarah-dengue
    3. ‌IDAI | MEMAHAMI DEMAM BERDARAH DENGUE (BAGIAN 2). (2019). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/memahami-demam-berdarah-dengue-bagian-2
    4. ‌IDAI | Gerakan Bersama Melawan Demam Berdarah. (2016). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/gerakan-bersama-melawan-demam-berdarah%20
    5. ‌World Health Organization. (2022, February 14). Dengue and severe dengue. Who.int; World Health Organization: WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue
    6.  Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. (2022). Kemkes.go.id. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1323/terapi-diit-pada-demam-berdarah
    7. Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. https://promkes.kemkes.go.id/?p=7443
    8. IDAI | Sekilas tentang Vaksin Dengue. (2017). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/sekilas-tentang-vaksin-dengue
    9. CDC. (2024). Symptoms of Dengue and Testing. Centers for Disease Control and Prevention.. https://www.cdc.gov/dengue/signs-symptoms/
    10. Mayo Clinic. (2024). Dengue fever - Symptoms and causes. Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dengue-fever/symptoms-causes/syc-20353078
    11. Editorial Team. (2026). Dengue Fever | Rady Children’s Health. Rchsd.org. RCH. https://www.rchsd.org/health-article/dengue-fever/
    12. Maesarah, M., Wardhani, P., & Puspitasari, D. (2023). Profil Pemeriksaan Darah Lengkap pada Pasien Anak Infeksi Virus Dengue di Instalasi Rawat Inap Smf Anak Rsud Dr. Soetomo Surabaya. Malahayati Nursing Journal, 5(1), 113–122. https://doi.org/10.33024/mnj.v5i1.7679
    13. Centers for Disease Control and Prevention. (2021). Dengue Vaccine | CDC. Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/dengue/vaccine/index.html
    14. Editorial Team. (2024, July). Dengue Fever (for Parents) - Nemours KidsHealth. kidshealth.org. https://kidshealth.org/en/parents/dengue.html
    Artikel Terkait

    Keuntungan Daftar Nutriclub

    Icon Hadiah Eksklusif

    Hadiah Eksklusif

    Beragam hadiah eksklusif untuk dukung si Kecil jadi juara, siap Mama dapatkan!

    Icon Winning Parenting Content

    Winning Parenting Content

    Ratusan artikel dan konten tumbuh kembang untuk dukung si Kecil jadi juara

    Icon 24/7 Nutriclub Expert Advisor

    24/7 Nutriclub Expert Advisor

    Hubungi ahli untuk pertanyaan seputar nutrisi, tumbuh kembang, dan informasi terkait Nutriclub melalui Whatsapp/call center

    Icon Belanja di Nutrishop

    Belanja di Nutrishop

    Nikmati kemudahan belanja Nutrilon Royal di website NutriShop dengan layanan tepercaya dan benefit eksklusif untuk Mama

    Gabung Nutriclub

    *yang sudah terhubung dengan WhatsApp
    Minimal 8 Karakter, Memiliki 1 angka (0-9) dan 1 karakter spesial (@#$%^&)
    *Usia si Kecil Maksimal 7 Tahun