Autisme pada bayi merujuk pada hambatan perkembangan sosial-emosional sehingga kesulitan berekspresi, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Ciri-ciri bayi autis di antaranya tidak mengoceh, tidak kontak mata, tidak merespons bila dipanggil, tidak tersenyum dan tidak ekspresif, dan mengalami keterlambatan bicara.
Apa Itu Autisme pada Bayi?
Gangguan spektrum autisme (GSA) atau autis alias autisme adalah gangguan perkembangan spektrum otak yang menyebabkan anak mengalami kesulitan menjalin hubungan sosial-emosional.
Perbedaan autisme dan speech delay, yaitu bayi autis tidak mencoba berkomunikasi dan terhubung dengan orang sekitarnya.
Bayi dengan speech delay kesulitan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi secara lisan, tetapi menggunakan perantara lain untuk berkomunikasi, misalnya gestur tubuh atau ekspresi wajah.
Sementara itu, anak dengan keterlambatan perkembangan tetap bisa tumbuh, kembang, dan mengejar ketertinggalan milestone sesuai dengan kecepatan mereka sendiri.
Sejak Kapan Autisme Bisa Terlihat?
Autisme terjadi pada anak sebelum mencapai usia 1-2 tahun. Namun, beberapa anak sudah menunjukkan gejalanya sejak bayi 2 bulan.
Penting bagi Mama Papa untuk mengetahui ciri-ciri autisme pada bayi sedini mungkin agar segera mendapatkan intervensi yang dibutuhkan.
Pasalnya, IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) mengungkapkan intervensi dini terbukti memberikan hasil yang lebih baik pada si Kecil.
Ciri Autisme pada Bayi Berdasarkan Usia
Sebagai gangguan kognitif dan sosial-emosional, ciri-ciri autisme pada bayi bisa dibedakan sesuai dengan milestone usia si Kecil. Berikut penjelasannya.
1. Ciri Autisme pada Bayi Usia 0–6 Bulan
Pada usia baru lahir hingga usia 6 bulan, bayi autis bisa terlihat dari ciri-ciri berikut:
- Tidak bereaksi terhadap suara atau bereaksi berlebih terhadap suara.
- Jarang atau tidak melakukan kontak mata.
- Mata sulit mengikuti objek bergerak.
- Tidak suka disentuh atau dipeluk.
- Tidak mengulurkan tangan saat akan digendong.
- Tidak merespons bila namanya dipanggil.
2. Ciri Autisme pada Bayi Usia 6–12 Bulan
Pada bayi usia 6–12 bulan, ciri-ciri autisme yang timbul, di antaranya:
- Tidak babbling.
- Tidak tertarik terhadap permainan interaktif, seperti cilukba.
- Jarang menirukan gerakan atau suara orang lain.
- Gerakan tubuh cenderung berulang-ulang, terutama bila stres.
- Sulit tersenyum dengan orang lain.
- Tidak suka berinteraksi dengan orang lain.
- Jarang menunjuk atau melambaikan tangan.
3. Ciri Autisme pada Anak Usia 12–24 Bulan
Ciri-ciri bayi autis pada usia 12–24 bulan tentu lebih kompleks, yakni:
- Terlambat bicara atau tidak bicara sama sekali.
- Kehilangan kemampuan bicara yang sebelumnya dimiliki.
- Stres bila kegiatan rutin berubah.
- Sulit mengikuti instruksi lisan sederhana.
- Berjalan dengan ujung kaki.
- Menunjukkan minat terhadap objek yang spesifik.
- Hanya suka bermain permainan yang berulang, seperti menyusun mainan secara urut.
- Sensitif terhadap stimulasi sensorik tertentu, misalnya memuntahkan makanan dengan tekstur tertentu.
- Mengulang-ulang kata atau kalimat tertentu (echolalia).
|
Perkembangan Normal |
Red Flag |
|
Mulai berceloteh (babbling) pada usia 3–5 bulan |
Tidak berceloteh |
|
Menoleh saat dipanggil pada usia 6–9 bulan |
Tidak merespons saat namanya dipanggil |
|
Mulai menunjuk untuk menunjukkan minat atau meminta sesuatu pada usia 9–12 bulan |
Tidak menunjuk |
Apakah Wajah Bayi Autis Terlihat Berbeda?
Hingga saat ini, belum ada kesimpulan pasti bahwa bayi dengan autisme memiliki ciri wajah khas dibandingkan dengan bayi lain seperti halnya bayi dengan Down syndrome.
Memang, ada studi berskala kecil menemukan, beberapa anak dengan autisme memiliki karakteristik wajah, seperti:
- Wajah bagian atas lebih lebar.
- Wajah bagian tengah lebih pendek.
- Mata lebar.
- Mulut besar.
- Cekungan di bawah hidung (filtrum) lebih pendek.
Namun, perbedaan ciri wajah ini masih sangat samar dan belum bisa digunakan sebagai diagnosis.
Baca juga: 15 Obat Batuk Pilek Anak 1 Tahun yang Alami dan Ampuh
Apakah Anak Autis Selalu Terlambat Bicara?
Bayi dengan autisme cenderung memiliki masalah keterlambatan bicara. Namun, keterlambatan bicara bayi ini berkaitan dengan kemampuan bayi berinteraksi dengan orang lain, seperti:
- Tidak merespons bila namanya dipanggil pada usia 9–12 bulan.
- Tidak babbling hingga usia 12 bulan.
- Tidak bisa mengucapkan kata apa pun pada usia 16 bulan atau kehilangan kosakata yang sudah dimiliki.
