Imunisasi campak berperan penting dalam melindungi si Kecil dari infeksi campak. Melalui vaksin MMR, sistem imun bayi distimulasi untuk mengenali dan melawan virus campak sehingga membantu mencegah terjadinya penyakit tersebut dan risiko komplikasi yang menyertainya.
Apa Itu Imunisasi Campak?
Imunisasi campak adalah tindakan pemberian vaksin yang dilakukan untuk melindungi tubuh dari risiko infeksi virus campak.
Imunisasi campak tersedia dalam dua jenis yang paling sering digunakan, yaitu vaksin MR dan vaksin MMR.
Vaksin MR (measles dan rubella) berfungsi melindungi anak dari penyakit campak dan rubella, sementara MMR (measles, gondongan/mumps, dan rubella) mencakup campak, gondongan, dan rubella sekaligus.
Fungsi dan Manfaat Vaksin Campak
Fungsi vaksin campak adalah melindungi bayi dari paparan virus penyebab campak, yaitu Paramyxovirus. Virus ini sangat mudah menular melalui droplet (percikan air liur) dari orang lain yang terinfeksi.
Manfaat vaksin campak bisa mencegah komplikasi serius pada anak di bawah 5 tahun, seperti radang otak, diare hebat, hingga pneumonia.
Imunisasi campak pun penting untuk menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity). Semakin banyak anak yang diimunisasi di suatu area, semakin sulit virus menginfeksi sehingga penularan pun menurun.
Hingga kini, belum ada pengobatan untuk mematikan virus penyebab campak. Maka, memberikan vaksin MR/MMR sesuai jadwal adalah langkah terbaik untuk melindungi si Kecil.
Imunisasi Campak Umur Berapa?
Agar efek perlindungannya optimal untuk si Kecil, vaksin campak perlu diberikan sesuai jadwal imunisasi yang direkomendasikan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)yaitu:
- Usia 9 bulan: Dosis pertama dengan vaksin MR.
- Usia 5–18 bulan: Dosis kedua menggunakan vaksin MR/MMR.
- Usia 5–7 tahun: Dosis ketiga dengan vaksin MR/MMR.
Vaksin diberikan bertahap agar kekebalan terbentuk dari waktu ke waktu. Dosis lanjutan tetap diperlukan untuk mempertahankan fungsi perlindungan seiring bertambahnya usia.
Lalu, apakah boleh imunisasi campak usia 10 bulan? Boleh saja, karena batas usia imunisasi campak dosis pertama adalah usia 12 bulan. Namun, kejarlah dosis yang terlewat ini dengan vaksin MR/MMR.
Alangkah lebih baik jika Mama bisa menyegerakan vaksinasi sesuai jadwalnya agar si Kecil bisa mendapatkan perlindungan yang optimal.
Baca Juga: Bayi Boleh Dimandikan Setelah Imunisasi, Begini Caranya
Efek Samping Imunisasi Campak
Imunisasi campak disuntikkan di bawah lapisan kulit paha luar anak. Ada beberapa efek samping ringan yang biasanya muncul 48 jam setelah bayi mendapatkan vaksin campak, antara lain:
- Rasa tidak nyaman di bekas suntikan.
- Demam ringan.
- Ruam merah pada kulit.
- Gejala seperti pilek.
- Pembengkakan kelenjar getah bening (3 minggu pasca imunisasi).
Meski jarang, ada beberapa efek samping yang harus diwaspadai, yaitu:
- Demam tinggi.
- Kejang.
- Reaksi alergi berat, meliputi ruam, pembengkakan wajah dan tenggorokan, susah bernapas, jantung berdegup, dan lemas.
Segeralah bawa ke dokter bila timbul gejala reaksi berat, demam lebih tiga hari, atau demam mencapai suhu 39°C ke atas.
