Loading...
    Banner Artikel Bruntusan pada Bayi: Ciri, Penyebab, dan Cara Menghilangkannya
    Kesehatan

    Bruntusan pada Bayi: Ciri, Penyebab, dan Cara Menghilangkannya

    Foto Reviewer

    Disusun oleh: Tim Penulis

    Ditinjau oleh: Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH

    Diterbitkan: 02 Mei 2023

    Diperbarui: 09 Juni 2026


    • Apa Itu Bruntusan pada Bayi?
    • Ciri-Ciri Bruntusan pada Bayi
    • Bruntusan pada Bayi, Normal atau Berbahaya?
    • Penyebab Bruntusan pada Bayi
    • Cara Membedakan Bruntusan pada Bayi
    • Bagaimana Cara Menghilangkan Bruntusan pada Bayi?
    • Kapan Harus ke Dokter?
    • Cara Mencegah Bruntusan pada Bayi

    Bruntusan pada bayi biasanya berupa bintik-bintik kecil berwarna merah atau putih yang muncul karena kulit bayi masih sensitif. Kondisi ini sering terjadi di area wajah atau lipatan kulit dan dapat dipicu oleh biang keringat, jerawat bayi, maupun iritasi ringan. Umumnya tidak berbahaya dan bisa membaik sendiri dengan menjaga kulit bayi tetap bersih, kering, memakai sabun khusus bayi yang lembut, serta menghindari pakaian yang terlalu tebal atau panas.

    Apa Itu Bruntusan pada Bayi?

    Bruntusan adalah kondisi umum kulit yang ditandai dengan sekelompok kecil bintik-bintik kemerahan atau putih kecil menonjol.

    Ketika disentuh, kulit yang bruntusan terasa kasar dan tidak rata. Bruntusan juga umumnya disertai rasa gatal yang amat hebat.

    Bruntusan biasanya muncul pada area wajah seperti pipi dan dahi atau daerah lipatan kulit seperti siku dalam, leher, kaki, tangan, selangkangan, dan daerah kulit lainnya. 

    Ciri-Ciri Bruntusan pada Bayi

    Tanda bruntusan bisa berbeda-beda tergantung jenis yang dialami bayi dan penyebabnya. Ada bruntusan yang tidak menimbulkan tanda selain kemerahan, tapi ada juga yang menimbulkan iritasi bahkan hingga disertai gejala lainnya. 

    Berikut ciri-ciri bruntusan pada bayi yang sering muncul, termasuk gejala lain yang bisa menyertainya: 

    • Kemerahan atau perubahan warna kulit.
    • Timbul jerawat atau benjolan.
    • Bintik-bintik datar atau menonjol.
    • Bercak kuning dan bersisik.
    • Kulit gatal dan kering.
    • Lepuh berisi cairan.
    • Gejala pilek, seperti batuk dan pilek.
    • Demam.
    • Tidak selalu disertai gatal, tergantung penyebabnya. 

    Bruntusan pada Bayi, Normal atau Berbahaya?

    Bruntusan pada bayi tidak selalu berbahaya. Kondisi ini termasuk normal, misalnya jerawat bayi yang biasanya muncul sebagai bintik kecil putih atau kemerahan di wajah dan dapat hilang sendiri. 

    Jika bruntusan tampak seperti seperti biang keringat dan eksim, tetap perlu diperhatikan karena bisa membuat kulit bayi merah, gatal, atau iritasi bila tidak dirawat dengan baik. 

    Namun, ada kondisi bruntusan yang berbahaya dan perlu segera diperiksakan ke dokter, seperti:

    • Demam. 
    • Lepuhan berisi cairan. 
    • Luka menyebar. 
    • Bayi tampak lemas, 

    Pada kondisi ini, sebaiknya jangan tunda untuk memeriksakan si Kecil ke dokter karena bisa jadi tanda infeksi seperti campak, cacar, atau hand, foot, and mouth disease (HFMD).

    Baca Juga: 21 Penyebab dan Cara Menghilangkan Alergi pada Bayi

    Penyebab Bruntusan pada Bayi

    Wujud dan lokasi kemunculan bruntusan bisa berbeda-beda tergantung dari penyebabnya. Lalu, apa saja penyebab bruntusan pada bayi? Kondisi berikut bisa jadi pemicunya:

    1. Jerawat 

    Jerawat pada bayi biasanya muncul dalam 2-4 minggu setelah kelahiran.

