Loading...
    Banner Artikel Kenapa Bayi Prematur Rentan Sakit? Ini Gangguan Kesehatan yang Sering Terjadi
    Kesehatan

    Kenapa Bayi Prematur Rentan Sakit? Ini Gangguan Kesehatan yang Sering Terjadi

    Disusun oleh: Tim Penulis

    Diterbitkan: 15 Januari 2020

    Diperbarui: 09 Juli 2026


    • Kenapa Bayi Prematur Rentan Sakit?
    • Masalah Kesehatan yang Sering Dialami Bayi Prematur
    • Tanda Bayi Prematur Harus Segera Dibawa ke Dokter
    • Bagaimana Mencegah Bayi Prematur Jatuh Sakit?
    • Cara Merawat Bayi Prematur di Rumah
    • Apakah Bayi Prematur Bisa Tumbuh Normal?

    Masalah kesehatan bayi prematur umumnya disebabkan karena perkembangan janin yang belum sempurna di trimester ketiga kehamilan, sehingga berdampak pada sistem imun serta kemampuan bayi lainnya seperti pernapasan, pencernaan, hingga regulasi suhu tubuh.

    Kenapa Bayi Prematur Rentan Sakit?

    Dengan masih berkembangnya organ tubuh, gangguan kesehatan bayi prematur sering muncul, meliputi kesulitan bernapas, makan, bahkan mengatur suhu internalnya.

    1. Sistem Imun Belum Berkembang Optimal

    Dibandingkan dengan bayi cukup bulan, sistem kekebalan tubuh bayi prematur lebih lemah karena kurang mampu melawan infeksi bakteri dan mendeteksi virus dalam sel.

    Hal ini karena bayi prematur melewatkan proses krusial pada sebagian atau bahkan seluruh trimester ketiga, di mana periode tersebut biasanya waktu bayi mendapatkan transfer antibodi (IGg) dari Mama.

    2. Paru-paru Masih Belum Matang

    Masalah kesehatan bayi prematur yang juga sering dialami adalah gangguan pernapasan. Paru-parunya belum berkembang sempurna, sehingga tidak dapat menyediakan oksigen cukup dan menyebabkan kesulitan bernapas.

    Gangguan pernapasan ini terjadi karena janin belum menghasilkan cukup zat surfaktan selama dalam kandungan untuk menjaga paru-paru tetap mengembang.

    Zat ini biasanya baru diproduksi dalam jumlah cukup untuk bernapas normal pada minggu ke 34, sedangkan bayi prematur seringkali lahir jauh sebelum periode tersebut.

    3. Cadangan Lemak dan Nutrisi Lebih Sedikit

    Bayi prematur kerap kekurangan vitamin dan mineral esensial yang akhirnya menyebabkan masalah kesehatan bayi prematur dan memengaruhi sistem imunnya. 

    Begitu juga dengan cadangan lemak baik seperti DHA yang sangat penting untuk perkembangan otak bayi.

    Banyak vitamin dan mineral penting seperti vitamin A, zat besi, dan zinc yang terakumulasi pada janin saat trimester ketiga kehamilan, sedangkan bayi prematur lahir sebelum periode tersebut selesai.

    Baca Juga: Growth Spurt: Tanda sampai Cara Menghadapinya Tanpa Panik

    4. Sulit Menjaga Suhu Tubuh

    Saat baru lahir bayi harus menjalani banyak adaptasi, salah satunya menyesuaikan suhu tubuh dengan cepat karena perbedaan temperatur lingkungannya.

    Bayi prematur seringkali sulit meregulasi suhu tubuhnya dengan cepat seperti bayi cukup bulan, sehingga akhirnya sangat berisiko mengalami hipotermia dan komplikasi terkait lainnya.

    5. Refleks Menyusu dan Menelan Belum Sempurna

    Tahukah Mama jika bayi sudah belajar mengisap dan menelan sejak dalam kandungan? Di dalam rahim, janin berlatih mengisap jarinya dan menelan cairan ketuban.