Baca Juga: Ciri-Ciri Imunisasi BCG yang Gagal pada Bayi
Cara Mengatasi Efek Samping Imunisasi Campak
Mama Papa tidak perlu panik ketika muncul efek samping ringan setelah vaksinasi. Sebab, sebagian besar kondisi tersebut dapat diatasi dirumah dengan cara:
1. Susui Lebih Sering
Setelah imunisasi, sistem imun tubuh si Kecil biasanya bereaksi sehingga menimbulkan demam ringan.
Untuk mengurangi demam dan mencegah terjadinya dehidrasi, Mama perlu menyusui si Kecil lebih sering. Mama juga bisa berikan air putih hangat,air kelapa, atau air kaldu hangat untuk si Kecil.
2. Kompres dengan Air Hangat
Langkah selanjutnya untuk meredakan demam yang muncul akibat imunisasi campak adalah mengompres dengan air hangat.
Letakkan kompres di lipatan ketiak dan selangkangan si Kecil selama 10-15 menit. Dengan begitu, panas tubuh akan keluar melalui pori-pori kulit.
3. Pakaikan Baju Tipis
Jika si Kecil demam setelah vaksin, jangan selimuti badannya dengan selimut tebal atau pakaikan baju tebal. Cara ini justru membuat suhu panas terperangkap sehingga demam si Kecil makin naik.
Lebih baik pakaikan si Kecil baju yang tipis, lembut, dan mudah menyerap keringat. Dengan begitu, panas tubuh lebih mudah keluar dan ia merasa lebih nyaman.
Jika si Kecil kedinginan, pakaikan baju dan celana lengan panjang, cardigan/jaket tipis, dan kaos kaki.
4. Berikan Obat Turun Panas
Pada umumnya, dokter yang memberikan imunisasi akan meresepkan obat turun panas Parasetamol untuk dibawa pulang.
Jika timbul demam, Mama bisa memberikan parasetamol setiap 3-4 jam sekali (maksimal 6 kali dalam 24 jam) sesuai dengan dosis yang diresepkan dokter.
5. Kompres Bekas Suntikan
Suntikan campak pada bayi biasanya diberikan di area paha. Bekas suntikan tersebut seringkali menimbulkan rasa nyeri sehingga si Kecil lebih rewel.
Untuk mengurangi rasa sakit bekas imunisasi, Mama bisa kompres bekas suntikan dengan handuk bersih yang dicelupkan ke air dingin.
Jika efek samping tidak segera mereda atau terlihat makin parah, segera bawa si Kecil ke dokter, ya, Ma.
Baca Juga: 5 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Setelah Imunisasi
Bagaimana Jika Anak Terlambat Imunisasi Campak?
Jika terlambat melengkapi jadwal vaksinasi campak, segera susul lewat program imunisasi kejar.
Apabila usia bayi masih di bawah 12 bulan, ia bisa mendapatkan imunisasi kejar kapan pun. Program ini tetap bisa memberikan perlindungan optimal dari penyakit campak.
Imunisasi campak tidak perlu diulang dari awal. Sejak dosis pertama, tubuh sudah memiliki “memori” untuk melawan virus. Dosis kedua dan seterusnya hanyalah booster. Hanya dosis pertama yang wajib,
Bolehkah Imunisasi Campak Bersamaan dengan Vaksin Lain?
Berdasarkan jadwal imunisasi dari IDAI, dosis pertama vaksin MR berbarengan dengan imunisasi Japanese encephalitis.
Imunisasi kejar campak juga bisa diberikan pada anak usia 12– 59 bulan yang imunisasi OPV, IPV, dan DPT-HB-Hib nya tidak lengkap.
Pastikan Mama terus mendukung kekebalan tubuh si Kecil melalui nutrisi, kebersihan, dan stimulasi yang tepat di 1000 hari pertama kehidupannya. Download Panduan Dukung Daya Tahan Tubuh 1000 Hari Pertama untuk dapatkan tips lengkap dan panduan dari para ahli untuk bantu si Kecil tumbuh kuat dan sehat sejak dini.
