Loading...
    Banner Artikel Cara Mencegah Alergi pada Bayi Sejak Dini agar Tidak Mudah Alergian
    Imunitas

    Cara Mencegah Alergi pada Bayi Sejak Dini agar Tidak Mudah Alergian

    Disusun oleh: Tim Penulis

    Diterbitkan: 15 Januari 2020

    Diperbarui: 08 Juli 2026


    • Apa Itu Alergi?
    • Jenis Alergi yang Paling Sering Dialami Bayi
    • Apa Penyebab Bayi Mudah Alergi?
    • Cara Mencegah Alergi Pada Bayi Sejak Dini
    • Apakah Alergi pada Bayi Bisa Dicegah Total?
    • Kapan Harus Dibawa ke Dokter?

    Mencegah alergi pada bayi dapat dilakukan sejak kehamilan hingga 1.000 HPK. Risiko alergi memang lebih tinggi pada bayi karena genetik, tetapi banyak faktor lain yang juga berperan. Dengan langkah pencegahan yang tepat sejak dini, risiko alergi dapat dikelola dengan lebih baik.

    Apa Itu Alergi?

    Alergi pada bayi adalah reaksi berlebihan sistem imun terhadap zat yang sebenarnya tidak berbahaya, seperti makanan, debu, atau protein tertentu.

    Reaksi alergi ini terjadi ketika zat alergen masuk ke dalam tubuh, memicu respons antibodi yang akhirnya melepaskan zat-zat lain, salah satunya histamin. Histamin pun menyebabkan pembengkakan, peradangan, atau gatal-gatal.

    Reaksi alergi berbeda dengan intoleransi. Alergi pada makanan melibatkan sistem kekebalan tubuh dan bisa sangat berbahaya meskipun hanya terpapar sedikit.

    Sedangkan intoleransi makanan terjadi karena sistem pencernaan tidak mampu mencerna makanan dengan benar, bisa karena sensitivitas terhadap zat tertentu atau kekurangan enzim tertentu.

    Jenis Alergi yang Paling Sering Dialami Bayi

    Mama perlu tahu berbagai jenis alergi yang paling sering dialami bayi agar bisa mendeteksinya sedini mungkin.

    1. Alergi Makanan

    Anak-anak Indonesia paling banyak mengalami alergi produk telur, susu sapi, udang, serta makanan laut lainnya. Alergi terhadap kacang tanah juga kerap dialami bayi di Amerika Serikat.

    Kebanyakan reaksi alergi berupa bengkak di bibir atau wajah, mata merah dan gatal, batuk, hingga hidung berair 

    Tetapi, reaksi alergi berat atau anafilaksis bisa terjadi dan menyebabkan masalah pernapasan hingga ruam parah.

    2. Eksim

    Eksim atau dermatitis atopik, adalah salah satu macam-macam alergi kulit pada bayi yang terjadi ketika zat alergen memicu respons imun. 

    Bagi banyak bayi, kondisi ini bersifat genetik. Mereka lahir tanpa protein khusus yang cukup untuk menghasilkan penghalang antara kulit dan lingkungannya.

    Tanda khas eksim bayi adalah ruam bergelombang di area tertentu. Pada bayi di bawah 6 bulan biasanya menyerang kulit kepala dan wajah. Setelah 6 bulan, ruam biasanya muncul di siku dan lutut.

    Baca Juga: Ciri Alergi pada Bayi dan Cara Deteksi

    3. Rhinitis

    Alergi rhinitis adalah kondisi saat hidung bayi terkena iritasi akibat menghirup zat alergen, contohnya serbuk sari dari pohon, tungau dan debu, serta serpihan kulit mati dari bulu hewan.

    Gejalanya meliputi hidung tersumbat, berair, gatal di hidung atau tenggorokan, dan bersin. Rhinitis terkadang juga disertai mata gatal, berair, atau bengkak.

    4. Alergi Asma

    Alergi asma berbeda dengan penyakit asma. Penyakit asma menyerang paru-paru yang berdampak pada pernapasan, seperti sesak napas dan batuk.