- Tidak menunjuk, melambaikan tangan, atau menunjukkan ketertarikan berinteraksi dengan orang lain.
- Sulit kontak mata dan tersenyum dengan orang lain.
Jadi, speech delay pada bayi yang autis merupakan keterlambatan kemampuan berbicara untuk bersosialisasi dengan orang lain.
Kapan Orang Tua Harus Membawa Anak ke Dokter?
Segera bawa ke dokter apabila bayi autis menunjukkan tanda-tanda bahaya berikut:
- Tidak merespons bila dipanggil nama pada usia 6 bulan hingga 12 bulan.
- Tidak mengoceh pada usia 12 bulan.
- Tidak menunjuk pada usia 12 bulan.
- Tidak ekspresif pada usia 12 bulan.
- Tidak mengucap kata berarti pada usia 16 bulan.
- Tidak mengucap 2 kata berarti dan bukan membeo pada usia 24 bulan.
- Kehilangan kemampuan berbahasa atau bersosialisasi pada usia berapa pun.
Hindari menunggu bayi bisa melewati segala milestone dengan sendirinya. Ia tetap butuh terapi dan pengobatan tertentu untuk mengejar ketertinggalan perkembangan.
Kesehatan si Kecil adalah prioritas utama. Dengan menjadi member Nutriclub, Mama bisa mendapatkan panduan kesehatan terpercaya, artikel expert-verified, serta tips praktis untuk menghadapi berbagai kondisi anak dengan lebih tenang. Mama juga bisa akses NutriShop dengan lebih mudah.
Bagaimana Dokter Mendeteksi Autisme pada Anak?
Ada beberapa cara dokter mendeteksi gejala bayi autis pada si Kecil. Berikut penjelasannya.
1. Skrining Perkembangan Rutin
Skrining perkembangan penting untuk mendeteksi gejala autisme sedini mungkin. Dengan begitu, terapi bisa dilakukan sesegera mungkin agar manfaatnya lebih optimal.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganjurkan jadwal skrining tumbuh kembang bayi sesuai usia bayi, yaitu:
- 0–12 bulan: Setiap bulan.
- 12–24 bulan: Setiap 3 bulan.
- 24–72 bulan: Setiap 6 bulan.
2. M-Chat dan Observasi Tumbuh Kembang
M-CHAT adalah kuesioner untuk skrining perilaku autisme pada bayi usia 16 hingga 30 bulan.
Bila hasilnya menunjukkan si Kecil kemungkinan besar memiliki autisme, segera konsultasi dengan dokter untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
3. Pemeriksaan Lanjutan Bila Diperlukan
Skrining dan pemeriksaan tambahan diperlukan apabila bayi berisiko tinggi memiliki autisme, contohnya memiliki saudara kandung yang autis atau menunjukkan ciri-ciri bayi autis.
Selanjutnya, dokter akan meninjau tumbuh kembang si Kecil dan menentukan terapi yang sesuai apabila sudah terdiagnosis autisme.
Baca juga: 15 Obat Demam Anak 2 Tahun yang Alami dan Ampuh
Apakah Autisme Bisa Ditangani?
Ya, bayi autis bisa ditangani apabila sudah terdiagnosis dan mendapatkan terapi sedini mungkin. Dokter dan terapis menyediakan terapi untuk menyetarakan perkembangan sesuai kemampuan si Kecil.
Selain itu, terapi juga penting agar si Kecil bisa berkegiatan lebih optimal dan meningkatkan kualitas hidup si Kecil.
Beberapa terapi yang diperlukan, yaitu:
- Terapi behavioral: Melatih perilaku agar positif, seperti meminta tolong dengan orang lain.
- Terapi wicara: Melatih kemampuan berbicara, seperti menyusun kalimat tanya dan mengutarakan perasaan dengan kata-kata.
- Terapi okupasi: Melatih aktivitas harian yang sulit dilakukan bayi autisme di kemudian hari, seperti menggenggam.
- Pelatihan keterampilan sosial: Melatih si Kecil berstrategi saat berinteraksi dengan orang lain dan memahami arti gestur wajah dan kontak mata.
Pemberian obat-obatan dapat diresepkan jika anak menunjukkan gejala hiperaktif. Obat-obatan tidak dapat memperbaiki atau menyembuhkan gejala inti dari autisme tetapi dapat membantu mengendalikan gejala perilaku.
Apakah Anak Autisme Bisa Hidup Normal?
Tentu, anak autis bisa hidup seperti anak dengan kualitas baik apabila diagnosis dan terapi diberikan sedini mungkin.
IDAI pun menyatakan, anak dengan autisme sangat mungkin hidup mandiri dalam kesehariannya dan hanya butuh sedikit bantuan.
Baca juga: Susu Formula Terhidrolisis dan Manfaatnya bagi Bayi
Bayi autis adalah bayi yang mulai menunjukkan hambatan perkembangan sosial dan emosional. Gejalanya juga memengaruhi kemampuan berbahasa si Kecil.
Rata-rata, bayi dengan autisme sudah menunjukkan ciri-cirinya sejak usia 1–2 tahun, bahkan sudah bisa terlihat sejak usia 2 bulan.
Pastikan Mama terus mendukung kekebalan tubuh si Kecil melalui nutrisi, kebersihan, dan stimulasi yang tepat di 1000 hari pertama kehidupannya. Download Panduan Dukung Daya Tahan Tubuh 1000 Hari Pertama untuk dapatkan tips lengkap dan panduan dari para ahli untuk bantu si Kecil tumbuh kuat dan sehat sejak dini.