    Bruntusan khas jerawat bayi tampak seperti benjolan kecil berwarna merah atau putih yang timbul di pipi, hidung, dan dahi.

    Jerawat pada bayi sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, karena akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 3-4 bulan.

    2. Eksim

    Bruntusan pada bayi juga bisa disebabkan oleh eksim.

    Eksim sering terjadi pada bayi di bawah 6 bulan. Bayi yang kondisi kulitnya kering, sensitif, atau memiliki alergi lebih rentan mengalami eksim.

    Eksim adalah peradangan kulit dengan gejala bercak bruntusan merah yang gatal, kering, bersisik, dan kadang terasa nyeri atau panas.

    Eksim biasanya terlihat di dada, lengan, kaki, wajah, lipatan siku, dan lipatan lutut.

    3. Biang Keringat

    Biang keringat adalah salah satu penyebab bruntusan pada bayi. Biang keringat atau miliaria terjadi karena keringat yang terperangkap di bawah kulit karena pori-pori tersumbat. 

    Biang keringat terlihat seperti benjolan kecil berwarna merah yang biasanya muncul di leher, bahu, dada, ketiak, lipatan siku dan lipatan paha. 

    4. Milia 

    Hampir 50% dari bayi yang baru lahir mengalami milia, yaitu bruntusan berwarna putih bening berukuran 1-2 mm. Bruntusan ini umumnya muncul pada wajah bayi, terutama area sekitar hidung, dagung, atau pipi, tapi biasanya tidak menimbulkan gatal.

    Mama tidak perlu khawatir ketika si Kecil mengalami gangguan kulit ini, sebab sebenarnya milia tidak berbahaya dan tidak membuat bayi merasa gatal maupun kesakitan. 

    MIlia muncul karena pori-pori bayi tersumbat oleh kulit mati dan akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 1-4 minggu. 

    5. Penyakit Tangan, Kaki, dan Mulut (HFMD)

    Penyakit tangan, kaki, dan mulut (HFMD) dikenal juga dengan flu Singapura. Penyakit ini disebabkan oleh virus Coxsackievirus dan Human Enterovirus 71 (HEV 71). 

    HMDF sendiri rentan menyerang anak usia kurang dari 5 tahun dan sifatnya sangat menular. Ketika virus sudah menginfeksi, bruntusan akan timbul di area jari, telapak tangan, atau telapak kaki.

    Selain itu, Mama mungkin akan melihat bintik-bintik di mulut anak atau lepuh kecil di bagian belakang tenggorokan si Kecil.

    HFMD biasanya akan sembuh sendiri dalam 7-10 hari. Namun, jika timbul gejala yang lebih parah, sebaiknya konsultasikan ke dokter anak.

    6. Ruam Popok

    Gejala ruam popok juga bisa berwujud bruntusan pada bayi.

    Ketika mengalami ruam popok (diaper rash), kulit di sekitar selangkangan dan pantat bayi akan berwarna kemerahan dan terlihat bersisik. Ruam akan terasa perih dan akan terasa nyeri ketika ditekan. 

    Ruam popok disebabkan oleh pemakaian popok yang terlalu lama, terlalu ketat, atau terlalu lembap karena jarang diganti.

    Pada area kulit yang tertutup popok, akan timbul iritasi atau infeksi jamur dan bakteri karena kondisi kulit yang lembap.

    Maka, pastikan selalu rutin mengganti popok agar area bokong bayi selalu bersih dan kering. 

    7. Cacar Air

    Cacar air termasuk penyakit infeksi menular yang gejala khasnya adalah bruntusan.

    Bruntusan akibat cacar air biasanya pertama kali muncul di kulit kepala, dada, punggung, wajah, dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh.

    Gejala cacar air bisa terasa sangat gatal dan berlangsung sekitar 2 minggu. Gejala lain juga biasanya akan muncul, seperti demam, mata merah dan sakit tenggorokan.

    Penyakit cacar air dapat dicegah dengan imunisasi cacar atau vaksin varicella.

    Baca Juga: Jadwal Imunisasi Bayi Lengkap 2026 dari IDAI (0-12 Bulan) 

    8. Campak

    Penyakit campak terjadi karena infeksi Morbili Virus yang sangat menular. Campak dapat menyebabkan bruntusan yang dimulai dari wajah, lalu terlihat di belakang telinga atau sekitar mulut.