    Biasanya disebabkan oleh faktor non-alergen, seperti stres, obat-obatan, rokok, dan polusi.

    Sedangkan alergi asma disebabkan oleh zat alergen seperti yang terjadi pada rhinitis. Tetapi, gejalanya sama dengan penyakit asma.

    Apa Penyebab Bayi Mudah Alergi?

    Alergi pada bayi bisa disebabkan oleh genetik, paparan lingkungan, serta sistem imun yang masih berkembang. Berikut penjelasan lebih lengkapnya.

    1. Genetik

    Genetik menjadi salah satu faktor alergi pada bayi. Menurut riset dari Paediatrics Child Health, risiko alergi bayi meningkat menjadi 30–50% jika salah satu orang tua memiliki alergi.

    Beberapa jenis alergi yang dipengaruhi oleh genetik dan bisa diturunkan ke bayi adalah alergi asma, rhinitis, dan eksim.

    2. Paparan Lingkungan

    Alergi dapat terbentuk dan berkembang saat lahir karena paparan lingkungan, seperti polusi udara, tungau dan debu, bahkan paparan asap rokok dari bayi masih di dalam kandungan.

    Berbagai riset menunjukkan bahwa paparan asap rokok pasif saat bayi masih di dalam kandungan berkaitan dengan peningkatan risiko eksim dan alergi rhinitis.

    Padahal, lingkungan yang bersih merupakan faktor penting untuk kesehatan bayi di 1.000 hari pertamanya.

    Pastikan Mama terus mendukung kekebalan tubuh si Kecil melalui nutrisi, kebersihan, dan stimulasi yang tepat di 1000 hari pertama kehidupannya. Download Panduan Dukung Daya Tahan Tubuh 1000 Hari Pertama untuk dapatkan tips lengkap dan panduan dari para ahli untuk bantu si Kecil tumbuh kuat dan sehat sejak dini.

    3. Sistem Imun

    Sistem imun bayi masih dalam tahap belajar membedakan mana zat yang berbahaya dan mana yang aman. Inilah sebabnya alergi makanan bisa berkembang setelah bayi lahir. 

    Alergi makanan biasanya terjadi jika menunda memperkenalkan makanan yang umum menimbulkan alergi seperti susu dan telur ke dalam makanan bayi saat MPASI.

    Gejala eksim pada bayi juga bisa disebabkan oleh sistem imun bayi yang abnormal sehingga memicu iritasi kulit apabila terkena benda asing.

    4. Gangguan Skin Barrier

    Tubuh memiliki skin barrier yaitu lapisan terluar kulit yang melindungi tubuh. Salah satu faktor pemicu alergi adalah skin barrier yang terganggu.

    Pasalnya, kulit bayi lebih tipis dan belum berkembang sempurna sehingga lebih rentan terhadap iritasi, infeksi, dan dehidrasi. 

    Menurut riset di tahun 2014, kerusakan skin barrier bisa jadi penyebab utama dermatitis atopik atau eksim.

    Cara Mencegah Alergi Pada Bayi Sejak Dini

    Ada berbagai cara untuk Mama mencegah alergi pada bayi sejak dini. Selain itu, alergi pada bayi juga bisa berubah atau berkembang seiring bertambahnya usia, yang disebut dengan allergic march.

    1. Berikan ASI Eksklusif

    ASI mengenalkan bayi pada berbagai zat dari makanan dan lingkungan sehingga mendukung pembentukan toleransi alergen. WHO menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan.

    Selain itu, ASI juga berperan dalam membentuk microbiome usus, yaitu kumpulan bakteri baik yang membantu melatih sistem imun supaya tidak bereaksi berlebihan terhadap alergen.

    Kolostrum, atau ASI pertama yang keluar sejak melahirkan hingga 5 hari pertama, terbukti bisa mencegah alergi makanan. Berbagai riset lainnya juga menunjukkan bahwa ASI menurunkan risiko alergi asma.

