Loading...
    Banner Artikel Penyebab Alergi pada Bayi, Gejala, Cara Mengatasi, dan Apakah Bisa Sembuh?
    Imunitas

    Penyebab Alergi pada Bayi, Gejala, Cara Mengatasi, dan Apakah Bisa Sembuh?

    Foto Reviewer

    Disusun oleh: Tim Penulis

    Ditinjau oleh: dr. Isman Jafar, Sp.A (K)

    Diterbitkan: 15 Januari 2020

    Diperbarui: 09 September 2026


    • Apa Itu Alergi pada Bayi?
    • Apa Penyebab Alergi pada Bayi?
    • Gejala Alergi pada Bayi Berdasarkan Jenisnya
    • Faktor Risiko Bayi Mengalami Alergi
    • Bagaimana Dokter Menentukan Penyebab Alergi?
    • Cara Mengatasi Alergi pada Bayi
    • Berapa Lama Alergi pada Bayi Hilang?
    • Apakah Alergi pada Bayi Bisa Sembuh?
    • Kapan Bayi Harus Dibawa ke Dokter?
    • Cara Mencegah Alergi pada Bayi

    Penyebab alergi pada bayi adalah reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh terhadap zat yang sebenarnya tidak berbahaya, seperti makanan atau debu. Sebagian alergi dapat membaik, tetapi waktunya berbeda sesuai jenis alergi. Jika bayi sesak atau bibir dan lidahnya membengkak, segera ke dokter karena bisa menjadi tanda anafilaksis. 

    Apa Itu Alergi pada Bayi?

    Alergi pada bayi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru menganggap zat yang sebenarnya tidak berbahaya sebagai ancaman. 

    Normalnya, sistem imun melawan zat berbahaya. Namun, pada alergi, respons terhadap alergen dapat memicu histamin dan menimbulkan gejala ruam, gatal, muntah, atau batuk. 

    Zat yang memicu reaksi tersebut disebut alergen. Alergen dapat berupa makanan, debu, serbuk sari, bulu hewan, jamur, sengatan serangga, hingga obat-obatan. 

    Apa Penyebab Alergi pada Bayi?

    Berikut beberapa penyebab alergi pada bayi yang perlu Mama ketahui.

    1. Makanan

    Makanan adalah penyebab alergi pada bayi yang paling umum. Berikut sejumlah makanan yang menjadi pemicu alergi pada si Kecil: 

    • Susu sapi dan produk olahannya, seperti keju dan yogurt
    • Telur
    • Gandum
    • Makanan laut (seafood)
    • Kacang-kacangan (kacang tanah, almond, mede, walnut)
    • Kacang kedelai

    Bayi bisa mengalami alergi terhadap satu jenis makanan atau lebih dari satu. 

    2. Debu

    Debu rumah dapat menjadi penyebab alergi pada bayi ketika partikelnya terhirup melalui saluran napas.

    3. Tungau

    Tungau termasuk penyebab alergi pada bayi karena kotoran dan bagian tubuhnya dapat menjadi alergen yang terhirup. 

    Tungau banyak ditemukan di kasur, bantal, karpet, dan furnitur berlapis kain. 

    4. Serbuk Sari

    Menghirup serbuk sari dapat menjadi penyebab alergi pada bayi. Alergi ini masuk dalam kategori alergi inhalan atau alergen yang masuk melalui saluran napas (dihirup saat bernapas).

    5. Hewan

    Serpihan bulu atau sel kulit mati hewan yang membawa protein dari air liur atau urine juga dapat menjadi penyebab alergi pada bayi jika terhirup. 

    Jika si Kecil memiliki riwayat asma, alergi debu atau alergi bulu hewan dapat memperparah kondisi yang dialami bayi. 

    Gejala yang umum muncul akibat alergi inhalan (yang dihirup) adalah bersin-bersin, napas bunyi grok-grok, hidung meler, serta mata gatal dan merah. 

    6. Obat

    Ada beberapa jenis obat yang diketahui dapat menjadi penyebab alergi pada bayi jika dikonsumsi. Misalnya: 

    • Antibiotik
    • Obat kemoterapi
    • Insulin
    • Obat anti peradangan nonsteroid (NSAID)

    Jika disebabkan oleh penggunaan obat-obatan, gejala alergi yang ditimbulkan dapat termasuk ruam, biduran, gatal-gatal, pembengkakan, hingga sesak napas.