    Penyakit ini juga biasanya diawali dengan hidung tersumbat, mata merah, bengkak, dan berair, batuk, lesu, dan demam tinggi.

    Campak bisa dicegah dengan vaksin campak atau vaksin MMR. Vaksin ini mulai diberikan pada bayi berusia 9 bulan. 

    9. Roseola

    Roseola kerap menyerang bayi usia 6-24 bulan. Gangguan kulit ini menyebabkan si Kecil mengalami demam tinggi dan bisa bertahan hingga 7 hari.

    Setelah demam reda, bruntusan akan muncul di dada atau perut si Kecil. Bruntusan ini juga bisa menyebar ke lengan dan leher. Namun, bruntusan akibat roseola akan memudar dalam 24 jam.

    10. Dermatitis Seboroik

    Masalah kulit dermatitis seboroik ini juga disebut dengan cradle cap.

    Biasanya akan terlihat seperti bercak bersisik, berwarna kekuningan, dan berkerak di kepala bayi. Cradle cap seringnya muncul pada bayi berusia 2 atau 3 bulan.

    Masalah kulit ini tidak berbahaya bagi bayi, dan tidak menyebabkan gatal-gatal. Cradle cap bisa hilang sendiri dalam beberapa minggu tanpa pengobatan.

    11. Biduran

    Biduran atau urtikaria merupakan gangguan kulit dengan bentuk bentol-bentol merah seperti bekas digigit nyamuk. Rasanya gatal dengan sensasi panas sehingga terasa sangat tidak nyaman. 

    Pada umumnya, bruntusan karena biduran muncul tanpa sebab yang jelas dan akan hilang dengan sendirinya dalam hitungan jam atau hari.

    Dalam beberapa kasus biduran juga bisa muncul karena si Kecil alergi dengan zat tertentu seperti debu, makanan, bulu binatang, karet yang ada di lengan bajunya, hingga pewangi sabun cuci baju. 

    12. Ringworm (Kurap)

    Ringworm atau kurap adalah infeksi jamur yang menyebabkan bruntusan dengan bentuk merah melingkar. Mama perlu waspada karena kurap sifatnya sangat mudah menular. 

    Bruntusan akibat ringworm umumnya berupa ruam merah bersisik dan bintik-bintik kecil di area kulit kepala atau wajah, dan lipatan selangkangan atau ketiak. Terkadang terlihat menyerupai kondisi kulit dengan eksim atau dermatitis atopik. 

    Bedanya, lama-kelamaan ruam merah membentuk lingkaran dengan kulit berwarna putih di tengahnya. Rasanya gatal dan nyeri sehingga dapat membuat si Kecil merasa tidak nyaman.

    Bagi sebagian besar bayi, kurap termasuk infeksi kulit ringan. Namun, tanpa pengobatan yang tepat infeksi ini bisa menyebar dan menyebabkan infeksi yang lebih serius.

    Cara Membedakan Bruntusan pada Bayi

    Setiap penyebab bruntusan yang dialami bayi bisa memunculkan gejala yang berbeda-beda. Agar Mama lebih mudah mengenalinya, berikut cara membedakan kondisi bruntusan yang si Kecil alami:

    • Bintik putih kecil, tidak gatal, tidak meradang: kemungkinan milia yang nantinya akan hilang.
    • Bintik merah, terasa gatal, muncul di lipatan kulit atau area berkeringat: bisa mengarah pada biang keringat atau eksim.
    • Kemerahan disertai kulit kering atau bersisik: cenderung muncul sebagai gejala eksim.
    • Ruam menyebar disertai demam atau bayi rewel/lemas: sebaiknya waspada karena bisa jadi tanda infeksi, seperti campak atau HFMD.
    • Muncul lepuhan berisi cairan atau luka pada bruntusan: sebaiknya segera periksa ke dokter untuk mengetahui secara pasti penyebabnya.

    Bagaimana Cara Menghilangkan Bruntusan pada Bayi?

    Pengobatan bruntusan umumnya tergantung dari penyebab utamanya. Sebagai contoh, jika bruntusan disebabkan cacar atau campak, obatnya adalah antivirus untuk membunuh virus penyebabnya. 