    Baca Juga: 12 Manfaat Menyusui ASI Eksklusif Bagi Kesehatan Bayi

    2. Jaga Kesehatan Kulit Bayi

    Gunakan pelembap secara rutin yang diformulasikan khusus untuk bayi. Menurut riset, terapi emolien pada bayi sejak lahir bisa jadi cara yang aman dan efektif untuk mencegah eksim.

    Emolien adalah kandungan di pelembap yang membentuk lapisan minyak pada permukaan kulit. Lapisan ini berfungsi menjaga kelembapan kulit, mengurangi gatal, serta mencegah kulit mengelupas.

    Gunakan sabun cair yang diformulasikan khusus bayi karena lebih lembut, mengandung pH netral, dan aman untuk kulit bayi yang sensitif. Cara ini bisa mencegah alergi pada bayi.

    3. Hindari Paparan Asap Rokok

    Berbagai riset menunjukkan bahwa paparan asap rokok, bahkan saat bayi masih dalam kandungan, dapat memicu berbagai alergi, seperti eksim dan rhinitis, serta inflamasi saluran napas dan infeksi paru-paru.

    Paparan asap rokok dapat berdampak buruk bagi bayi karena paru-paru mereka masih dalam pertumbuhan serta cara bernapas bayi yang cenderung dari mulut dan tidak tersaring hidung.

    4. Perkenalkan MPASI Secara Bertahap

    Meskipun faktor genetik mungkin berpengaruh, bayi sebenarnya tidak terlahir dengan alergi makanan. Alergi makanan bisa terjadi karena menunda memperkenalkan makanan tertentu.

    Berikan makanan bayi yang umumnya menyebabkan alergi sedini mungkin saat memulai MPASI. Makanan yang kerap menyebabkan alergi yakni telur, udang, ikan, serta kacang-kacangan.

    Setelah bayi mengonsumsi makanan tersebut dan tidak ada reaksi alergi, terus berikan makanan itu setidaknya sekali seminggu untuk mencegah alergi makanan pada bayi.

    5. Jaga Kebersihan Rumah

    Tungau adalah serangga sangat kecil yang hidup di kasur, bantal, karpet, atau perabot berlapis kain. Debu dan tungau merupakan penyebab utama alergi rhinitis. 

    Jadi, jaga kebersihan rumah dengan baik untuk mencegah alergi pada bayi. Namun, Mama tidak perlu berlebihan dalam membersihkan rumah. 

    Hindari penggunaan produk antibakteri secara rutin jika tidak diperlukan, karena dapat mengurangi paparan mikroba yang bermanfaat bagi perkembangan sistem imun anak.

    Ini berhubungan dengan hygiene hypothesis (hipotesis kebersihan) yang menyatakan bahwa paparan mikroorganisme tertentu pada masa kecil justru mencegah alergi dengan cara mengatur sistem kekebalan tubuh seimbang.

    6. Hindari Penggunaan Antibiotik Sembarangan

    Ma, hati-hati dalam memberikan bayi antibiotik jika si Kecil sakit. Pasalnya, beberapa riset mengaitkan penggunaan antibiotik pada bayi dengan risiko alergi.

    Penggunaan antibiotik pada bayi diduga mengubah mikrobiota usus, memengaruhi disregulasi sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan alergi.

    Pastikan hanya memberikan si Kecil antibiotik jika diwajibkan oleh dokter dan ikuti resepnya dengan benar untuk mencegah disregulasi kekebalan tubuh.

    Baca Juga: 15 Penyakit pada Bayi Usia 0-6 Bulan yang Umum & Solusinya

    7. Lengkapi Imunisasi Bayi

    Untuk mencegah alergi pada bayi, lengkapi imunisasi bayi. Imunisasi melindungi bayi dengan membangun sistem imun tubuh yang kuat sehingga terlindungi dari berbagai penyakit infeksi maupun risiko alergi.

    Dengan mencegah infeksi sejak dini, tubuh bayi dapat terhindar dari inflamasi berkepanjangan yang tentunya memengaruhi tumbuh kembang anak.

