Konstipasi pada bayi merupakan kondisi ketika bayi susah BAB, fesesnya keras atau kering, dan BAB terasa nyeri. Kondisi ini bisa terjadi karena perubahan pola makan, mulai MPASI, kurang cairan, kurang serat, atau faktor medis tertentu. Namun, bayi jarang BAB belum tentu sembelit jika fesesnya tetap lunak dan bayi tampak nyaman.
Apa Itu Konstipasi pada Bayi?
Konstipasi pada bayi biasanya terjadi saat feses bergerak terlalu lambat di saluran cerna. Akibatnya, usus menyerap kembali cairan dalam feses hingga membuatnya keras dan kering.
Frekuensi BAB bayi bisa berbeda-beda, terutama pada bayi ASI, formula, dan bayi yang mulai MPASI. Konstipasi lebih sering muncul saat bayi mulai makanan padat.
Bayi jarang BAB belum tentu sembelit jika fesesnya lunak dan bayi tampak nyaman. Bayi dikatakan sembelit apabila BAB keras, sulit keluar, nyeri, atau disertai darah.
Bagaimana Ciri-Ciri Bayi Mengalami Konstipasi?
Ciri-ciri bayi mengalami konstipasi adalah BAB lebih jarang dari pola biasanya, feses keras, kering, atau berbentuk butiran-butiran kecil. Bayi juga tampak sulit BAB karena feses tidak mudah keluar.
Bayi sembelit juga bisa mengejan lama, menangis, atau tampak kesakitan saat BAB. Perut bayi dapat terlihat kembung atau terasa keras, terutama bila gas dan feses menumpuk serta terdapat bercak darah pada permukaan feses atau popok.
Waspadai jika ada darah pada permukaan feses, bayi rewel, atau nafsu makannya menurun. Gejala ini bisa terjadi saat BAB bayi keras melukai area anus dan membuat bayi tidak nyaman.
Baca Juga: 5 Penyebab Bayi Sering Kentut dan Cara Mengatasinya
Penyebab Konstipasi (Sembelit) pada Bayi
Sembelit atau konstipasi pada bayi adalah gangguan pencernaan yang terjadi karena tubuh sulit mengeluarkan feses dengan sempurna. Lalu, apa saja penyebab sembelit pada bayi?
1. Perubahan dari ASI ke MPASI
Konstipasi bayi cukup sering terjadi saat bayi mulai MPASI. Setelah terbiasa menerima ASI yang berbentuk cair, saluran cerna bayi perlu beradaptasi dengan makanan yang lebih padat.
Perubahan tekstur dan jenis makanan dapat membuat feses menjadi lebih padat. Maka itu, bayi mungkin tampak lebih susah BAB pada masa awal pengenalan MPASI.
2. Kurang Cairan
Kurang cairan dapat membuat feses bayi menjadi lebih kering dan sulit dikeluarkan. Kondisi ini bisa terjadi saat bayi sedang sakit, tumbuh gigi, atau minum lebih sedikit dari biasanya.
Pada bayi yang sudah MPASI, asupan cairan tetap perlu diperhatikan sesuai usia. Namun, pemberian air putih untuk bayi di bawah 6 bulan sebaiknya tidak dilakukan tanpa arahan dokter.
3. Kurang Serat
Pola makan rendah serat dapat membuat feses lebih keras dan kecil. Serat dari buah, sayur, dan gandum utuh membantu mendukung pergerakan usus bayi.
Jika bayi sudah MPASI, Mama bisa mulai mengenalkan makanan tinggi serat secara bertahap. Sesuaikan tekstur makanan dengan usia dan kemampuan makan bayi.
4. Makanan Tertentu
Beberapa makanan dapat membuat sembelit bayi semakin terasa, terutama bila diberikan terlalu sering atau porsinya berlebihan. Contohnya nasi putih, roti putih, pasta, sereal beras, keju, atau pisang yang belum matang.
Bukan berarti semua makanan tersebut harus dihindari sepenuhnya. Mama dapat membatasi sementara dan menyeimbangkannya dengan buah, sayur, serta cairan yang cukup.
5. Susu Formula Tertentu
Pada sebagian bayi, perubahan jenis susu atau jumlah susu yang diminum dapat memengaruhi pola BAB. Namun, hal ini tidak berarti satu merek susu tertentu pasti menyebabkan sembelit.
Jika bayi tampak sembelit setelah perubahan susu, jangan langsung mengganti sendiri. Konsultasikan dengan dokter agar penyebabnya bisa dievaluasi dan pilihan nutrisinya tetap sesuai kebutuhan bayi.
6. Kondisi Medis Tertentu
Walau lebih jarang, konstipasi pada bayi juga dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu. Misalnya alergi makanan, gangguan tiroid, penyakit Hirschsprung, atau fibrosis kistik.
Bayi perlu diperiksa dokter jika sembelit disertai muntah, perut membesar, BAB berdarah, demam, berat badan tidak naik, atau tampak sangat kesakitan saat BAB.