    7. Sengatan Serangga

    Sengatan tawon, lebah, atau semut api dapat menjadi penyebab alergi pada bayi. Bayi kemungkinan akan mengalami nyeri dan bengkak di kulit.

    Si Kecil bahkan bisa mengalami gejala alergi kulit yang lebih serius seperti pembengkakan kulit yang parah dan meluas di area yang tersengat, hingga reaksi berat seperti anafilaksis.

    8. Lateks

    Selain lewat jalur konsumsi dan inhalan (dihirup), kontak langsung antara bahan lateks dengan kulit juga dapat menjadi penyebab alergi pada bayi. 

    Lateks dapat Mama temukan dari mainan atau perlengkapan bayi yang terbuat dari karet alami, seperti: 

    • Sarung tangan karet
    • Balon karet tiup
    • Bola karet
    • Karet gelang
    • Boneka bebek karet

    9. Produk Skincare

    Bahan tertentu dalam produk skincare seperti sabun mandi, sampo, losion, atau sunscreen dapat menjadi penyebab alergi pada bayi, terutama pada kulit yang sensitif.

    10. Suhu Dingin

    Paparan suhu dingin ke kulit si Kecil, baik dari air dingin maupun udara dingin, dapat menjadi penyebab alergi pada bayi. 

    Paparan suhu dingin dapat menyebabkan tubuh melepaskan histamin, yang memicu gejala biduran atau gatal-gatal pada kulit.

    Baca Juga: Kenali Perbedaan Alergi Susu Sapi dan Intoleransi Laktosa

    Gejala Alergi pada Bayi Berdasarkan Jenisnya

    Gejala alergi pada bayi dapat berbeda-beda, tergantung jenis alergi dan bagian tubuh yang terkena. Berikut beberapa gejala yang umum dikenali:

    Jenis Alergi

    Gejala

    Alergi makanan

    Muntah, diare, ruam, gatal atau biduran

    Alergi debu

    Pilek, hidung tersumbat, bersin

    Alergi kulit

    Eksim berupa kulit kering, merah, bersisik, gatal

    Alergi obat

    Biduran atau ruam kulit

    Anafilaksis

    Sesak atau kesulitan bernapas, bibir dan lidah membengkak

    Dukung daya tahan tubuh si Kecil sejak dini dengan informasi yang tepat. Daftar sebagai member Nutriclub agar bisa akses panduan imunitas anak, rekomendasi nutrisi pendukung, serta insight terkait daya tahan tubuh anak dari ahli sesuai tahapan usianya. Mama juga bisa akses NutriShop dengan lebih praktis.

    Faktor Risiko Bayi Mengalami Alergi

    Genetik, udara, bahkan lingkungan yang terlalu bersih bisa meningkatkan risiko si Kecil mengalami alergi. Ini penjelasan lengkapnya:

    1. Riwayat Keluarga dan Genetik 

    Kebanyakan penyebab alergi pada bayi dipengaruhi oleh faktor genetik atau diturunkan dalam keluarga.

    Menurut IDAI, sekitar 40% bayi dengan orang tua yang memiliki riwayat alergi juga berisiko memiliki bakat alergi. 

    Kondisi ini dapat berkembang mengikuti pola atopic march, mulai dari alergi makanan dan dermatitis atopik hingga asma dan rinitis.

    Contohnya, apabila Mama memiliki rinitis alergi atau asma, besar peluang si Kecil akan juga memiliki alergi susu sapi atau dermatitis atopik. 

    2. Pemberian Makanan yang Terbatas 

    Jika si Kecil sudah memasuki fase MPASI, ia perlu dikenalkan dengan berbagai variasi makanan untuk mencegah alergi saat ia sudah dewasa nanti. 

    Terutama Mama perlu memberikan makanan pemicu alergi seperti makanan laut, kacang-kacangan, telur, dan ikan sebetulnya sangat bermanfaat bagi bayi. 