    8. Perhatikan Nutrisi Saat Hamil dan Menyusui

    Saat hamil dan menyusui, cobalah untuk tetap mengonsumsi makanan yang umumnya menyebabkan alergi agar bayi juga ikut dikenalkan dengan bahan makanan tersebut.

    Selain itu, pastikan Mama selalu memenuhi kebutuhan nutrisi saat hamil dan menyusui. 

    Contohnya, omega-3 dan vitamin D untuk meningkatkan pertumbuhan sel, kekebalan tubuh, hingga perkembangan otak yang optimal pada bayi.

    Kesehatan si Kecil adalah prioritas utama. Dengan menjadi member Nutriclub, Mama bisa mendapatkan panduan kesehatan terpercaya, artikel expert-verified, serta tips praktis untuk menghadapi berbagai kondisi anak dengan lebih tenang. Mama juga bisa akses NutriShop dengan lebih mudah.

    Apakah Alergi pada Bayi Bisa Dicegah Total?

    Mama bisa mencoba berbagai cara untuk mencegah alergi pada bayi. Tetapi jangan lupa bahwa genetik adalah faktor penting penyebab alergi, sehingga tidak bisa dicegah seutuhnya.

    Namun, bukan berarti cara mencegah alergi pada bayi di atas sia-sia untuk dilakukan. Penting untuk deteksi dini agar alergi si Kecil bisa ditangani dengan baik dan menurunkan risiko alergi kambuh atau semakin parah.

    Kapan Harus Dibawa ke Dokter?

    Beberapa gejala alergi bisa sangat membahayakan nyawa bayi, seperti: 

    • Sesak napas
    • Pembengkakan di wajah, bibir, atau lidah, ruam yang menyebar ke seluruh tubuh
    • Muntah-muntah
    • Diare berulang

    Jika si Kecil mengalami hal-hal di atas, langsung datangi Unit Gawat Darurat untuk mendapatkan pertolongan pertama.

    Selain itu, jika si Kecil tidak mengalami gejala parah tapi berat badannya terpengaruh hingga turun tanpa sebab yang pasti, coba konsultasikan dengan dokter untuk penanganan lebih lanjut.

    Kunjungi Exclusive Hub Nutriclub untuk menikmati berbagai konten premium gratis, seperti e-book, podcast, dan video edukasi. Temukan segala informasi tepercaya seputar kehamilan, nutrisi tepat, perkembangan kognitif, serta tips menjaga imunitas dan daya tahan tubuh anak langsung dari ahlinya.