Baca Juga: 9 Cara Alami Mengatasi Perut Kembung pada Bayi
Cara Mengatasi Konstipasi pada Bayi
Meski bayi sembelit merupakan hal yang lazim terjadi, tetapi Mama pasti merasa sedih dan khawatir melihat si Kecil yang susah buang air besar, bukan?
Jangan khawatir, Ma, ada beberapa cara mengatasi sembelit pada bayi di rumah yang bisa dilakukan, lho. Berikut penjelasannya.
1. Tetap Lanjutkan ASI
ASI tetap menjadi sumber cairan dan nutrisi utama bayi, terutama pada usia di bawah 6 bulan. Jika si Kecil mengalami konstipasi, Mama tetap disarankan melanjutkan pemberian ASI sesuai kebutuhan bayi.
Untuk bayi yang sudah MPASI, ASI juga tetap dapat diberikan secara rutin. Asupan cairan dari ASI membantu mendukung fungsi pencernaan dan menjaga tubuh bayi tetap terhidrasi.
2. Tambahkan Cairan Bila Usia >6 Bulan
Jika bayi sudah berusia di atas 6 bulan dan mulai MPASI, Mama dapat menambahkan cairan sesuai kebutuhan.
Pilihlah cairan seperti air putih dalam jumlah wajar, makanan berkuah, atau buah tinggi air seperti melon, semangka, dan mentimun.
Cairan tambahan dapat membantu feses lebih lunak sehingga lebih mudah dikeluarkan. Hindari memberikan jus buah terlalu sering, dan konsultasikan ke dokter bila ingin menggunakannya untuk membantu sembelit bayi.
3. Berikan MPASI Tinggi Serat
Salah satu cara mengatasi konstipasi pada bayi adalah dengan rutin memberikan MPASI tinggi serat.
Ya! Jika si Kecil sudah makan makanan padat, Mama bisa memberikan buah-buahan dan sayuran yang dapat membantu menstimulasi gerakan usus karena kandungan seratnya yang lebih tinggi.
Beberapa pilihan menu makan bayi agar tidak sembelit:
- Puree brokoli atau puree wortel.
- Biji-bijian utuh, seperti oatmeal, roti, pasta gandum.
- Puree buah persik, pir, atau plum.
Baca Juga: 5 Penyebab Diare pada Bayi dan Cara Tepat Mengatasinya
4. Pilih Buah untuk Melancarkan BAB
Untuk bayi yang sudah MPASI, buah tinggi serat dan mengandung sorbitol alami dapat membantu melunakkan feses. Pilihan buah untuk melancarkan BAB bayi antara lain pir, plum, prune, peach, dan pepaya.
Pir dan prune sering direkomendasikan karena mengandung sorbitol yang dapat membantu meredakan konstipasi. Pepaya dan persik juga dapat menjadi variasi buah saat bayi sembelit.
Buah bisa diberikan dalam bentuk puree, potongan lunak, atau disesuaikan dengan kemampuan makan bayi. Berikan bertahap dalam porsi sesuai usia, dan hentikan bila muncul tanda alergi atau keluhan pencernaan.
5. Pijat Perut Bayi
Pijat perut bayi dapat bantu menstimulasi gerakan usus dan membuat bayi lebih nyaman saat sembelit. Mama bisa memijat perut si Kecil secara lembut dengan gerakan memutar searah jarum jam.
Lakukan pijatan saat bayi dalam kondisi tenang, misalnya setelah mandi atau sebelum tidur. Hentikan pijatan jika bayi tampak kesakitan, menangis kuat, atau perutnya terasa sangat keras.
6. Gerakan Bicycle Exercise
Gerakan bicycle exercise dilakukan dengan menggerakkan kaki bayi seperti sedang mengayuh sepeda. Gerakan ini dapat bantu merangsang pergerakan usus dan membantu gas keluar dari perut bayi.
Baringkan bayi telentang, lalu tekuk dan gerakkan kedua kakinya secara perlahan bergantian. Pastikan gerakannya lembut dan tidak dipaksakan agar bayi tetap nyaman.
7. Mandi Air Hangat
Cara mengatasi konstipasi pada bayi selanjutnya adalah memandikan dengan air hangat. Langkah ini bertujuan untuk meringankan rasa tidak nyaman yang berkaitan dengan gejala bayi konstipasi.
Memandikannya dengan air hangat juga dapat menenangkan bayi sekaligus melonggarkan otot-otot perut bayi yang kaku dan membuatnya berhenti mengejan.
Pastikan Mama memandikan bayi dengan air hangat suam-suam kuku, ya, agar kulit si Kecil tidak terluka.
Pilihan Makanan yang Aman untuk Bayi Sembelit
Untuk bayi yang sudah MPASI, pilihan makanan tinggi serat dapat membantu melunakkan feses. Mama bisa memberikan buah seperti pir, plum, pepaya, dan persik sesuai tekstur makan bayi.
Sayuran juga bisa ditambahkan secara bertahap, misalnya brokoli, bayam, dan labu. Sajikan dalam bentuk puree, cincang halus, atau potongan lunak sesuai usia dan kemampuan mengunyah bayi.