    Dengan memberikan makanan bervariasi, sistem imun tubuh si Kecil mengenali makanan atau zat alergen sejak dini, sehingga sistem imunnya tidak memberi respons berlebihan.

    3. Lingkungan Terlalu Bersih 

    Risiko alergi juga bisa meningkat apabila sejak kecil bayi dibiasakan hidup terlalu bersih dan jarang terpapar alergen dari lingkungan sekitar. 

    Lingkungan yang terlalu bersih justru dapat mengurangi paparan terhadap mikroba yang justru dapat bantu perkembangan sistem kekebalan tubuh. 

    Akibat sistem imun tubuh bayi yang belum sempet mengenali zat alergen, risiko alergi dapat muncul. 

    4. Udara Kering dan Lembap 

    Udara kering dan lembap dapat meningkatkan pertumbuhan jamur dan tungau debu di rumah. Jika terhirup, kondisi ini dapat menjadi penyebab alergi pada bayi.

    Maka dari itu, penting bagi Mama dan Papa menjaga udara di rumah supaya tidak terlalu kering ataupun lembap. Gunakan humidifier untuk menjaga kelembapan udara.

    5. Paparan Alergen Lingkungan 

    Paparan awal terhadap alergen di lingkungan sekitar dapat menjadi penyebab alergi pada bayi. 

    Adapun zat pemicu alergi yang umum ditemukan adalah serbuk sari tanaman, bulu atau kotoran hewan peliharaan, tungau, debu, atau polusi udara.

    6. Dermatitis Atopik Berat (SCORAD Tinggi)

    Dalam The Turkish Journal of Pediatrics (2023) dijelaskan bahwa, bayi dengan dermatitis atopik yang lebih berat berisiko lebih tinggi mengalami alergi makanan. 

    Tingkat keparahan dermatitis atopik dapat dinilai menggunakan skor SCORAD, dan hasil skor yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko alergi makanan. 

    Bagaimana Dokter Menentukan Penyebab Alergi?

    Untuk mengetahui penyebab alergi pada bayi, dokter akan memilih pemeriksaan yang sesuai dengan kondisi si Kecil. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi:

    1. Tanya Jawab dan Pemeriksaan Fisik

    Dokter akan menanyakan gejala alergi yang dialami bayi, kemungkinan pemicu, serta riwayat alergi dalam keluarga. 

    Setelah itu, dokter melakukan pemeriksaan fisik untuk membantu menentukan apakah keluhan berkaitan dengan alergi dan pemeriksaan apa yang diperlukan.

    2. Food Diary atau Catatan Makanan

    Dokter mungkin meminta Mama mencatat makanan yang dikonsumsi bayi, obat yang digunakan, dan gejala yang muncul setiap hari. 

    Catatan ini dapat membantu dokter melihat pola dan mencari makanan yang mungkin menjadi pemicu alergi.

    3. Eliminasi Makanan

    Jika bayi dicurigai mengalami alergi makanan, dokter dapat menyarankan diet eliminasi dengan menghindari makanan yang diduga menjadi pemicu untuk sementara waktu.

    Beberapa makanan yang umum dicurigai sebagai pemicu alergi antara lain susu sapi, kedelai, telur, kacang tanah, gandum, kacang pohon, dan kerang. 

    Diet eliminasi sebaiknya dilakukan dengan pengawasan dokter agar hasilnya dapat dievaluasi dengan tepat.

    4. Skin Prick Test

    Dokter dapat melakukan skin prick test untuk membantu mengetahui apakah bayi sensitif terhadap alergen tertentu. 

    Pemeriksaan dilakukan dengan menempatkan sedikit alergen pada kulit, kemudian kulit ditusuk secara ringan. 

    Setelah sekitar 15 menit, dokter akan melihat apakah muncul reaksi berupa bentol atau kemerahan pada area tersebut. 

    Hasil pemeriksaan kemudian dinilai bersama gejala dan riwayat kesehatan bayi untuk membantu menentukan apakah alergen tersebut berkaitan dengan keluhannya.

    5. Pemeriksaan IgE Spesifik 

    Tes alergi ini dilakukan dengan mengambil sampel darah bayi untuk melihat apakah tubuhnya memiliki antibodi IgE terhadap makanan yang dicurigai. 