    Refleks mengisap ini baru mulai terjadi di minggu ke 32 kehamilan dan baru benar-benar sempurna di minggu ke 36. Latihan mengisap akan membantu bayi menyusu dan menelan ASI.

    Pada bayi prematur, kemampuan ini seringkali belum bisa dilakukan dengan sempurna sehingga bayi kesulitan menyusu dan harus mendapatkan nutrisinya melalui selang makan.

    Masalah Kesehatan yang Sering Dialami Bayi Prematur

    Pada trimester ketiga kehamilan, janin biasanya mengalami perkembangan pesat sehingga gangguan pada bayi prematur sulit dihindarkan. Berikut beberapa penyakit yang sering dialami bayi prematur.

    1. Gangguan Pernapasan

    Pada bayi prematur, bagian dari sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang) yang mengontrol pernapasan belum cukup matang untuk bernapas tanpa henti. Karena ini, bayi prematur kerap mengalami apnea prematuritas.

    Gejalanya meliputi berhenti bernapas selama 15 hingga 20 detik atau lebih, denyut jantung melambat, dan akhirnya menyebabkan kulit bayi tampak biru atau abu karena kekurangan oksigen. 

    Bayi prematur juga berisiko mengalami Respiratory Distress Syndrome (RDS) atau gangguan pernapasan yang terjadi karena paru-paru belum berkembang sempurna. Gejalanya nafas cepat dan otot dada melemah.

    2. Infeksi yang Lebih Mudah Terjadi

    Lemahnya sistem imun membuat bayi prematur mudah infeksi. Infeksi pada bayi prematur dapat terjadi di mana saja, termasuk paru-paru, darah, saluran kemih, atau cairan otak. 

    Penyakit seperti influenza, sepsis, bronkiolitis, hingga pneumonia merupakan beberapa masalah kesehatan bayi prematur yang paling umum.

    Baca Juga: Perkembangan Bayi Prematur: Tahap dan Cara Optimalkan

    3. Berat Badan Sulit Naik

    Masalah kesehatan bayi prematur termasuk kesulitan menyusu karena kemampuan mengisapnya belum optimal. Bayi prematur juga rentan dehidrasi karena ginjalnya belum cukup berkembang

    Sehingga mereka mungkin perlu mendapatkan nutrisi dan cairan melalui infus. Beberapa bayi yang sudah kuat tubuhnya, bisa mendapatkan susu dari selang yang dimasukkan lewat hidung atau mulut.

    Selain itu, bayi prematur juga belum cukup lama di rahim untuk menyimpan nutrisi. Hal-hal ini lah yang membuat mereka sulit naik berat badan.

    4. Masalah Pencernaan

    Sistem pencernaan yang belum optimal membuat rentan terkena penyakit bayi prematur, apalagi ditambah daya tahan tubuh yang juga lemah.

    Bayi prematur rentan terkena komplikasi saluran cerna, seperti Necrotising Enterocolitis (NEC) yaitu kondisi saat jaringan usus mati dan bisa menyebabkan lubang pada usus untuk bakteri masuk.

    Selain itu, bayi prematur juga rentan mengalami intoleransi makanan serta gangguan malabsorbsi yang tentunya berdampak signifikan pada pertumbuhannya.

    Baca Juga: ASI untuk Pencernaan Bayi: Manfaat, Kandungan, dan Cara Kerjanya

    5. Penyakit Kuning (Jaundice)

    Jaundice atau penyakit kuning sebenarnya sangat umum terjadi dan tidak berbahaya pada bayi yang baru lahir. Tetapi pada bayi prematur, kondisi ini bisa berlangsung lebih lama dan menyebabkan komplikasi.

    Jaundice pada bayi prematur bisa lebih berbahaya karena dapat menembus lapisan otak dan mengakibatkan gangguan saraf, meliputi gangguan pandangan visual, pendengaran, hingga bicara.