    Informasi yang Wajib Mama Ketahui

    Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Mama
    1. Allergies and weaning. (2025). HSE.ie. https://www2.hse.ie/babies-children/weaning-eating/weaning/allergies/
    2. Are allergies genetic? How family history impacts your health. (2025). Bswhealth.com. https://www.bswhealth.com/blog/are-allergies-genetic
    3. Baby Eczema Causes & Treatment. (2022, July 6). Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/23408-baby-eczema
    4. Baby Eczema: Triggers, Treatment, and Management. (2024, September 8). Island Hospital. https://islandhospital.com/eczema-in-babies/
    5. Baron, R., Taye, M., der Vaart, I. B., Ujčič-Voortman, J., Szajewska, H., Seidell, J. C., & Verhoeff, A. (2020). The relationship of prenatal antibiotic exposure and infant antibiotic administration with childhood allergies: a systematic review. BMC pediatrics, 20(1), 312. https://doi.org/10.1186/s12887-020-02042-8
    6. Bergström, A. (2016). Parental smoking and development of allergic sensitization from birth to adolescence. Allergy, 71(2), 239–248. https://doi.org/10.1111/all.12792
    7. Biagini Myers, J. M., & Khurana Hershey, G. K. (2010). Eczema in early life: genetics, the skin barrier, and lessons learned from birth cohort studies. The Journal of pediatrics, 157(5), 704–714. https://doi.org/10.1016/j.jpeds.2010.07.009
    8. Burke, D. (2017, November 29). What to Know About Allergic Eczema. Healthline; Healthline Media. https://www.healthline.com/health/skin/eczema#signs-and-symptoms
    9. Candra, Y., Setiarini, A., & Rengganis, I. (2011). The Level of Sensitivity of Food Allergens. Makara Journal of Health Research, 15(1). https://doi.org/10.7454/msk.v15i1.797
    10. Chad, Z. (2001). Allergies in children. Paediatrics & Child Health, 6(8), 555–66. https://doi.org/10.1093/pch/6.8.555
    11. Choi, E. H. (2025). Skin Barrier Function in Neonates and Infants. Allergy, Asthma & Immunology Research, 17(1), 32–46. https://doi.org/10.4168/aair.2025.17.1.32
    12. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (2023). Apa saja jenis emolien? Kemkes.go.id. https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3026/apa-saja-jenis-emolien
    13. Early exposure to tobacco smoke causes asthma and allergy. (2019). News.ki.se. https://news.ki.se/early-exposure-to-tobacco-smoke-causes-asthma-and-allergy
    14. Early introduction. (n.d.). Food Allergy Canada. https://foodallergycanada.ca/living-with-allergies/ongoing-allergy-management/parents-and-caregivers/early-introduction/
    15. Food allergies in babies and young children. (2020, December). Nhs.uk. https://www.nhs.uk/baby/weaning-and-feeding/food-allergies-in-babies-and-young-children/
    16. Food Intolerance Versus Food Allergy. (2026). Aaaai.org. https://www.aaaai.org/tools-for-the-public/conditions-library/allergies/food-intolerance
    17. Hattab, M., Sarrees, Y. A., Sous, M., Najajrah, M., Karmi, H., Alawneh, M., & Hattab, S. (2026). Early-life antibiotics and childhood allergy: a multi-center cohort. Allergy, Asthma & Clinical Immunology, 22(1). https://doi.org/10.1186/s13223-026-01013-5
    18. How passive smoking affects your child’s lungs. (2025, October 2). Asthma + Lung UK. https://www.asthmaandlung.org.uk/support-parents-carers/how-can-passive-smoking-affect-your-childs-lungs#:~:text=When%20they're%20exposed%20to,noisy%20chest%20sounds%2C%20like%20wheezing
    19. “Hygiene hypothesis” connection: cleanliness and immune system. (2021, May 31). Uclahealth.org; UCLA Health. https://www.uclahealth.org/news/article/hygiene-hypothesis-connection-cleanliness-and-immune-system
    20. IDAI | Imunisasi penting untuk mencegah penyakit berbahaya. (2023). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/imunisasi-penting-untuk-mencegah-penyakit-berbahaya
    21. Koukou, Z., Papadopoulou, E., Panteris, E., Papadopoulou, S., Skordou, A., Karamaliki, M., & Diamanti, E. (2023). The Effect of Breastfeeding on Food Allergies in Newborns and Infants. Children (Basel, Switzerland), 10(6), 1046. https://doi.org/10.3390/children10061046