    Hasilnya dapat membantu dokter mengetahui makanan yang mungkin memicu alergi, tetapi tidak bisa menunjukkan seberapa parah reaksi alergi yang akan terjadi. 

    Oleh karena itu, dokter tetap akan melihat hasil tes bersama gejala yang dialami si Kecil.

    6. Oral Food Challenge 

    Jika hasil pemeriksaan alergi masih belum memberikan jawaban yang pasti, dokter dapat melakukan oral food challenge untuk memastikan apakah makanan tertentu benar-benar memicu alergi. 

    Dalam pemeriksaan ini, si Kecil akan diberikan makanan yang dicurigai secara bertahap sambil dipantau ketat oleh dokter. 

    Pemeriksaan ini merupakan standar acuan (gold standard) untuk mendiagnosis alergi makanan dan hanya boleh dilakukan di fasilitas medis, bukan di rumah, ya, Ma. 

    Baca Juga: Perbedaan Alergi Makanan dan Intoleransi Makanan

    Cara Mengatasi Alergi pada Bayi

    Setelah mengetahui penyebab alergi pada bayi, berikut beberapa cara yang dapat Mama dan Papa lakukan untuk membantu meredakan gejalanya:

    1. Hindari Alergen

    Ketika penyebab alergi pada bayi telah diketahui, langkah penting untuk mencegah reaksi adalah menghindari alergen yang menjadi pemicu. 

    Pada alergi makanan, misalnya, makanan yang terbukti menyebabkan reaksi perlu dihindari sesuai arahan dokter. 

    2. Gunakan Obat Sesuai Anjuran Dokter

    Jika gejala membutuhkan pengobatan, dokter dapat meresepkan obat sesuai kondisi si Kecil. 

    Pada bayi atau anak dengan eksim sedang hingga berat, misalnya, dokter dapat memberikan obat oles steroid dan/atau antihistamin. 

    3. Rawat Kulit Bayi

    Jika alergi disertai eksim, jaga kulit si Kecil tetap lembap untuk membantu mengurangi kulit kering dan gatal. Mama dapat melakukan beberapa perawatan kulit bayi dengan cara:

    • Oleskan pelembap tanpa pewangi secara rutin, terutama setelah mandi.
    • Mandikan dengan air suam-suam kuku dan gunakan pembersih yang lembut.
    • Keringkan dengan menepuk kulit secara perlahan, bukan menggosoknya.
    • Jika dokter memberikan krim obat, gunakan sesuai petunjuk.

    4. Tetap Berikan ASI

    Jika bayi masih menyusu, ASI tetap dapat diberikan karena ASI umumnya tidak menyebabkan reaksi alergi. 

    Mama juga tidak perlu menghindari berbagai makanan hanya untuk mencegah alergi pada bayi. 

    Namun, jika bayi terbukti mengalami reaksi terhadap makanan tertentu yang dikonsumsi Mama, dokter dapat menyarankan untuk menghindari makanan tersebut sementara.

    5. Perhatikan Pemberian MPASI

    Saat mulai MPASI, kenalkan makanan baru satu per satu dan perhatikan apakah muncul reaksi seperti ruam, muntah, atau diare. 

    Jika si Kecil memiliki eksim berat atau pernah mengalami reaksi alergi terhadap makanan, konsultasikan dengan dokter sebelum mengenalkan makanan alergen tertentu. 

    Jika sudah terbukti alergi terhadap makanan tertentu, hindari makanan tersebut sesuai anjuran dokter. Jangan menghindari banyak makanan tanpa arahan dokter karena bisa membuat kebutuhan nutrisi si Kecil tidak terpenuhi. 

    6. Jaga Kebersihan Rumah 

    Jika si Kecil memiliki alergi yang dipicu oleh lingkungan, Mama dapat membantu mengurangi paparan terhadap alergen yang menjadi pemicu. 

    Langkahnya bisa disesuaikan dengan alergen yang diketahui, misalnya rutin mencuci sprei jika si Kecil alergi tungau debu.

    Bisa juga dengan mengurangi kontak dengan hewan jika terbukti alergi terhadap hewan peliharaan.