    6. Gangguan Penglihatan dan Pendengaran

    Pertumbuhan janin paling pesat terjadi di 12 minggu terakhir kehamilan. Sedangkan bayi prematur melewatkan periode tersebut, sehingga ia bisa mengalami gangguan pendengaran dan penglihatan

    Bayi prematur rentan terkena Retinopathy of Prematurity (ROP) atau cacat bawaan yang bisa memengaruhi satu atau kedua mata. 

    Hal ini terjadi karena retinanya belum selesai berkembang. ROP yang tidak ditangani dapat menyebabkan kebutaan permanen.

    Gangguan pendengaran juga bisa terjadi pada bayi prematur. Jika tidak didiagnosa dan dirawat sejak dini, bisa menyebabkan kehilangan pendengaran total.

    7. Anemia

    Anemia terjadi ketika si Kecil memiliki sel darah merah lebih rendah dari normal, sehingga memengaruhi pengiriman oksigen ke seluruh tubuh. Bayi cukup bulan juga bisa mengalami anemia, tapi bayi prematur lebih rentan.

    Selama trimester terakhir kehamilan, janin membangun cadangan zat besi dan produksi sel darah merah. Bayi prematur melewatkan periode ini sehingga lebih berisiko terkena anemia.

    Selain itu, bayi prematur sering membutuhkan tes darah rutin. Sedangkan volume darah total yang lebih kecil bisa mengakibatkan bayi mengalami anemia.

    8. Keterlambatan Tumbuh Kembang

    Berbagai riset menunjukkan bahwa bayi prematur berisiko lebih tinggi mengalami gangguan perkembangan saraf dan cedera otak.

    Cerebral palsy juga kerap menjadi masalah kesehatan bayi prematur, serta keterlambatan perkembangan, mulai dari kognitif, sensorik, serta motorik.

    Meski begitu, intervensi dini dan intensif dilaporkan bisa membantu bayi berkembang normal seperti bayi cukup bulan lainnya.

    Tanda Bayi Prematur Harus Segera Dibawa ke Dokter

    Jika si Kecil sudah boleh pulang dari rumah sakit, tapi mengalami tanda masalah kesehatan bayi prematur di bawah ini, segera bawa bayi ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

    • Napasnya mulai berbunyi
    • Kulit membiru atau abu-abu
    • Demam tinggi dan lemas
    • Tidak mau menyusu
    • Muntah berwarna hijau
    • Kejang-kejang
    • Berat badan tidak naik

    Bagaimana Mencegah Bayi Prematur Jatuh Sakit?

    Masalah kesehatan bayi prematur seringkali tak terhindarkan. Namun, Mama masih bisa melakukan tindakan pencegahan dan perawatan agar si Kecil terhindar dari penyakit bayi prematur.

    1. Berikan ASI Eksklusif

    ASI punya peran penting dalam kesehatan bayi prematur. ASI mengurangi risiko Necrotising Enterocolitis yang dapat merusak pencernaan serta risiko infeksi darah (sepsis).

    Bayi prematur yang menerima ASI eksklusif memiliki pertumbuhan jangka panjang, perkembangan neurologis, serta perkembangan kognitif yang lebih baik.

    American Academy of Pediatrics juga merekomendasikan pemberian ASI donor dibandingkan susu buatan untuk bayi prematur.

    Kunjungi Exclusive Hub Nutriclub untuk menikmati berbagai konten premium gratis, seperti e-book, podcast, dan video edukasi. Temukan segala informasi tepercaya seputar kehamilan, nutrisi tepat, perkembangan kognitif, serta tips menjaga imunitas dan daya tahan tubuh anak langsung dari ahlinya.

    2. Lakukan Kangaroo Mother Care (KMC)

    Kangaroo Mother Care (KMC) adalah perawatan untuk bayi prematur atau bayi dengan berat badan rendah dengan cara melakukan kontak skin-to-skin sambil memberikan ASI eksklusif.