    22. Large study ties early-life antibiotic exposure to higher risk of asthma, allergies, other conditions. (2025, April 18). CIDRAP. https://www.cidrap.umn.edu/antimicrobial-stewardship/large-study-ties-early-life-antibiotic-exposure-higher-risk-asthma
    23. Luh Gede Pradnyawati, Dewa Ayu Putu Ratna Juwita, Komang Triyani Kartinawati, Wijaya, M. I., & Anak Agung Sagung Mirah Prabandari. (2023). Overview of the first 1000 days of life and stunting in toddlers 0-2 years old in Tegallalang District, Bali Province. Journal of International Surgery and Clinical Medicine, 3(1), 11–15. https://doi.org/10.51559/jiscm.v3i1.41
    24. NHS website. (2017, October). Allergic rhinitis. Nhs.uk. https://www.nhs.uk/conditions/allergic-rhinitis/
    25. Setiabudiawan, B., Sitaresmi, M. N., Sapartini, G., Sumadiono, Citraresmi, E., Sekartini, R., Putra, A. M., & Jo, J. (2021). Growth Patterns of Indonesian Infants with Cow’s Milk Allergy and Fed with Soy-Based Infant Formula. Pediatric Gastroenterology, Hepatology & Nutrition, 24(3), 316. https://doi.org/10.5223/pghn.2021.24.3.316
    26. Simpson, E. L., Chalmers, J. R., Hanifin, J. M., Thomas, K. S., Cork, M. J., McLean, W. H., Brown, S. J., Chen, Z., Chen, Y., & Williams, H. C. (2014). Emollient enhancement of the skin barrier from birth offers effective atopic dermatitis prevention. The Journal of allergy and clinical immunology, 134(4), 818–823. https://doi.org/10.1016/j.jaci.2014.08.005
    27. Symptoms of Allergic Reactions in Babies - Solid Starts. (2022, October 4). Solid Starts. https://solidstarts.com/symptoms-of-allergic-reactions/
    28. Thacher, J. D., Gruzieva, O., Pershagen, G., Neuman, Å., van Hage, M., Wickman, M., Kull, I., Melén, E., & Shigehara, K., Matsumoto, N., Tsuge, M., Uda, K., Saito, Y., Yashiro, M., Yorifuji, T., Ikeda, M., & Tsukahara, H. (2025). Maternal smoking during infancy increases the risk of allergic diseases in children: a nationwide longitudinal survey in Japan. Allergy, asthma, and clinical immunology : official journal of the Canadian Society of Allergy and Clinical Immunology, 21(1), 4. https://doi.org/10.1186/s13223-025-00952-9
    29. Telofski, L. S., Morello, A. P., 3rd, Mack Correa, M. C., & Stamatas, G. N. (2012). The infant skin barrier: can we preserve, protect, and enhance the barrier?. Dermatology research and practice, 2012, 198789. https://doi.org/10.1155/2012/198789
    30. Verhasselt, V. (2024a). A newborn’s perspective on immune responses to food. Immunological Reviews, 326(1), 117–129. https://doi.org/10.1111/imr.13376
    31. Verhasselt, V. (2024b). A newborn’s perspective on immune responses to food. Immunological Reviews, 326(1), 117–129. https://doi.org/10.1111/imr.13376
    32. Wang, Y.-W., Yeh, K.-W., Huang, J.-L., Su, K.-W., Tsai, M.-H., Hua, M.-C., Liao, S.-L., Lai, S.-H., & Chiu, C.-Y. (2023). Longitudinal analysis of the impact of smoking exposure on atopic indices and allergies in early childhood. World Allergy Organization Journal, 16(7), 100802. https://doi.org/10.1016/j.waojou.2023.100802
    33. What about allergies? | Australian Breastfeeding Association. (2026). Breastfeeding.asn.au. https://www.breastfeeding.asn.au/resources/allergies#:~:text=Try%20to%20include%20common%20allergenic,iron%2Drich%20foods%20are%20included
    34. What is an Allergy? | Allergy UK | National Charity. (2026). Allergy UK | National Charity. https://www.allergyuk.org/about-allergy/what-is-an-allergy/
    35. Wing, J. (2016, April 5). What’s the Difference Between Allergy and Asthma & Medication Options. Florida Medical Clinic Orlando Health; Florida Medical Clinic. https://www.floridamedicalclinic.com/blog/whats-the-difference-between-allergy-and-asthma-what-is-the-best-medication-for-allergic-asthma/
    Artikel Terkait

    Keuntungan Daftar Nutriclub

    Icon Info & Tips Eksklusif via WA

    Info & Tips Eksklusif via WA

    Panduan tumbuh kembang bulanan si Kecil langsung di genggaman Mama

    Icon 24/7 Nutriclub Expert Advisor

    24/7 Nutriclub Expert Advisor

    Hubungi ahli untuk pertanyaan seputar nutrisi, tumbuh kembang, dan informasi terkait Nutriclub melalui Whatsapp/call center

    Gabung Nutriclub

    *yang sudah terhubung dengan WhatsApp
    Minimal 8 Karakter, Memiliki 1 angka (0-9) dan 1 karakter spesial (@#$%^&)
    *Usia si Kecil Maksimal 7 Tahun