    Berapa Lama Alergi pada Bayi Hilang?

    Lama alergi pada bayi hingga membaik dapat berbeda-beda, tergantung jenis alergi dan kondisi si Kecil. Berikut gambaran umumnya:

    Jenis Alergi

    Apakah Bisa Membaik?

    Alergi susu sapi

    Sering membaik saat anak bertambah besar

    Alergi telur

    Banyak anak akhirnya toleran seiring bertambahnya usia

    Alergi kacang

    Cenderung lebih menetap dibandingkan dengan alergi susu dan telur

    Alergi debu

    Dapat berlangsung lama dan gejalanya bisa berulang saat terpapar pemicu

    Apakah Alergi pada Bayi Bisa Sembuh?

    Beberapa alergi pada bayi dapat membaik seiring bertambahnya usia, tetapi waktunya berbeda-beda tergantung jenis alergi. 

    Pada sebagian anak, tubuh akhirnya dapat mentoleransi makanan yang sebelumnya memicu reaksi alergi. 

    Proses ini berkaitan dengan perubahan respons sistem imun terhadap alergen seiring perkembangan tubuh.

    Namun, mekanisme terbentuknya toleransi oral cukup kompleks dan belum sepenuhnya dipahami.

    Baca Juga: Apa Itu Allergic March? Kenali Perjalanan Alergi pada Anak Sejak Bayi

    Kapan Bayi Harus Dibawa ke Dokter?

    Segera bawa si Kecil ke dokter jika muncul gejala yang berat atau tidak kunjung membaik. Beberapa tanda yang perlu Mama waspadai antara lain:

    • Sesak napas, napas berbunyi, atau sulit bernapas
    • Bibir, lidah, atau wajah membengkak, terutama jika muncul tiba-tiba setelah terpapar makanan atau pemicu alergi
    • Muntah terus-menerus atau muntah berulang setelah makan
    • BAB berdarah, terutama jika disertai diare atau bayi tampak lemas
    • Demam tinggi atau demam yang disertai kondisi bayi semakin lemah
    • Tidak mau minum atau menyusu, terutama jika disertai tanda kekurangan cairan seperti jarang pipis, mulut kering, atau sangat lemas

    Cara Mencegah Alergi pada Bayi

    Berikut beberapa langkah yang dapat Mama lakukan untuk membantu mengurangi risiko alergi pada bayi: 

    1. Pastikan Anak Mendapat ASI eksklusif

    Jika memungkinkan, berikan ASI eksklusif selama 4–6 bulan pertama. 

    ASI dapat mendukung perkembangan sistem imun bayi dan mungkin membantu mengurangi risiko beberapa kondisi alergi.

    2. Pemberian MPASI Tepat Waktu

    Mulai berikan MPASI saat Si Kecil sudah siap secara perkembangan, umumnya sekitar usia 6 bulan. 

    Jangan menunda pemberian MPASI hanya karena khawatir si Kecil mengalami alergi, karena penundaan makanan padat tidak terbukti mencegah alergi. 

    3. Berikan Makanan yang Bervariasi

    Hindari membatasi terlalu banyak jenis makanan tanpa alasan medis karena dapat meningkatkan risiko kekurangan nutrisi dan mengganggu pertumbuhan. 

    Jika si Kecil memiliki alergi makanan yang sudah terdiagnosis, pembatasan makanan sebaiknya dilakukan sesuai arahan dokter dan ahli gizi bila diperlukan.

    4. Jangan Menunda Makanan Alergen Utama

    Setelah si Kecil siap MPASI, makanan yang umum menyebabkan alergi seperti telur dan kacang tidak perlu sengaja ditunda. 

    Pengenalan makanan ini secara tepat usia justru dapat membantu mengurangi risiko alergi makanan. 

    5. Pastikan Rumah Bebas Asap Rokok

    Jurnal Pediatric Pulmonology (2020) menemukan bahwa paparan asap rokok pasif sebelum dan setelah lahir berhubungan dengan peningkatan risiko asma dan mengi pada anak. 

    Oleh karena itu, pastikan Mama dan Papa menjauhkan si Kecil dari paparan asap rokok. 