    WHO juga menetapkan standar bahwa KMC dilakukan sedini mungkin setelah melahirkan selama idealnya 24 jam sehari atau setidaknya 8 jam sehari.

    KMC terbukti memberikan banyak manfaat, mulai dari mencegah hipotermia, menurunkan risiko infeksi sepsis, hingga menurunkan angka kematian pada bayi.

    3. Hindari Tempat Ramai dan Batasi Kontak dengan Orang Sakit

    Daya tahan tubuh bayi prematur masih sangat rentan. Mama harus menghindari tempat umum di mana banyak orang sakit yang mungkin bisa menularkan kuman ke bayi selama setidaknya 3 bulan pertama.

    Jauhi keramaian dan tempat-tempat sempit yang penuh sesak, seperti misalnya mal, bioskop, pesawat terbang, sekolah, daycare, dan tempat-tempat ramai lainnya.

    Jangan izinkan siapa pun berada di dekat bayi prematur jika mereka sedang sakit, pernah sakit, atau pernah berada di dekat seseorang yang sakit untuk menghindari penularan kuman dan penyakit.

    4. Rutin Cuci Tangan Sebelum Menyentuh Bayi

    Sebagian besar kuman menyebar melalui tangan. Mama dan seluruh anggota keluarga yang merawat si Kecil harus rajin mencuci tangan dengan bersih dan sering.

    Gunakan air bersih yang mengalir dan sabun. Bersihkan seluruh tangan mulai dari bawah kuku, antara jari, hingga pergelangan tangan. Lakukan setidaknya 20 detik, lalu bilas dan biarkan air mengalir ke ujung jari.

    5. Lengkapi Imunisasi Tepat Waktu

    Bayi prematur tetap bisa melakukan imunisasi asalkan kondisi medis mereka stabil dan tidak ada kontraindikasi terhadap vaksinasi. 

    Justru dengan melengkapi imunisasi, si Kecil semakin terlindungi dari berbagai risiko penyakit dan mencegah masalah kesehatan bayi prematur.

    Bayi prematur tetap perlu mendapatkan imunisasi sesuai jadwal berdasarkan usia sejak lahir, bukan usia koreksinya. Dengan kata lain, vaksin tidak ditunda hanya karena bayi lahir lebih awal.

    Baca Juga: Jadwal Imunisasi Bayi Lengkap 2026 dari IDAI (0–12 Bulan)

    6. Jaga Suhu Tubuh Bayi Tetap Hangat

    Karena bayi prematur sulit untuk meregulasi suhu tubuhnya sendiri, mereka memiliki risiko tinggi mengalami hipotermia karena perbedaan suhu di rahim dan di lingkungan biasa. 

    Bayi prematur harus tetap dijaga agar merasa hangat. Selain dengan metode KMC, Mama bisa menjaga suhu di rumah antara 16 hingga 20 derajat Celcius. 

    Si Kecil juga tidak perlu menggunakan pakaian tebal jika suhu ruangan sudah cukup hangat.

    7. Pantau Berat Bayi dan Jadwal Kontrol

    Untuk memantau pertumbuhan bayi biasanya menggunakan Grafik Pertumbuhan dari WHO atau KMS (Kartu Menuju Sehat). Sayangnya, kedua grafik tersebut tidak bisa digunakan untuk bayi yang lahir prematur.

    Sebagai alternatif, Mama bisa gunakan Kurva Fenton yang sudah diakui oleh berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Prancis, Portugis, Tiongkok, dan lain-lain.

    Jangan lewatkan jadwal kontrol terutama jika si Kecil memang sudah memiliki gejala awal penyakit. Semakin cepat ditangani, maka semakin besar kesempatan si Kecil tumbuh besar secara sehat dan optimal.

    8. Pantau Jadwal Menyusu

    Bayi prematur rentan memiliki masalah pemberian makanan terutama setelah keluar dari NICU. Memantau jadwal menyusu dapat mengurangi keterlambatan pertumbuhan.