    Meski demikian, ada berbagai cara yang bisa Mama lakukan untuk mengatasi bruntusan secara cepat pada bayi sebagai berikut:

    • Gunakan sabun mandi khusus bayi untuk menghindari terjadinya eksim pada si Kecil.
    • Pakailah sabun deterjen tanpa pewangi yang dirancang untuk kulit sensitif.
    • Untuk menghindari biang keringat, gunakan pakaian longgar dari bahan katun untuk bayi.
    • Kompres basah untuk meredakan gejala eksim
    • Jaga kebersihan area popok dan pastikan selalu kering agar bayi terhindar dari ruam popok.
    • Oleskan krim yang mengandung zinc oxide pada area popok untuk melindungi kulit bayi dari iritasi. Setelah mengoleskan krim, tunggu sampai benar-benar kering.
    • Jaga suhu udara tetap sejuk dengan menyalakan AC atau kipas angin. Jangan arahkan anginnya langsung ke badan bayi, ya.
    • Jauhkan zat-zat yang menimbulkan alergi dari bayi.
    • Jika disebabkan oleh infeksi jamur, obatnya adalah krim antijamur yang diresepkan dokter dan menjaga area yang terinfeksi tetap kering.

    Jangan ragu untuk berkonsultasi lebih lanjut ke dokter jika kondisi si Kecil tidak kunjung membaik setelah Mama mencoba berbagai cara mengatasi bruntusan pada bayi.

    Baca Juga: Penyebab Ruam Alergi pada Anak, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

    Kapan Harus ke Dokter?

    Meski kadang menimbulkan gejala yang kurang nyaman, kebanyakan bruntusan pada bayi sebenarnya tidak berbahaya dan bisa sembuh dengan perawatan sederhana di rumah. 

    Hanya saja, sebaiknya jangan tunda untuk memeriksakan si Kecil ke dokter bila bruntusan disertai gejala berikut ini:

    • Membuat kulit terasa nyeri, gatal parah, atau melepuh.
    • Tidak memudar saat ditekan.
    • Terlihat terinfeksi, seperti benjolan bengkak atau berisi nanah.
    • Tidak hilang setelah diberikan perawatan.
    • Kondisinya memburuk setelah mendapat perawatan.
    • Berlangsung lebih dari 1 minggu.
    • Bruntusan disertai demam tinggi dan pembengkakan kelenjar.
    • Bayi sangat rewel. 
    • Kemerahan di kulit menyebar dengan cepat. 
    • Tampak bernanah. 
    • Mengalami kesulitan bernapas, sesak napas, atau bernapas sangat cepat.
    • Kulit, bibir, atau lidahnya tampak pucat berwarna kebiruan atau berbintik-bintik.

    Butuh insight dari ahli di tengah kesibukan? Jangan ragu untuk diskusi langsung dengan Nutriclub Expert Advisor – tim ahli terpercaya di bidang nutrisi, parenting, dan tumbuh kembang anak. Hadir 24/7 untuk bantu Mama, gratis dan tanpa perlu buat janji.

    Cara Mencegah Bruntusan pada Bayi

    Sebelum muncul dan membuat bayi tidak nyaman, bruntusan sebenarnya bisa dicegah dengan cara:

    • Menghindari pemicu, seperti alergen.
    • Menerapkan kebersihan diri dan lingkungan yang baik.
    • Rajin mencuci tangan. 
    • Tidak menggaruk luka pada kulit.
    • Selalu menutup ketika batuk dan bersin dengan siku bagian dalam.
    • Menghindari orang lain saat sedang sakit.

    Beberapa penyakit infeksi, seperti campak, cacar, dan HFMD, juga dapat menimbulkan gejala berupa bruntusan pada kulit. Mama bisa mencegah infeksi ini pada si Kecil dengan memberikan vaksinasi sesuai jadwal.

    Itulah berbagai kemungkinan penyebab bruntusan si Kecil yang tidak hanya karena masalah kulit, tapi bisa karena kondisi medis lainnya. Konsultasikan lebih lanjut ke dokter bila gejala yang si Kecil alami tampak memburuk ya, Ma.

    Dari pola tidur hingga perawatan kulit sensitif, newborn membutuhkan perhatian khusus. Daftar sebagai member Nutriclub sekarang dan dapatkan panduan lengkap perawatan bayi baru lahir yang terpercaya dan sesuai tahapan usia. Mama juga bisa akses NutriShop dengan lebih mudah.