    6. Kurangi Paparan Tungau Debu

    Tungau debu merupakan salah satu penyebab alergi pada bayi di dalam rumah. 

    Pada bayi yang berisiko mengalami alergi, mengurangi paparan tungau dapat membantu menunda atau mencegah munculnya gejala alergi dan asma. 

    Mama dapat menggunakan pelindung antitungau pada kasur dan bantal serta mencuci sprei secara rutin. 

    Pastikan Mama terus mendukung kekebalan tubuh si Kecil melalui nutrisi, kebersihan, dan stimulasi yang tepat di 1000 hari pertama kehidupannya. Download Panduan Dukung Daya Tahan Tubuh 1000 Hari Pertama agar Mama bisa mendapatkan tips lengkap dan panduan dari para ahli untuk bantu si Kecil tumbuh kuat dan sehat sejak dini.

    Informasi yang Wajib Mama Ketahui

    Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Mama
    1. American Academy of Pediatrics Section on Allergy and Immunology. (2026). What is a pediatric allergist/immunologist? HealthyChildren.Org. https://www.healthychildren.org/English/family-life/health-management/pediatric-specialists/Pages/What-is-a-Pediatric-Allergist-Immunologist.aspx 
    2. Mayo Clinic. (2024, August 24). Allergies - symptoms and causes. Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/allergies/symptoms-causes/syc-20351497 
    3. NHS. (2020, December). Food allergies in babies and young children. Nhs.Uk. https://www.nhs.uk/baby/weaning-and-feeding/food-allergies-in-babies-and-young-children/ 
    4. American Academy of Pediatrics. (2020, January 14). AAP allergy tips. HealthyChildren.Org. https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/allergies-asthma/Pages/AAP-Allergy-Tips.aspx 
    5. Daniel DiGiacomo, MD, MPH, FAAP, & Anthony Porto, MD, MPH, MBA, FAAP. (2020). Food allergies in children. HealthyChildren.Org. https://www.healthychildren.org/English/healthy-living/nutrition/Pages/Food-Allergies-in-Children.aspx 
    6. American Academy of Pediatrics. (2011, January 6). Dust mite control: Tips for parents. HealthyChildren.Org. https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/allergies-asthma/Pages/Dust-Mite-Control.aspx 
    7. Sarah Stein, MD, FAAD, FAAP. (2025, May 19). Eczema in Babies and Children. HealthyChildren.Org. https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/skin/Pages/Eczema.aspx 
    8. American Academy of Pediatrics American Academy of Pediatrics Sections on Allergy and Immunology and Section on Dermatology. (2026, July 4). Hives (urticaria) in children. HealthyChildren.Org. https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/skin/Pages/Hives.aspx 
    9. Wang, J. (2025, March 20). Anaphylaxis in Infants & Children. HealthyChildren.Org. https://www.healthychildren.org/English/health-issues/injuries-emergencies/Pages/Anaphylaxis.aspx 
    10. Akelma, Z., Köse, S. Ş., & Özmen, S. (2023). The risk factors for food allergy in infants with atopic dermatitis. The Turkish Journal of Pediatrics, 65(2), 235–244. https://doi.org/10.24953/turkjped.2022.656 
    11. Diagnosing Allergies in Children. (2023, June 28). ACAAI Public Website. https://acaai.org/allergies/testing-diagnosis/for-children-and-infants/ 
    12. ACAAI. (2026, February 23). Diagnosing food allergies | symptoms &treatment. ACAAI Public Website. https://acaai.org/allergies/testing-diagnosis/food-allergy-testing-and-diagnosis/ 
    13. ACAAI. (2023, June 28). Eczema | causes, symptoms & treatment. ACAAI Public Website. https://acaai.org/allergies/allergic-conditions/skin-allergy/eczema/ 
    14. Editorial Team. (n.d.). Food allergy avoidance. ACAAI Public Website. Retrieved August 24, 2026, from https://acaai.org/allergies/management-treatment/living-with-allergies/food-allergy-avoidance/ 