    Dokter atau perawat di rumah sakit biasanya akan memberikan panduan yang sesuai dengan kondisi bayi secara individual. 

    Sebagai acuan, bayi prematur biasanya mengonsumsi sekitar 350–443 ml ASI per hari yang dibagi ke dalam 8 kali sesi menyusu.

    Pastikan Mama terus mendukung kekebalan tubuh si Kecil melalui nutrisi, kebersihan, dan stimulasi yang tepat di 1000 hari pertama kehidupannya. Download Panduan Dukung Daya Tahan Tubuh 1000 Hari Pertama untuk dapatkan tips lengkap dan panduan dari para ahli untuk bantu si Kecil tumbuh kuat dan sehat sejak dini.

    Cara Merawat Bayi Prematur di Rumah

    Setelah lahir, bayi prematur biasanya dirawat di NICU dan dipantau secara intensif. Setelah pulang ke rumah, Mama harus tahu cara merawat si Kecil agar tetap sehat dan mencegah masalah kesehatan bayi prematur.

    1. Pastikan Bayi Tidur dengan Aman

    Bayi yang baru lahir kerap mengalami kematian mendadak (SIDS), salah satu penyebabnya adalah tercekik secara tidak sengaja saat tidur. Bayi prematur berisiko 2 hingga 3 kali lebih tinggi mengalami SIDS dibandingkan bayi cukup bulan.

    Cara paling aman bagi bayi untuk tidur adalah telentang, di tempat tidur terpisah miliknya sendiri tetapi di ruangan yang sama dengan Anda setidaknya selama enam bulan pertama.

    Jauhkan bayi dari bantal, selimut tebal, mainan, boneka, atau seprai longgar yang bisa menutupi wajah bayi.

    2. Cara Menyusui Bayi Prematur di Rumah

    Bayi prematur umumnya membutuhkan posisi menyusui yang memberikan dukungan ekstra pada kepala dan leher. Pastikan tubuhnya tersangga dengan bantal agar kepalanya mudah meraih payudara Mama.

    Selain itu, Mama juga bisa coba posisi di mana Mama sedikit bersandar lalu bayi berbaring di dada sehingga seluruh tubuhnya tersangga dengan baik. Ini posisi yang nyaman serta mendukung kontak skin-to-skin.

    3. Jaga Kebersihan Rumah

    Dengan kekebalan tubuh bayi prematur yang masih lemah, kebersihan rumah jadi sangat penting diperhatikan agar si Kecil tidak mudah terkena infeksi.

    Selalu bersihkan tempat tidur bayi, sanitasi botol susu, pompa ASI, serta peralatan makan lainnya. Jangan lupa juga untuk cuci tangan saat menyiapkan ASI. 

    4. Kapan Bayi Boleh Keluar Rumah?

    Untuk mencegah masalah kesehatan bayi prematur, sebaiknya bayi prematur tidak dibawa ke tempat umum selama setidaknya 3 bulan pertama setelah pulang dari rumah sakit.

    Setelah 3 bulan, bayi yang lahir prematur bisa diajak untuk pergi keluar rumah sebentar, seperti berjalan-jalan di sekitar rumah atau taman. Namun, tetap jauhi keramaian untuk menghindari penyebaran kuman.

    Apakah Bayi Prematur Bisa Tumbuh Normal?

    Meski mengalami masalah kesehatan bayi prematur, si Kecil bisa tetap tumbuh normal, Ma. Tetapi tergantung usia kehamilan dan perawatannya.

    Beberapa bayi yang lahir prematur akan mengalami masalah pertumbuhan yang parah akibat berbagai komplikasi, sementara yang lain akan pulih lebih cepat dan mengalami peningkatan pertumbuhan yang lebih cepat.

    Peningkatan pertumbuhan pada bayi prematur atau catch-up growth membutuhkan waktu yang lama dan sangat dipengaruhi oleh pemberian nutrisi yang cermat serta stimulasi yang disesuaikan dengan usia.