Gandum utuh seperti oatmeal juga dapat menjadi pilihan MPASI saat bayi sembelit. Berikan bersama cairan yang cukup agar serat dapat membantu BAB bayi lebih lancar.
Makanan yang Sebaiknya Dibatasi Saat Bayi Sembelit
Saat bayi sembelit, batasi sementara makanan rendah serat atau yang cenderung membuat feses lebih padat. Contohnya pisang yang belum matang, nasi putih berlebihan, roti putih, dan sereal beras.
Makanan ultra processed juga sebaiknya dihindari karena umumnya rendah serat dan kurang mendukung pola makan seimbang. Sebagai gantinya, pilih buah, sayur, oatmeal, atau gandum utuh yang sesuai usia bayi.
Pembatasan ini bukan berarti semua makanan tersebut dilarang total. Mama dapat mengatur porsinya sambil mencukupi cairan dan serat agar BAB bayi lebih mudah keluar.
Butuh insight dari ahli di tengah kesibukan? Jangan ragu untuk diskusi langsung dengan Nutriclub Expert Advisor, tim ahli terpercaya kami di bidang nutrisi, parenting, dan tumbuh kembang anak. Hadir 24/7 untuk bantu Mama, gratis dan tanpa perlu buat janji.
Bagaimana Cara Mencegah Konstipasi pada Bayi?
Konstipasi pada bayi dapat dicegah dengan menjaga cairan, serat, jadwal makan, dan aktivitas sesuai usia. Mama juga perlu memantau pola BAB karena setiap bayi bisa punya ritme berbeda.
1. Cukupi Cairan
Menurut Angka Kecukupan Gizi Kemenkes, kecukupan air bayi 0–5 bulan adalah 700 ml/hari dan 6–11 bulan 900 ml/hari. Pada bayi di bawah 6 bulan, kebutuhan cairan utamanya dipenuhi dari ASI.
Untuk bayi di atas 6 bulan, cairan bisa berasal dari ASI, air putih secukupnya, MPASI berkuah, dan buah tinggi air. Sesuaikan jumlahnya dengan usia dan kebutuhan bayi.
2. Beri MPASI Seimbang
Saat bayi mulai MPASI, berikan makanan bergizi seimbang dengan sumber karbohidrat, protein, lemak, sayur, dan buah. Variasi makanan membantu mendukung kesehatan pencernaan bayi.
Kemenkes menganjurkan kecukupan serat 11 gram per hari untuk bayi usia 6-11 bulan. Serat dapat diperoleh dari buah, sayur, dan gandum utuh sesuai tekstur makan bayi.
3. Atur Jadwal Makan
Jadwal makan yang teratur dapat membantu bayi mengenali rasa lapar dan kenyang. Pola makan yang konsisten juga membantu sistem pencernaan bekerja lebih teratur.
Mama bisa membuat jadwal MPASI sesuai usia bayi, tanpa memaksa bayi makan terlalu banyak. Perhatikan respons bayi agar waktu makan tetap nyaman.
4. Aktivitas Fisik Sesuai Usia
Aktivitas fisik sesuai usia dapat membantu merangsang gerakan usus bayi. Untuk bayi yang masih kecil, tummy time dan gerakan kaki ringan bisa dilakukan saat bayi sedang nyaman.
Pada bayi yang sudah lebih besar, beri kesempatan untuk berguling, merangkak, atau bergerak aktif. Hindari membiarkan bayi terlalu lama dalam posisi duduk pasif.
5. Pantau Pola BAB
Pantau frekuensi BAB, bentuk feses, dan tanda tidak nyaman saat bayi BAB. Bayi jarang BAB belum tentu sembelit bila fesesnya tetap lunak dan bayi tampak nyaman.
Segera konsultasikan ke dokter bila BAB keras terus berulang, disertai darah, muntah, perut membesar, demam, atau berat badan tidak naik.
Kapan Bayi Susah BAB Harus Dibawa ke Dokter?
Bayi susah BAB perlu dibawa ke dokter jika konstipasi tidak membaik meski sudah dibantu di rumah. Pemeriksaan penting untuk mengetahui penyebab dan menentukan penanganan yang tepat.
Segera cari bantuan medis bila bayi muntah hijau, BAB berdarah, demam, perut membesar, atau tidak BAB beberapa hari disertai nyeri hebat. Waspadai juga jika bayi tampak lemas, sulit menyusu, atau muntah berulang.
Bayi baru lahir perlu segera diperiksa jika tidak mengeluarkan mekonium dalam 24-48 jam pertama. Konsultasikan juga bila berat badan bayi tidak naik atau tampak gagal tumbuh.
Kesehatan si Kecil adalah prioritas utama. Dengan menjadi member Nutriclub, Mama bisa mendapatkan panduan kesehatan terpercaya, artikel expert-verified, serta tips praktis untuk menghadapi berbagai kondisi anak dengan lebih tenang. Mama juga bisa akses NutriShop dengan lebih mudah.