    15. American Academy of Pediatrics. (2025, May 19). Treating eczema (atopic dermatitis): AAP updates recommendations. HealthyChildren.Org. https://www.healthychildren.org/English/news/Pages/treating-eczema-aap-updates-recommendations-to-manage-common-yet-complex-skin-disease.aspx 
    16. American Academy of Pediatrics. (2019). Infant allergies and food sensitivities. HealthyChildren.Org. https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/breastfeeding/Pages/Infant-Allergies-and-Food-Sensitivities.aspx 
    17. Amanda Cox, MD, FAAAAI, & Michael Pistiner, MD, MMCs, FAAP. (2025, May 30). When to introduce egg, peanut butter & other common food allergens to a baby. HealthyChildren.Org. https://www.healthychildren.org/English/healthy-living/nutrition/Pages/when-to-introduce-egg-peanut-butter-and-other-common-food-allergens-to-your-baby-food-allergy-prevention-tips.aspx 
    18. Editorial Team. (2019). Avoiding the risks of elimination diets. Aaaai.Org. https://education.aaaai.org/food-allergy-education/avoidrisks_elimdiets 
    19. Editorial Team. (2025). House dust mite allergy - north west allergy network. North West Allergy Network. https://allergynorthwest.nhs.uk/home-patient/managing-allergies/patient-leaflets/house-dust-mite-allergy-2/ 
    20. National Institute of Allergy and Infectious Diseases. (2010). Guidelines for the diagnosis and management of food allergy in the United States summary of the NIAID-Sponsored expert panel report. https://www.niaid.nih.gov/sites/default/files/faguidelinesexecsummary.pdf
    21. Wambre, E., & Jeong, D. (2018). Oral tolerance development and maintenance. Immunology and Allergy Clinics of North America, 38(1), 27–37. https://doi.org/10.1016/j.iac.2017.09.003
    22. Editorial Team. (2021). Prevention of allergies and asthma in children | AAAAI. Aaaai.Org. https://www.aaaai.org/Tools-for-the-Public/Conditions-Library/Allergies/prevention-of-allergies-and-asthma-in-children 
    23. Editorial Team. (2011). Guidelines for the diagnosis and management of food allergy in the United States summary for patients, families, and caregivers National Institute of Allergy and infectious diseases. https://www.niaid.nih.gov/sites/default/files/faguidelinespatient.pdf 
    24. Santos, A. F., Riggioni, C., Ioana Agache, Akdis, C. A., Mubeccel Akdis, Alvarez‐Perea, A., Montserrat Alvaro‐Lozano, Ballmer‐Weber, B., Barni, S., Beyer, K., Carsten Bindslev‐Jensen, Brough, H. A., Betul Buyuktiryaki, Chu, D., Stefano Del Giacco, Dunn‐Galvin, A., Eberlein, B., Motohiro Ebisawa, Eigenmann, P., … Skypala, I. (2024). EAACI guidelines on the management of IgE‐mediated food allergy. Allergy. https://doi.org/10.1111/all.16345 
    25. He, Z., Wu, H., Zhang, S., Lin, Y., Li, R., Xie, L., Li, Z., Sun, W., Huang, X., Zhang, C. J. P., & Ming, W. (2020). The association between secondhand smoke and childhood asthma: A systematic review and meta‐analysis. Pediatric Pulmonology, 55(10), 2518–2531. https://doi.org/10.1002/ppul.24961 
    26. Editorial Team. WebMD. (2024). Common skin allergies in kids. WebMD. https://www.webmd.com/allergies/common-skin-allergies-kids
    Artikel Terkait

    Keuntungan Daftar Nutriclub

    Icon Info & Tips Eksklusif via WA

    Info & Tips Eksklusif via WA

    Panduan tumbuh kembang bulanan si Kecil langsung di genggaman Mama

    Icon 24/7 Nutriclub Expert Advisor

    24/7 Nutriclub Expert Advisor

    Hubungi ahli untuk pertanyaan seputar nutrisi, tumbuh kembang, dan informasi terkait Nutriclub melalui Whatsapp/call center

    Gabung Nutriclub

    *yang sudah terhubung dengan WhatsApp
    Minimal 8 Karakter, Memiliki 1 angka (0-9) dan 1 karakter spesial (@#$%^&)
    *Usia si Kecil Maksimal 7 Tahun