    Kesehatan si Kecil adalah prioritas utama. Dengan menjadi member Nutriclub, Mama bisa mendapatkan panduan kesehatan terpercaya, artikel expert-verified, serta tips praktis untuk menghadapi berbagai kondisi anak dengan lebih tenang. Mama juga bisa akses NutriShop dengan lebih mudah.

    Informasi yang Wajib Mama Ketahui

    Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Mama
    1. Apnea of Prematurity. (2023). Kidshealth.org. https://kidshealth.org/en/parents/aop.html
    2. Apnea of Prematurity (AOP) Symptoms, Causes & Treatment. (2025, February 12). Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/apnea-of-prematurity
    3. Barak, S., Kushnir, A., Chulski, E., & Miron, D. (2010). Influenza A/H1N1 virus in very low-birth-weight premature infant: case report. American journal of perinatology, 27(7), 513–515. https://doi.org/10.1055/s-0030-1247606
    4. Caring for a premature baby at home. (n.d.). HSE.ie. https://www2.hse.ie/babies-children/parenting-advice/premature-babies/caring-for-premature-baby-home/
    5. CDC. (2025, March 26). How to Clean, Sanitize, and Store Infant Feeding Items. Water, Sanitation, and Environmentally Related Hygiene (WASH). https://www.cdc.gov/hygiene/about/clean-sanitize-store-infant-feeding-items.html
    6. Collins, A., Weitkamp, J. H., & Wynn, J. L. (2018). Why are preterm newborns at increased risk of infection?. Archives of disease in childhood. Fetal and neonatal edition, 103(4), F391–F394. https://doi.org/10.1136/archdischild-2017-313595
    7. Conaway, B. (2011, October 9). Eye Problems in Premature Babies. WebMD. https://www.webmd.com/eye-health/premature-babies-eye-problems
    8. CPBF. (2023, April 4). Jaundice in preterm infants. CPBF. https://www.cpbf-fbpc.org/post/jaundice-in-preterm-infants
    9. Discharge Instructions: Going Out, Visitors, and Your Premature Infant | UMass Memorial Health. (2025). Ummhealth.org. https://www.ummhealth.org/health-library/discharge-instructions-going-out-visitors-and-your-premature-infant
    10. Feeding Tips for Premature Babies: Ensuring Healthy Growth. (2017, April 27). Unitypoint.org; UnityPoint Health. https://www.unitypoint.org/news-and-articles/caring-for-a-premature-baby-feeding
    11. Gastrointestinal complications associated with prematurity. (2025, April 4). The Pharmaceutical Journal. https://pharmaceutical-journal.com/article/ld/gastrointestinal-complications-associated-with-prematurity
    12. Goodstein, M. H., Stewart, D. L., Keels, E. L., & Moon, R. Y. (2021). Transition to a Safe Home Sleep Environment for the NICU Patient. Pediatrics, 148(1). https://doi.org/10.1542/peds.2021-052045
    13. Growth of the Prematurely Born Child | Emory School of Medicine. (2017). Emory.edu. https://med.emory.edu/departments/pediatrics/divisions/neonatology/dpc/artgrow.html
    14. Hearing Loss in Premature Babies. (2016). Salusuhealth.com. https://www.salusuhealth.com/news/2016/11/hearing-loss-in-premature-babies.html
    15. Hee Chung, E., Chou, J., & Brown, K. A. (2020). Neurodevelopmental outcomes of preterm infants: a recent literature review. Translational pediatrics, 9(Suppl 1), S3–S8. https://doi.org/10.21037/tp.2019.09.10
    16. Infections and the premature baby. (2025, March 6). Aboutkidshealth.ca; AboutKidsHealth. https://www.aboutkidshealth.ca/infections-and-the-premature-baby
    17. Kangaroo mother care: a clinical practice guide. (2025). Who.int. https://www.who.int/publications/m/item/kangaroo-mother-care--a-clinical-practice-guide