    Informasi yang Wajib Mama Ketahui

    Pilih Artikel Sesuai Kebutuhan Mama
    1. NHS Inform Editorial Team. (2026, April 7). Skin rashes in children | NHS inform. NHS Inform. https://www.nhsinform.scot/illnesses-and-conditions/skin/rashes-irritation-and-swelling/skin-rashes-in-children/
    2. Mayo Clinic Editorial Team. (2024). ‌Common baby rashes. Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/infant-and-toddler-health/in-depth/baby-rashes/art-20546833
    3. ‌IDAI | Daftar Pertanyaan Seputar Imunisasi Campak/Measles dan Rubella (MR). (2017). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/daftar-pertanyaan-seputar-imunisasi-campak/measles-dan-rubella-mr
    4. What are those bumps on my child’s skin? (2013). Aad.org. https://www.aad.org/public/everyday-care/itchy-skin/rash/rashes-cause-bumps
    5. ‌Goldman, R. (2022, September 29). Baby Acne or Rash? 6 Types and How to Treat Them. Healthline; Healthline Media. https://www.healthline.com/health/childrens-health/baby-acne-or-rash#baby-acne
    6. Common Skin Conditions & Rashes in Children: Causes & Treatment. (2022). Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/6951-skin-conditions-in-children
    7. ‌Dix, M. (2019, January 16). How to Spot and Take Care of Your Baby’s Rash. Healthline; Healthline Media. https://www.healthline.com/health/how-to-spot-and-take-care-of-your-babys-rash#pictures
    8. ‌Jerome, S. (2006, March 15). Your Newborn’s Skin and Rashes. WebMD; WebMD. https://www.webmd.com/parenting/baby/baby-skin-rashes
    9. ‌WebMD. (2006, May 24). Bacterial and Viral Rashes. WebMD; WebMD. https://www.webmd.com/children/guide/skin-rashes-in-children-treatment
    10. LEMBAR INFORMASI VAKSIN Vaksin Varicella (Cacar Air). https://www.immunize.org/vis/indonesian_varicella.pdf
    11. ‌CDC. (2023, May 11). Hand, Foot, and Mouth Disease. Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/index.html
    12. IDAI | Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD). (2016). Idai.or.id. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/hand-foot-mouth-and-disease-hfmd
    13. Diaper Rash (for Parents) - Nemours KidsHealth. (2023). Kidshealth.org. https://kidshealth.org/en/parents/diaper-rash.html
    14. Clinic, C. (2022). Hives (Urticaria) in Children: Causes, Treatment & Pictures. Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/symptoms/22454-hives-in-children
    15. Nall, R. (2016, March 14). Ringworm in Babies: Diagnosis, Treatment, and Prevention. Healthline; Healthline Media. https://www.healthline.com/health/parenting/ringworm-in-babies#prevention
    16. Images of Childhood Skin Problems. WebMD. (2023) https://www.webmd.com/children/ss/slideshow-common-childhood-skin-problems
    17. Skin rashes in babies. (2017, November 27). Nidirect; nidirect. https://www.nidirect.gov.uk/conditions/skin-rashes-babies#toc-8
    18. Milia. (2021, September). Raising Children Network. https://raisingchildren.net.au/guides/a-z-health-reference/milia
    19. Rohit Garoo. (2016, January 28). Rashes In Babies: 22 Common Causes, Symptoms & Treatments. MomJunction. https://www.momjunction.com/articles/skin-rashes-in-babies_00388497/
    Artikel Terkait

    Keuntungan Daftar Nutriclub

    Icon Info & Tips Eksklusif via WA

    Info & Tips Eksklusif via WA

    Panduan tumbuh kembang bulanan si Kecil langsung di genggaman Mama

    Icon 24/7 Nutriclub Expert Advisor

    24/7 Nutriclub Expert Advisor

    Hubungi ahli untuk pertanyaan seputar nutrisi, tumbuh kembang, dan informasi terkait Nutriclub melalui Whatsapp/call center

    Gabung Nutriclub

    *yang sudah terhubung dengan WhatsApp
    Minimal 8 Karakter, Memiliki 1 angka (0-9) dan 1 karakter spesial (@#$%^&)
    *Usia si Kecil Maksimal 7 Tahun