    18. Kurva Fenton - Anak Indonesia Sehat. (2021, October 20). Anak Indonesia Sehat. https://anakindonesiasehat.com/pertumbuhan/kurva-fenton/
    19. Melville, J. M., & Moss, T. J. (2013). The immune consequences of preterm birth. Frontiers in neuroscience, 7, 79. https://doi.org/10.3389/fnins.2013.00079
    20. Necrotizing Enterocolitis (NEC): What is it, Causes & Treatment. (2023, September 5). Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/10026-necrotizing-enterocolitis
    21. Necula, A.-I., Stoiciu, R., Radulescu Botica, R., Durdu, C.-E., & Bohiltea, R. (2025). Neurological Outcomes in Late Preterm Infants: An Updated Review of Recent Research and Clinical Insights. Diagnostics, 15(12), 1514. https://doi.org/10.3390/diagnostics15121514
    22. Need, P. (2025, January 29). NEOwell. NEOwell. https://www.neowellpartners.com/blog/anemia-of-prematurity-what-parents-need-to-know
    23. Neonatal weight gain and nutrition: MedlinePlus Medical Encyclopedia. (2025). Medlineplus.gov. https://medlineplus.gov/ency/article/007302.htm
    24. Newborn Reflexes. (2026). Stanfordchildrens.org. https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=newborn-reflexes-90-P02630
    25. NHS website. (2018, February). Newborn respiratory distress syndrome. Nhs.uk. https://www.nhs.uk/conditions/neonatal-respiratory-distress-syndrome/#:~:text=Newborn%20respiratory%20distress%20syndrome%20(NRDS,or%20surfactant%20deficiency%20lung%20disease
    26. Non-nutritive sucking in preterm babies | North Bristol NHS Trust. (2024). Nbt.nhs.uk. https://www.nbt.nhs.uk/our-services/a-z-services/neonatal-intensive-care-unit/nicu-useful-links/non-nutritive-sucking-preterm-babies
    27. Pammi, M., & Patel, R. M. (2022). Nutritional Supplements to Improve Outcomes in Preterm Neonates. Clinics in perinatology, 49(2), 485–502. https://doi.org/10.1016/j.clp.2022.02.012
    28. Premature babies - The Lullaby Trust. (2026, March 9). The Lullaby Trust. https://www.lullabytrust.org.uk/baby-safety/premature-babies-and-multiples/premature-babies/
    29. Respiratory Distress Syndrome | Boston Children’s Hospital. (2026). Childrenshospital.org. https://www.childrenshospital.org/conditions-treatments/respiratory-distress-syndrome
    30. Roychoudhury, S., & Yusuf, K. (2017). Thermoregulation: Advances in Preterm Infants. NeoReviews, 18(12), e692–e702. https://doi.org/10.1542/neo.18-12-e692
    31. Sherlock, L. G., & Krebs, N. F. (2023). Small and Mighty: Micronutrients at the Intersection of Neonatal Immunity and Infection. NeoReviews, 24(3), e158–e174. https://doi.org/10.1542/neo.24-3-e158
    32. Skinner, A. M., & Narchi, H. (2021). Preterm nutrition and neurodevelopmental outcomes. World journal of methodology, 11(6), 278–293. https://doi.org/10.5662/wjm.v11.i6.278
    Artikel Terkait

    Keuntungan Daftar Nutriclub

    Icon Info & Tips Eksklusif via WA

    Info & Tips Eksklusif via WA

    Panduan tumbuh kembang bulanan si Kecil langsung di genggaman Mama

    Icon 24/7 Nutriclub Expert Advisor

    24/7 Nutriclub Expert Advisor

    Hubungi ahli untuk pertanyaan seputar nutrisi, tumbuh kembang, dan informasi terkait Nutriclub melalui Whatsapp/call center

    Gabung Nutriclub

    *yang sudah terhubung dengan WhatsApp
    Minimal 8 Karakter, Memiliki 1 angka (0-9) dan 1 karakter spesial (@#$%^&)
    *Usia si Kecil Maksimal 7 Tahun